Ilustrasi makam Kapitan Oey Kiat Tjin (Foto: Facebook/Nicholas Rafaelito)
Perayaan cheng beng adalah salah satu tradisi penting bagi masyarakat keturunan Tionghoa. Selain memberikan penghormatan kepada leluhur, tradisi ini juga merupakan salah satu cara untuk menunjukkan bentuk rasa bakti
Pada saat perayaan cheng ben, warga etnis Tionghoa akan pulang ke kampung halaman untuk berziarah ke makam leluhur, sebagai wujud rasa bakti dan hormat. Tidak hanya sekadar berdoa, tetapi mereka juga akan membersihkan dan mempercantik makam leluhurnya.
Hal inilah yang dilakukan komunitas Cide Kode Benteng. Demi menyambut perayaan cheng beng, komunitas ini melakukan ziarah kubur ke makam Kapitan Oey Kiat Tjin.
Cide Kode Benteng adalah komunitas yang berkomitmen penuh untuk melestarikan budaya, terutama budaya Cina Benteng bagi generasi muda.
Tidak luput dari rasa cinta budaya, Cide Kode Benteng juga ingin mewariskan nilai nasionalis dan humanis pada anggotanya.
Adapun Kapitan Oey Kiat Tjin adalah kapitan terakhir di Tangerang. Kapitan Cina, merupakan sebuah jabatan pemerintah yang ada pada zaman kolonial Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Jabatan tersebut, memiliki beragam tingkat kekuasaan, tergantung pada keadaan sejarah dan sosial. Mulai dari otoritas yang nyaris berdaulat dengan kekuasaan hukum, politik dan militer, hingga gelar kehormatan untuk seorang pemimpin masyarakat.
Makam Kapitan Oey Kiat Tjin, terletak di Jalan Cinda No. 22, RT 001/RW 003, Nusa Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.
Mirisnya, saat dikunjungi ternyata kondisi makam tersebut cukup memprihatinkan dan tidak terawat. Batu nisan (bongpay) penuh coretan, bahkan bagian badannya dijadikan tempat sampah. Diketahui, makam Kapitan Oey Kiat Tjin tidak ada yang mengurus, bahkan keluarganya.
Anggota Ikatan Alumni Cide Kode Benteng Inggrit Laurenza mengatakan, kunjungan ke makam Kapiten Oey Kiat Tjin dilakukan dalam rangka menyambut cheng beng.
“Tecua ini diadakan sebelum tanggal 5 April, jadi karena ini sudah masuk minggunya, kita canangkanlah berkunjung ke makam yang mana beliau adalah kapiten terakhir di Tangerang. Sebagai komunitas anak muda yang mewadahi atau menjadi tempat belajar kebudayaan Tionghoa Benteng, kita wajib berbakti kepada salah satu leluhur kita ini,” ujar Inggrit kepada DAAI TV, dikutip Rabu (5/4).
Ironisnya, makam yang awalnya merupakan tempat persemayaman, saat ini telah menjadi pelataran parkir mobil. Terlebih lagi, lokasi makam telah menjadi sasaran vandalisme.
Sekeliling lokasi makam telah dipenuhi oleh rerumputan liar dan sampah yang berserakan. Di depan makam, hanya tersisa patung singa dan ornamen dengan ukiran yang terlihat samar. Batu nisan juga telah dipenuhi dengan kotoran dan corat-coret, tetapi tulisannya masih dapat dibaca.
Melihat kondisi tersebut, komunitas Cide Kode Benteng pun mulai menyiapkan peralatan masing-masing dan bergotong-royong membersihkan makam.

Sebagai informasi, Kapitan Oey Kiat Tjin, merupakan anak sulung dari Oey Djie San yang merupakan Kapitein der Chinezen atau Kapitan Cina di Tangerang.
Berasal dari kabupaten Changtai, Zhangzhou, Fujian, Kapitan Oey Kiat Tjin mempunyai 3 anak laki-laki dan 3 anak perempuan.
Pada tahun 1928, Oey Kiat Tjin ditunjuk menjadi kapitan cina terakhir di Tangerang. Keluarga Oey sendiri, merupakan tuan tanah yang kepemilikannya dimulai dari Karawaci sampai Cilongok, Pasar Kemis.
Pada batu nisannya, tertulis bahwa ia meninggal pada tahun Zhōnghuá Míngúo/Republik China ke-25 atau 1936 tahun tikus api.
Selain itu, terdapat sepasang kalimat pujian di samping batu nisan Kapitan Oey Kiat Tjin. Pada sisi kanan, tertulis ‘menjaga kelakuan diri sendiri seperti memegang batu giok’, sedangkan pada sisi kiri tertulis ‘mengumpulkan kebajikan dan memberi warisan kekayaan’.
Kapitan Oey Djie San meninggal pada tanggal 11 Oktober 1925 di Karawatji, Tangerang. Sepeninggal ayahnya, Kapitan Oey Kiat Tjin pun menggantikan perannya sebagai Landheer Karawatji, tuan tanah atau pemilik tanah partikelir (particuliere landerij). Sampai akhirnya pada tahun 1928 sebagai Kapitein der Chinazen Tangerang yang terakhir.
Menurut catatan sejarah, pada tahun 1926 Kapitan Oey Kiat Tjin tergabung sebagai anggota Asosiasi Pertanian Tangerang yang diketuai oleh Hok Hoei Kan.
Beliau menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Eropa. Pada saat menjabat, beliau berusia 37 tahun.
Nama Oey Kiat Tjin juga tercantum dalam Asosiasi Panitia Pasar Gambir di Batavia sebagai anggota sub-komite hiburan tahun 1931.
Kabarnya, situs makam bertarikh tahun 1936 ini, telah disurvei tim ahli cagar budaya dan dinyatakan memiliki nilai sejarah bagi Kota Tangerang. Makam ini diharapkan dapat mendapatkan perlindungan dan tidak lagi menjadi sasaran vandalisme.

