Kaligrafi Tiongkok

Tim Olimpiade Ilmu Kebumian Indonesia (Foto: Pusat Prestasi Nasional)

Tim Olimpiade Ilmu Kebumian Indonesia (TOIKI) berhasil membawa pulang belasan emas dari olimpiade di India.

Kabar membanggakan datang dari delapan siswa-siswi Indonesia yang tergabung dalam TOIKI.

Mereka adalah Saifurrohman Ar Robbani dari MAN Insan Cendekia Pasuruan, Ammara Shifa Andini dari MAN 2 Kota Malang, Muhammad Nabhan Dzaki Aufar dari SMA Al-Kautsar Bandar Lampung, Naufal Hafidz Sayyidina Hawari dari SMAN 1 Glagah Banyuwangi.

Kemudian, Kevin Andreas dari SMA Darma Yudha Pekanbaru, Felicia Ovelia Kurniawan dari SMA Kristen Immanuel Pontianak, Reyhan Adhiguna Pamungkas dari SMA Kesatuan Bangsa Yogyakarta, dan Celine Tania Wijaya dari SMA Kristen Petra 2 Surabaya.

Siswa-siswi terbaik di bidang Ilmu Kebumian ini, berhasil menorehkan 13 medali di ajang International Earth Science Olympiad (IESO) ke-16 yang digelar secara daring di India pada 20-26 Agustus 2023.

Ke-13 medali tersebut terdiri atas 1 medali emas, 4 medali perak, 8 medali perunggu, dan 15 penghargaan khusus.

Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Hendarman mengapresiasi siswa-siswi perwakilan Indonesia di ajang IESO ke-16.

“Selamat atas capaian prestasi yang diraih oleh adik-adik. Jadikan pengalaman di ajang internasional untuk memacu diri untuk selalu berprestasi di masa mendatang,” ujar Hendarman dikutip dalam keterangannya, Minggu (27/8).

Mereka adalah siswa terbaik hasil seleksi pada bidang Ilmu Kebumian di Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun lalu yang diselenggarakan oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI).

Sebelumnya mereka mengikuti proses seleksi yang ketat dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga ke tahap nasional. Kemudian, dilanjut dengan pembinaan dan seleksi yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).

Naufal Hafidz Sayyidina Hawari mengatakan, ajang IESO telah memberikan pelajaran berharga baginya tentang pentingnya mengintegrasikan berbagai sudut pandang guna merespons persoalan yang kompleks.

“Lebih istimewanya, IESO merupakan kompetisi ilmiah yang unik karena mewadahi bentuk kompetisi berkelompok. Kami bersyukur dan juga belajar tentang penting kolaborasi dalam sebuah tim. Di dalam prosesnya, kami tidak hanya memperdalam kemampuan bekerja sama, tetapi juga mengasah ketangguhan dalam menghadapi berbagai hambatan yang mungkin timbul di dalam kelompok kami,” tutup Naufal.

IESO merupakan ajang kompetisi pelajar pra-perguruan tinggi untuk bidang ilmu kebumian yang meliputi pengetahuan terkait geosfer (geologi dan geofisika), hidrosfer (hidrologi dan oseanografi), atmosfer (meteorologi dan klimatologi), dan astronomi (sains keplanetan).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: