Kaligrafi Tiongkok

Pemuda Indonesia Pilih Jadi Petani Milenial Daripada Kerja di Korea, Apa Alasannya? | Foto: instagram.com/@anakgembala14

Pemuda asal Indonesia bernama Adi Latif Mashudi (27) lebih memilih kembali ke Blora, Jawa Tengah, untuk menjadi petani daripada bekerja di Korea Selatan. 

Setelah menjunjung pendidikan tinggi sambil bekerja di Korea Selatan, Adi memilih untuk bertani dan membuka usaha agrowisata di kampung halamannya.

Mengutip dari situs web Finance detik, Adi adalah seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menekuni jurusan Teknik Otomotif.

Saat masih menjadi murid SMK, Adi sempat mengikuti sebuah kursus singkat Bahasa Korea selama tiga minggu secara gratis. Sejak itu, Adi memiliki minat untuk mempelajari Bahasa Korea lebih dalam.

Sejak tamat tahun 2015, Adi mempelajari Bahasa Korea di sebuah lembaga kursus bahasa. Pada kesempatan tersebut, ia dinilai berprestasi dan mengikuti program pengiriman tenaga kerja ke Korea secara gratis.

Selama bekerja di Korea Selatan, ia tidak melupakan pendidikannya. Selama bekerja di salah satu perusahaan, Adi juga tetap giat berkuliah di akhir pekan.

Adi menempuh pendidikan di Universitas Terbuka yang memiliki kerja sama dengan salah satu universitas di Korea, ia terdaftar sebagai mahasiswa di Jurusan Manajemen Bisnis.

Berkat prestasinya, Adi mendapatkan beasiswa dari Bank Negara Indonesia (BNI) dan berhasil lulus kuliah dengan IPK 3,65. 

“Besarnya (beasiswa) 500 ribu Won atau sekitar Rp6 juta. Saya dapat pada 2019 dan 2021,” jelas Adi dikutip dari Finance detik, Kamis (25/4).

Memilih jadi petani milenial | Foto: detikedu

 

Memilih Jadi Petani Milenial

Pilihannya dalam bertani tidak datang begitu saja. Adi mengaku, sejak kecil ia tidak terlalu berani bermimpi karena melihat juga kondisi ekonomi keluarganya.

Saya sebetulnya saat anak-anak bercita-cita menjadi polisi, tapi kondisi orang tua yang cuma buruh tani rasanya tak mungkin membiayai,” ucap Adi.

Setelah bekerja di perusahaan elektronik, Adi mendapatkan tawaran kerja dengan fasilitas dan gaji yang lebih tinggi. Namun, ia merasa ingin kembali dan menetap di Blora.

“Setelah dewasa melihat kondisi geografis kampung halaman yang tertinggal, rasanya lebih baik saya membangun desa saja,” ujar Adi.

Keputusan menjadi petani, didapat oleh Adi saat ia pergi berangkat haji dan memanjatkan doa di tanah suci. Mulanya, Adi tidak bisa menentukan daftar profesi yang ia inginkan. Namun setelah berdoa, Adi memilih untuk kembali ke kampung halamannya.

“Saat berhaji itu sebetulnya saya membawa tujuh daftar profesi yang akan saya tekuni, seperti membuka sekolah Bahasa Korea, hingga petani hidroponik. Ternyata setelah memanjatkan doa-doa hati saya mantap untuk bertani,” sebut Adi.

 

Membangun Agrowisata di Blora

Bekerja di Korea Selatan dengan fasilitas dan gaji yang baik, Adi mampu menabung selama bekerja. Ia menggunakan seluruh uang tabungannya untuk membangun usaha agrowisata

Ia menghabiskan uang modal sebesar Rp700.000.000, tanpa menggunakan pinjaman dari siapa pun.

Saat kembali ke Blora, Adi menerima cemooh dari para tetangga karena pilihan profesinya untuk bertani di kampung halamannya.

Masak sekolah tinggi-tinggi, lulusan luar negeri. Eh, pulang-pulang cuma jadi petani,” tambah Adi saat meniru cemooh dari para tetangga.

Namun, ia tetap menjalankan niatnya untuk membangun usaha agrowisata di Blora. Faktanya, agrowisata yang dikembangkan oleh Adi kini masih berjalan.

Ia memberikan nama Agro Wisata Girli Farm dan menjadi petani melon hidroponik. Melansir dari detikedu, baginya tanaman melon hidroponik tidak terlalu rumit untuk dirawat dan dipanen.

Luas Agro Wisata Girli Farm milik Adi, mencapai 2.000 meter dengan mengembangkan berbagai tanaman, seperti buah alpukat, stroberi, dan durian. Adi bahkan sudah menanam lebih dari 1.000 pohon. 

Setelah panen, hasil dari tanaman-tanaman ini akan dijual dengan jumlah berkisar Rp30.000 per kilogram.


Penulis: Kerin Chang

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: