The Restaurant of Mistaken Orders (Foto: mistakenorders.com)
The Restaurant of Mistaken Orders, di Tokyo, Jepang, mempekerjakan pramusaji lansia yang mengidap demensia, sehingga mereka kerap salah mencatat pesanan pelanggan.
The Restaurant of Mistaken Orders, adalah sebuah restoran pop-up di mana makanan yang dipesan pelanggan dan makanan yang diantarkan terkadang salah.
Mengutip dari Japan Go, restoran pop-up ini diinisiasi oleh seorang sutradara televisi bernama Shiro Oguni saat mengunjungi panti jompo yang berisi lansia pengidap demensia.
Demensia adalah suatu kondisi menurunnya cara berpikir dan daya ingat seseorang yang biasanya terjadi pada lansia. Akibatnya, mereka kesulitan mengingat hal-hal dalam jangka pendek.
Oguni mengaku, sama seperti kebanyakan orang lainnya, pengetahuan dirinya terkait penyakit demensia cenderung mengarah pada gambaran negatif tentang orang-orang yang pelupa dan sering berkeliaran tanpa tujuan.

“Namun, sebenarnya mereka bisa memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, berbelanja, dan melakukan hal-hal ‘normal’ lainnya untuk diri mereka sendiri,” ujar Oguni dikutip dalam keterangannya, Senin (11/9).
Saat berkunjung, Oguni menyempatkan waktu untuk memesan makan siang. Saat itu, Oguni memesan roti lapis, tetapi Oguni justru disajikan sepiring gyoza.
Oguni pun merasa bingung dan bertanya-tanya apakah mungkin pesanannya salah. Pasalnya, semua orang di sekitarnya makan dengan lahap.
Bukannya marah atau kecewa, Oguni berpiki untuk tetap menghormati makanan yang sudah diantarkan kepadanya dan menerima gyoza tersebut.
Oguni berkata, “Mengapa kita harus mengangkat alis saat melihat perbedaan antara roti dan gyoza? ‘Jadi itu adalah sebuah kesalahan, ya sudah, tidak apa-apa’. Melalui toleransi seperti itu, suasana bersantap bisa menjadi santai dan menyenangkan.”

Dari situlah, Oguni mengonsepkan sebuah restoran pop-up dengan para pekerja lansia yang mengidap demensia. Restorannya pun diberi nama The Restaurant of Mistaken Orders atau yang berarti restoran salah pesanan.
“Restoran ini bukan tentang salah atau tidaknya pesanan. Hal yang penting, adalah interaksi antara pelanggan dan orang-orang yang menderita demensia,” kata Oguni.
Meskipun berhasil menjadi restoran yang tidak pernah berhenti menimbulkan tawa, tetapi Oguni sempat khawatir dengan kritik pedas yang mungkin muncul.
Namun, ketika para tamu melihat senyum para pramusaji pengidap demensia dan kegembiraan yang memotivasi pekerjaan mereka, para pelanggan pun merasakan semangat keberanian, bahkan mereka bisa terharu hingga menangis.

Para pramusaji pun terlihat sangat bersemangat dan kerap mengatakan, “Saya masih mampu. Hal ini membuat saya percaya diri.”
Melalui restoran ini, citra negatif tentang demensia digantikan dengan citra positif yang menyenangkan.
Pada salah satu momen, sebanyak 37% pesanan yang dicatat oleh pramusaji salah. Meski demikian, 99% tamu mengaku merasa bahagia dan 95% tamu bisa mengerti bagaimana keadaan para penderita demensia tersebut.
Oguni mengatakan, proyek ini tidak hanya diinisiasi agar pelanggan bisa menjadi lebih memahami dan merangkul mereka yang menderita demensia. Lebih jauh lagi, Oguni mencoba menunjukkan bagaimana seseorang bisa bersikap baik kepada satu sama lain, terlepas dari kekurangannya.

“Memanggil seseorang dengan sebutan ‘Nyonya Whozit yang pikun‘, akan sangat berbeda jika seseorang memanggil dengan sebutan ‘Nyonya Whozit yang menderita demensia‘. Demensia bukanlah identitas diri seseorang, tetapi hanya bagian dari diri mereka. Manusia tetaplah manusia. Perubahan tidak akan datang dari mereka, melainkan dari masyarakat,” kata Oguni.
The Restaurant of Mistaken Orders dimulai pada 2017 dan hanya muncul di beberapa kesempatan saja. Restaurant of Mistaken Orders bahkan pernah muncul di restoran Ryuko yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang pada tahun 2019.
Tidak hanya itu, restoran pop-up ini juga memenangkan beberapa penghargaan nasional dan Internasional.
“Dengan memupuk toleransi, hampir semua hal dapat diselesaikan. Citra ‘Jepang yang Sejuk‘ baru-baru ini mengumpulkan banyak antusiasme, tetapi saya pikir citra ‘Jepang yang Hangat‘ juga sama pentingnya. Saya ingin mempromosikan Jepang yang membudidayakan lingkungan yang hangat dan nyaman, sehingga orang-orang akan pulang ke rumah dengan senyuman dan cahaya di hati mereka,” tutup Oguni.

