Bhante Wawan (Foto: DAAI TV)
Untuk menyambut Waisak 2567 BE Tahun 2023 pada 4 Juni mendatang, sebanyak 32 bhante melakukan ritual thudong dari Thailand menuju Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Dimulai sejak 23 Maret 2023 di Nakhon Si Thammarat, Thailand, 32 bhante yang berasal dari Thailand, Malaysia, dan Indonesia melakukan thudong atau perjalanan ritual melewati 4 negara, yakni Thailand, Malaysia, Singapura, hingga tiba di Batam, Indonesia, pada 8 Mei 2023.
Secara total, 32 bhante yang melakukan thudong ini diperkirakan menempuh jarak sejauh 2.606 KM selama 60 hari. Thudong sendiri, merupakan perjalanan ritual para bhante yang dilakukan dengan berjalan kaki ribuan kilometer.
Mengutip dari kanal YouTube DAAI Magazine, salah seorang bhikku asal Indonesia yang ikut dalam kegiatan ini, adalah Bhikku Kantadhammo, atau yang akrab disapa Bhante Wawan.
Ia mengaku, ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti ritual thudong yang kali ini melintasi empat negara.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi puncak ritual di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah para bhikku singgah ke Vihara Cetiya Panna Sikkha, Taman Palem Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (10/5) untuk bertemu umat beragama di sana.
Kedatangan mereka juga mendapatkan sambutan dari umat Buddha. Puluhan warga Buddha di Jakarta ini, juga melakukan berdana pindapata kepada 32 bhikku sangha atau bhante dari empat negara tersebut.

Adapun berdana pindapata, adalah ajaran Buddha yang menyerukan agar umat Buddha berbuat kebajikan dengan bersedekah kepada bhante yang sedang melakukan perjalanan.
Sedekah ini dilakukan pada dua sesi, yakni sesi memberikan makan pagi pada pukul 06.30 WIB, serta pukul 11.00 WIB untuk sesi pemberian makan siang kepada para bhante.
Selain makanan, umat yang datang juga memberikan jubah kaṭhina dan dana. Kehadiran ke-32 Bhante di Vihara Cetiya Panna Sikkha ini, untuk bersinggah, sebelum melakukan perjalanan Thudong lintas negara dan berakhir di Candi Borobudur saat perayaan Waisak 2567 BE Tahun 2023.
Pemuka Agama Buddha Asal Indonesia Bhante Wawan mengatakan, acara ini dihadirkan untuk memperkenalkan bhikku kamatana dan selama ini masih ada yang mempertahankan tradisi dari Buddha Gautama.
“Kedua, saya mau memperkenalkan bahwa inilah toleransi antar umat beragama di Indonesia untuk menyambut hari Waisak. Ritual thudong ini kita ada dua macam, yakni thudong ysng biasanya di hutan dan di jalan. Kalau di jalan, kita ada dua jenis juga, yakni tanpa waktu dan ada waktu,” ujar Wawan kepada DAAI TV, dikutip Senin (15/5).
Di dalam ajaran Buddha, tradisi thudong memang dilakukan para bhikku atau bhante untuk menjaga tradisi yang pernah dilakukan oleh Buddha, sekaligus sarana menyebarkan toleransi antar umat beragama.

Pemuka Agama Budhha asal Thailand Bhante Witjai mengaku, dirinya merasa senang saat pertama kali datang ke Indonesia untuk melakukan thudong.
“Persepsi saya saat pertama kali datang ke Indonesia bukan hanya tentang para bhikku, tetapi juga tentang beragam agama yang ada, salah satunya muslim. Mereka hidup berdampingan dengan rukun untuk bangsa dan kesatuan untuk bangsa dan saya sangat terkesan,” tutup Bhante Witjai.

