Kios pupuk Pak Naman. (Foto: Refleksi DAAI TV).
Pak Naman sedang berbincang dengan petani di wilayahnya. (Foto: Refleksi DAAI TV).
Pak Naman sedang merawat tanamannya. (Foto: Refleksi DAAI TV).
DAAI TV melalui program Refleksi episode “Guru dari Pematang” berhasil meraih Juara 2 kategori Video/TV dalam ajang kompetisi Pupuk Indonesia Media Award 2025 (PIMA).
Penghargaan yang diselenggarakan oleh PT Pupuk Indonesia (Persero) ini, diumumkan pada 20 Februari 2026 lalu.
Tema PIMA 2025 kali ini adalah “Membangun Industri Pupuk yang Kuat untuk Pangan Berdaulat”.
Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Indonesia Indonesia Persero Yehezkiel Adiperwira mengatakan, karya jurnalistik pemenang adalah karya terbaik yang menggambarkan peran strategis Pupuk Indonesia dalam mendukung penyediaan pupuk subsidi untuk mendukung program swasembada pangan nasional.
“Kami berharap, kompetisi jurnalistik Pupuk Indonesia ini dapat menjadi sarana strategis untuk edukasi kepada publik. Tidak hanya wartawan, tetapi juga petani. Karena saat ini ada banyak perubahan dan perbaikan dalam tata kelola subsidi pupuk yang perlu diketahui oleh masyarakat luas,” ujar Yezki dikutip dalam keterangannya, Rabu (25/2).
Ajang penghargaan ini diikuti oleh 558 karya dari 335 jurnalis seluruh Indonesia, untuk memperebutkan 6 kategori, menjadikannya kompetisi yang ketat dan bergengsi di bidang karya jurnalistik.
Capaian ini menjadi pengakuan atas konsistensi DAAI TV dalam menghadirkan tayangan yang informatif, inspiratif, dan berdampak sosial.
Mengangkat Kisah Petani dalam Mengatasi Kelangkaan Pupuk
Episode “Guru dari Pematang” merupakan karya Riandi Akbar dan Rezki Adrian yang mengangkat kisah Naman, seorang petani di Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, yang berinisiatif membangun kios pupuk kolektif untuk mengatasi kelangkaan pupuk subsidi di wilayahnya.
Berangkat dari keresahan bersama, langkah sederhana tersebut menjadi solusi nyata bagi para petani sekitar wilayah tersebut.
Melalui video ini, Akbar dan Rezki ingin menyampaikan bahwa selama apa yang dikerjakan berlandaskan perasaan ikhlas dan niat untuk membantu sesama, maka pasti akan ada jalan baiknya.
Kisah ini menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari keberanian individu yang peduli pada komunitasnya.
“Pak Naman itu petani yang hebat, yang mau mengambil risiko dengan membuka kios pupuk dan sebagainya untuk memutus rantai pupuk subsidi yang sulit di dapat di wilayahnya. Sementara, beliau sama sekali tidak punya basic dan pengalaman dalam berdagang,” jelas Riandi Akbar tentang Pak Naman.
Melalui pendekatan humanis yang menjadi ciri khas DAAI TV, cerita tentang Naman tidak hanya menyoroti persoalan distribusi pupuk, tetapi juga memperlihatkan semangat gotong royong, kepemimpinan akar rumput, dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi tantangan.
Penghargaan ini menjadi penguat komitmen DAAI TV untuk terus menghadirkan konten yang memberikan solusi dan dampak bagi masyarakat.
Di tengah dinamika industri media yang terus berubah, DAAI TV percaya bahwa media yang baik bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan harapan dan inspirasi nyata.
“DAAI TV hadir sebagai media yang memberi solusi dan manfaat bagi kehidupan. Apresiasi ini adalah dukungan dari pihak eksternal untuk visi dan misi DAAI TV,” tutup Mika Wulan selaku Head of PR DAAI TV.
Karya “Guru dari Pematang” ini bisa disaksikan di DAAI+ atau di akun YouTube @daaitvindonesia.
Jangan lupa berikan likes dan tinggalkan komentar Anda sebagai bentuk dukungan untuk DAAI TV dalam menyebarkan kebaikan.

