Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi WasteShark (Foto: Dok. RanMarine Technology)

Sebuah perusahaan di Rotterdam, Belanda, membuat terobosan baru berupa robot hiu bernama WasteShark yang bisa memakan beragam jenis sampah di sungai. Robot ini, dinilai bisa menampung sampai 21.000 botol plastik per hari.

RanMarine Technology, sebuah perusahaan asal Belanda membuat sebuah inovasi berupa robot pembersih air yang dinamakan WasteShark.

Mengutip dari Euronews.green, WasteShark adalah penyedot debu kecil yang didesain untuk membersihkan permukaan air dari sampah, lalu dikembalikan ke pantai untuk didaur ulang atau dibuang secara bertanggung jawab. Jika dilihat dari jauh, WasteShark mirip dengan kapal listrik mainan yang canggih.

CEO dan Pendiri RanMarine Technology Richard Hardiman menjelaskan, idenya untuk membuat robot pembersih air, muncul setelah dirinya melihat dua orang pria yang berjuang untuk menangkap sampah dari perahu mereka di Cape Town, Afrika Selatan.

“Mereka membersihkan sedikit sampah di satu area dan angin meniup semuanya. Bagi saya, itu terlihat sangat tidak efektif,” ujar Hardiman, dikutip Senin (3/4).

Kemudian, Richard sempat menyelam di Mozambik, Afrika, dan dirinya melihat hiu paus yang memiliki mulut yang besar. Hiu tersebut, umumnya menyendok apa pun yang ada di depannya, menelannya, dan menahannya di perutnya. Melihat hal tersebut, Hardiman pun menamakan temuannya dengan nama WasteShark.

“Saya menyamakannya dengan Roomba untuk air. Ini adalah mesin otonom yang menyedot polusi dari air di permukaan,” lanjut Hardiman.

WasteShark dibekali dengan tenaga baterai yang bisa menempuh jarak hingga 5 km, atau sekitar 8-10 jam waktu pembersihan hanya dengan menggunakan satu baterai.

Biasanya, WasteShark bisa ‘memakan’ sekitar 500 kg sampah, atau setara dengan menenggak sekitar 21.000 botol plastik. Adapun sampah yang dimaksud bisa berupa plastik, puing-puing, atau biomassa seperti alga.

Setiap sampah yang terkumpul di perut robot ini, nantinya akan dibawa kembali ke pantai, dipilah, dan didaur ulang. atau dibuang secara bertanggung jawab.

Tidak hanya mengumpulkan sampah. Saat membersihkan air, WasteShark juga mengumpulkan sampel kualitas air.

“Kami mengumpulkan data kualitas air dari seluruh dunia dan menggabungkannya, (sehingga kami dapat melihat) seperti apa kualitas air pada minggu lalu, bahkan tahun lalu. Apakah airnya semakin bersih? Apakah itu berubah? Apakah ada potensi ganggang untuk berkembang?” jelas Hardiman.

Hardiman menjelaskan, setiap produk WasteShark yang ada di dalam air terhubung melalui koneksi 4G dan 5G.

Nantinya, robot ini akan mengirimkan data kualitas air ke server mereka, seperti data kekeruhan, salinitas, suhu, keseimbangan pH, dan kedalaman air.

WasteShark juga tidak menghasilkan karbon, kebisingan, atau polusi cahaya saat beroperasi. Robot ini sangat sunyi, sehingga tidak menimbulkan ancaman bagi satwa liar, dan dirancang untuk membersihkan saluran air dari sampah plastik dan memastikan plastik yang terkumpul bisa didaur ulang dan digunakan kembali.

“Bebek dan angsa berenang menjauh darinya. Kami tidak cukup cepat untuk menangkap ikan. Jadi ini benar-benar solusi berdampak rendah untuk menghilangkan polusi dari air,” jelas Hardiman.

Saat ini beberapa robot hiu milik RanMarine juga dioperasikan di distrik keuangan Canary Wharf yang ada di Sungai Thames, London. Menurut Hardiman, upaya ini merupakan bagian dari proyek untuk membersihkan area tersebut dan menjadikannya lingkungan yang lebih sehat dan lebih beragam hayati.

Berdasarkan statistik, ada sekitar 120.000 orang yang berkunjung setiap hari untuk bekerja atau berbelanja di sana.

Grup Canary Wharf, pengembang dan pengelola kawasan tersebut, telah melakukan banyak hal untuk mengurangi plastik sekali pakai. Namun, banyaknya orang yang membawa sampah bekas bungkus makanan atau gelas kopi, membuat sampah tersebut lebih mudah berakhir di air.

Saat ini, hanya 14% sungai di Inggris yang memenuhi status ekologis yang baik. Umumnya, perairan negara terganggu oleh polusi dari pertanian, limbah, jalan, dan plastik sekali pakai.

Faktanya, diperkirakan ada delapan juta ton plastik yang memasuki lautan kita setiap tahun, sebagian besar tersapu dari kota ke laut melalui sungai.

WasteSharks dapat dibeli dengan harga sekitar USD24.600 (Rp360 juta asumsi kurs Rp14.987), atau disewakan dengan harga sekitar USD1.232 (Rp18,5 juta) per bulan.

“Ini semacam impian kami untuk menyebarkan hal-hal ini di seluruh dunia untuk membersihkan saat kami sedang tidur, membuat perbedaan, dan mudah-mudahan memberi dampak pada lingkungan kita,” tutup Hardiman.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: