Kaligrafi Tiongkok

Yayasan Peduli Anak (Foto: Instagram.com/pedulianak)

Chaim Fetter (42) merupakan warga Belanda yang membangun Yayasan Peduli Anak di Desa Langko, Lombok, Nusa Tenggara Barat, untuk memperjuangkan pendidikan anak-anak telantar yang putus sekolah.

Yayasan Peduli Anak adalah organisasi nirlaba yang berdedikasi untuk meningkatkan kesejahteraan anak di Lombok dan Sumbawa, Indonesia.

Selain menawarkan tempat perlindungan dengan rumah yang aman dan terawat, yayasan ini juga memberikan dukungan holistik.

Di antaranya melalui pendidikan dasar dan menengah, bantuan untuk keluarga yang membutuhkan, perawatan medis, serta bantuan hukum bagi ribuan anak yang kurang mampu, terlantar, dan terabaikan. Yayasan ini juga dikenal sebagai Yayasan Peduli Anak dan LKSA Peduli Anak.

Perjalanan Fetter dimulai pada tahun 2004, saat itu Fetter yang masih berumur 22 tahun pergi berlibur ke Lombok bersama teman-temannya.

Saat sedang menikmati liburannya di Lombok, Fetter melihat ada banyak anak jalanan di dekat lampu lalu lintas. Salah satu anak tersebut pun ada yang menghampiri Fetter untuk meminta uang.

Namun, alih-alih memberikan uang, Fetter berbalik menawarkan anak-anak tersebut untuk sekolah. Di luar dugaan, ternyata anak-anak tersebut sangat antusias dengan tawaran Fetter.

Setelah itu, Fetter mengantarkan anak tersebut ke sekolah dan menanyakan biaya pendidikan di sekolah tersebut. Sayangnya, saat itu Fetter tidak bisa menetap lebih lama di Lombok, sehingga dirinya harus kembali ke Belanda.

(Bangunan Sekolah Dasar (SD) Yayasan Peduli Anak)

 

Membangun Yayasan Peduli Anak

Di usianya yang masih muda, Fetter sendiri telah menjalankan sebuah perusahaan rintisan yang cukup sukses di Belanda. Namun, Fetter mengaku dirinya tidak merasa bahagia dengan apa yang ia miliki saat itu.

Setelah memikirkan kembali anak-anak di Lombok yang berpotensi kehilangan masa depannya karena tidak bisa bersekolah, akhirnya Fetter memutuskan untuk menjual perusahannya sendiri.

Di tahun 2005, Fetter kembai ke Indonesia dan berpikir untuk membuat sekolah gratis di Lombok. Setelah membulatkan tekad, Fetter pun membeli tanah seluas 1,5 hektare di Desa Langko, Lombok, NTB.

Bersama dengan teman masa kecilnya, Bjørn Dudok van Heel, ia mendirikan Yayasan Peduli Anak dan mendedikasikan hidupnya untuk meningkatkan taraf hidup anak-anak di Lombok.

“Pada tahun 2005, saya mendirikan Yayasan Peduli Anak. Tujuannya adalah untuk membantu anak-anak terlantar, yatim piatu, dan anak jalanan. Kami mulai dengan menyewa sebuah rumah kecil dan mempekerjakan beberapa guru. Kami menyelamatkan 12 anak dari jalanan,” ujar Fetter dikutip dari tayangan YouTube pedulianak, dikutip Selasa (6/2).

Di atas tanah tersebut, Fetter membangun 3 asrama dan sekolah yang dapat menampung sekitar 400 anak jalanan. Ada pula kantor, asrama, dapur umum, sekolah, fasilitas medis, dan area bermain yang luas

Ketika ditanya alasannya, Fetter menjawab, “Mereka ingin kembali ke sekolah, tapi tidak ada yang mau bertanggung jawab.”

Melalui tekadnya, Fetter berhasil membuka harapan baru bagi ribuan anak untuk bisa melanjutkan pendidikannya secara gratis.

Anak-anak yang bersekolah di Yayasan Peduli Anak akan diseleksi berdasarkan kondisi ekonominya. Selain itu, Yayasan Peduli Anak juga menerima rekomendasi dari masyarakat setempat atau Dinas Sosial.

Hingga saat ini, Yayasan Peduli Anak diperkirakan telah menyentuh kehidupan lebih dari 30.000 anak, sehingga memberikan mereka kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Di luar lingkup yayasan, Yayasan Peduli Anak telah membantu pendidikan sekitar 9.000 anak. Lebih dari 22.000 anak dari keluarga kurang mampu dan yatim piatu juga menerima bantuan medis dari yayasan ini.

Lebih dari satu dekade kemudian, Yayasan Peduli Anak menjadi organisasi nirlaba yang diakui dan dijalankan secara profesional yang dikenal dengan cara operasi yang terstandardisasi dan transparan, serta fokus pada pemberian layanan kelas dunia di bidang pengasuhan. Di antaranya seperti keluarga, pendidikan, dukungan keluarga, layanan medis, dan dukungan hukum.

Tidak sendirian, Fetter juga mendapatkan bantuan untuk membiayai operasional Yayasan Peduli Anak dari ribuan donatur, perusahaan, sampai pemerintah setempat.

(Anak-anak sekolah di Yayasan Peduli Anak)

 

Gempa Lombok

Saat gempa berkekuatan 6,4 mw mengguncang Lombok, Yayasan Peduli Anak yang dibangun dengan uluran tangan banyak orang pun hancur hanya dalam satu malam.

“Saya dan anak-anak bahkan harus hidup tanpa makanan, air, dan listrik selama berminggu-minggu, hingga akhirnya kami menerima bantuan yang dikirim langsung oleh para donatur. Melalui bantuan dari para donatur dan relawan dari dalam dan luar negeri, kami membangun kembali yayasan ini dengan konsep pengasuhan yang baru, yaitu konsep pengasuhan seperti keluarga,” kata Fetter.

Fetter bahkan memperluas yayasan ini, sehingga sekarang mereka tidak hanya dapat membantu anak-anak di Lombok, tetapi juga di Sumbawa dan harapannya bisa sampai seluruh provinsi Indonesia.

 

Melanjutkan Bisnis

Setelah delapan tahun tinggal di Lombok, Fetter dan sang istri pindah ke Jakarta demi keberlangsungan operasional Yayasan Peduli Anak. Di Jakarta, Fetter kembali membuka bisnis e-commerce untuk membesarkan yayasan.

Sebagian pendapatan bersih yang dihasilkan Fetter dapatkan dari bisnis ini pun ia alihkan untuk membantu operasional sehari-hari di Yayasan.

(Anak-anak sekolah di Yayasan Peduli Anak)

 

Rumah Keluarga

Peduli Anak menyediakan pengasuhan sementara dan permanen bernama Family Like-Care untuk anak-anak yang dirujuk oleh Dinas Sosial Anak. Tujuan utamanya, adalah menyatukan kembali anak-anak dengan keluarga mereka jika memungkinkan.

Yayasan Peduli Anak menyediakan pengasuhan untuk anak-anak yang sedang menunggu penempatan di pengasuhan alternatif yang sesuai, atau sedang dalam proses bersatu kembali dengan keluarga mereka.

Secara total, ada 14 rumah yang tersedia untuk ditinggali maksimal 10 anak per rumah. Di dalam rumah keluarga, anak-anak diasuh oleh seorang ibu yang memberikan kasih sayang dan menciptakan lingkungan hangat seperti keluarga yang sesungguhnya.

Melalui tempat tinggal ini, Yayasan Peduli Anak dapat membantu anak-anak yang mengalami trauma dan masa lalu yang bermasalah agar tidak terbebani oleh pikiran dan perasaan di masa lalu.

Fetter percaya dengan menyediakan rumah yang aman, kehidupan yang sehat, pendidikan yang berkualitas, dan kasih sayang, Yayasan Peduli Anak bisa mendorong mereka untuk berkembang secara maksimal, serta membuat perubahan positif dalam hidup mereka dan orang lain.

 

Kegiatan di Yayasan Peduli Anak

Selain bersekolah, anak-anak juga bisa mengikuti beragam kegiatan ekstrakulikuler seperti kelas Bahasa Inggris, taekwondo, komputer, kelas seni, drama dan pantomim, kelas memasak, drum band, jurnal dan menulis.

Ada juga kelas tambahan yang diadakan oleh relawan seperti sepak bola, klub putra/putri, kelas Bahasa Mandarin, kaligrafi, yoga, kelas menjahit, kelas menata rambut, dan kelas merias wajah.

Melalui Yayasan Peduli Anak, Fetter berharap ada semakin banyak anak yang bisa menggapai cita-citanya dan bisa mendapat pendidikan dengan layak tanpa perlu memikirkan biaya.

“Semoga anak-anak Indonesia menjadi generasi yang lebih baik dan bermartabat,” tutup Fetter.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: