Kaligrafi Tiongkok

Fahmi marbut masjid penyandang autisme (Foto: Twitter @vitwntyone)

Fahmi merupakan anak penyandang autism spectrum disorder (ASD) atau autisme, yakni gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perkembangan anak. Meskipun hidup dengan keterbatasan, tetapi Fahmi berhasil menginspirasi karena tidak berhenti berusaha.

Fahmi atau Ami, merupakan penyandang autisme yang tinggal di daerah Wates, Kota Bandung.

Akibat gangguan autisme yang dideritanya, kegiatan sehari-hari Ami kini hanya mengurus masjid Al-Ikhlas tanpa mendapatkan upah.

Meskipun tidak bisa membaca dan menulis, Ami yang sudah menginjak usia 20 tahun tetap pandai membaca Al-Qur’an.

“Ami seneng bersihin mesjid di sini sampe tidur juga Ami di sini,” ujar Ami dikutip dalam media sosial Twitter, Senin (10/4).

Gangguan autisme sangat memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan Ami untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan berperilaku.

Penyandang autisme dapat mengalami kesulitan memahami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan. Hal ini, tentunya membuat mereka sulit untuk mengekspresikan diri, baik dengan kata-kata maupun melalui gerak tubuh, ekspresi wajah, dan sentuhan.

Tidak hanya itu, penyandang autisme juga mungkin akan memiliki kendala saat belajar. Misalnya ketika penyandang autisme memiliki kesulitan berkomunikasi, bisa saja dirinya sangat pandai dalam seni, musik, memori, hingga matematika.

Kini, Ami mengabdikan dirinya sebagai marbut untuk terus melanjutkan hidupnya. Setelah rutin diajari oleh ustaz setempat, Ami sudah pandai membaca Al-Qur’an dan sering mengumandangkan azan lima waktu di masjid.

Selain itu, Ami juga rajin membersihkan masjid mulai dari menyapu, mengepel, mengelap kaca, hingga membersihkan toilet masjid.

Saat masih kecil, bisa dibilang tumbuh kembang Ami normal dan baik, sama seperti anak-anak pada umumnya tumbuh kembang normal dan baik, bahkan Ami juga sempat bersekolah di PAUD.

Namun, sewaktu masuk taman kanak-kanak (TK), Ami banyak mengalami perubahan perilaku. Saat itu, Ami lebih banyak diam dan sulit diajak berkomunikasi, sampai akhirnya Ami harus putus sekolah ketika mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD).

Ami tinggal bersama kedua orang tuanya dan juga dua saudara perempuannya. Ayah Ami berprofesi sebagai perajin sabuk yang penghasilannya tidak menentu.

Pasalnya, ayah Ami tidak membuat stok karena tidak ada modal, sehingga pembuatan sabuk hanya dilakukan jika ada pesanan. Rata-rata penghasilan yang bisa didapatkan ayah Ami hanya sebesar Rp30 ribu saat sedang ada pesanan.

Ami dan keluarga tinggal dirumah kontrakan kecil yang kurang layak, dengan biaya sewa per bulannya sebesar Rp800 ribu.

Sayangnya, saat ini Ami dan keluarga menunggak tagihan kontrakan hingga 12 bulan lamanya belum terbayar.

Kondisi kontrakan yang kecil, membuat Ami akhirnya tidur di masjid dan jarang pulang ke rumahnya.

Walaupun keadaan Ami yang sekarang menderita autis, tetapi Ami tetap ingin membantu perekonomian keluarganya. Untuk itu, ia tidak berhenti belajar dan membantu mengurus masjid sebagai marbut.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: