Ilustrasi huruf braille (Foto: Eren Li via Pexels)
Braille adalah sistem penulisan dan cetakan berdasarkan abjad latin yang digunakan oleh tunanetra untuk membaca atau menulis melalui sentuhan.
Mengutip dari Braille Works, huruf braille terdiri atas pola titik-titik timbul yang disusun dalam sel hingga enam titik dalam konfigurasi 3×2, sehingga dapat diraba.
Sistem ini diciptakan oleh orang Prancis bernama Louis Braille (1809-1852) yang mengalami buta saat berusia 5 tahun. Saat berusia 15 tahun, Braille membuat tulisan untuk memudahkan tentara membaca dalam gelap.
Tulisan ini disebut “Tulisan Malam” dan dinamai dari nama Braille. Huruf Braille saat itu tidak memiliki huruf W.
Namun, kini huruf braille telah diadaptasi ke berbagai bahasa dan juga digunakan untuk notasi musik dan matematika.
Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui braille sebagai alat luar biasa yang memberikan akses kepada tunantera.
Akhirnya pada November 2018, PBB menetapkan tanggal 4 Januari sebagai Hari Braille Sedunia dan dirayakan pertama pada 2019. Tanggal tersebut, dipilih bertepatan dengan hari lahir Louise Braille yang dikenal sebagai “Bapak Braille” untuk menghormati jasanya.

Braille di Setiap Negara
Terdapat 63 kombinasi yang bisa diciptakan dalam sistem Braille yang mewakili huruf, angka, tanda baca, serta kata umum.
Melansir dari Liputan6.com, kode braille dalam setiap bahasa dapat berbeda untuk setiap aspeknya. Misalnya tanda “=” dalam bahasa Indonesia berbeda dengan tanda “=” dalam bahasa Inggris.
Di dalam bentuknya yang paling sederhana, satu huruf diwakili oleh satu simbol, tetapi sistem tulisan braille mengenal yang dinamakan tulisan singkat (tusing) atau di tingkat internasional disebut contracted braille yang mana pada sistem ini satu huruf atau simbol mewakili satu kata.
Tulisan braille sendiri memerlukan lebih banyak ruang pada lembaran halaman dibanding sistem tulisan biasa. Oleh karena itu, tusing atau contracted braille akan sangat berguna untuk menghemat ruang dan menulis lebih cepat.
Meski demikian, braille tidak hanya digunakan untuk menyalin dan menulis buku atau publikasi. Di berbagai negara, khususnya negara maju, braille juga digunakan pada papan nama di ruang publik. Seperti angka-angka pada lift, pintu, dan menu restoran, juga untuk memberi label pada barang sehari-hari seperti obat-obatan dan kartu tagihan.

(Subagya/Braille Dasar)
Menulis dan Membaca Braille
Huruf Braille disusun dari enam titik timbul dengan posisi vertikal dan dua titik horizontal (seperti pola kartu domino). Titik timbul tersebut, diberi nama nomor urut 1-2-3, 4-5-6.
Untuk bisa membaca huruf braille, Sahabat DAAI harus mengenal terlebih dahulu abjad dalam huruf braille.
Huruf Braille antara menulis dan membaca memiliki cara berkebalikan. Menulis huruf Braille tidak dapat langsung dapat dibaca seperti menulis huruf cetak.
Cara menulisnya dari arah kiri dengan membuat tusukan pada reglet, kemudian untuk membacanya kertas dibalik dibaca dari arah kiri ke kanan.
Setelah mengenal sistem huruf braille, Sahabat DAAI bisa lanjut mencari tulisan atau buku terkait braille. Tidak perlu langsung mencari buku yang tebal, cukup mulai dengan buku cerita anak untuk tunanetra yang tipis, atau sekadar membaca artikel sederhana yang dibuat oleh tunanetra.
Kemudian, bacalah huruf demi huruf, kata demi kata, dan kalimat demi kalimat dengan perlahan. Bila kata atau kalimat terdengar rancu, Sahabat DAAI bisa melihat kembali panduan braille. Hal ini bisa membantu meningkatkan kemampuan menulis dan membaca dengan cepat.
Terakhir lakukan evaluasi mengenai apa yang belum dipahami. Biasanya seseorang akan mulai menemui kesulitan ketika dihadapkan pada huruf braille berupa angka, tanda baca, atau rumus-rumus yang rumit. Oleh karena itu, penting untuk terus belajar agar semakin paham.

