Kaligrafi Tiongkok

Umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Galungan | Foto: Read.id

Hari Raya Galungan adalah salah satu perayaan umat Hindu di Bali selama berhari-hari. Apa saja maknanya?

Pada hari raya ini, umat Hindu memperingati terciptanya alam semesta dan isinya. Selain itu, perayaan ini juga merupakan peringatan atas kemenangan kebaikan (Dharma) dalam melawan kejahatan (Adharma).

Hari Raya Galungan berusaha untuk mengingatkan manusia atas dampak buruk bagi kehidupan manusia akibat hawa nafsu yang berlebihan. Misalnya, nafsu akan kekuasaan, merebut hak atau milik orang lain, dan nafsu untuk menang dengan melakukan segala cara (licik).

Kata ‘galungan’ berasal dari bahasa Jawa yang berarti bertarung dan sering disebut sebagai ‘dungulan’ yang berarti kemenangan.

Saat Hari Raya Galungan tiba, masyarakat Hindu akan bersama dengan keluarga masing-masing untuk pergi ke pura dan berdoa bersama dengan menggunakan baju adat.

 

Tradisi Hari Raya Galungan

Melansir dari Kompas.com, selain pergi ke pura untuk berdoa, perayaan ini memiliki tradisi yang unik.

  • Mapeed

Tradisi ini dilakukan oleh umat Hindu dengan cara berbaris dan jalan beriringan sambil memegang keben bambu (sesajen) di atas kepala. 

Sesajen yang dibawa biasanya berisi bunga, hiasan janur, dan buah-buahan. Pada tradisi ini, umat Hindu akan berjalan menuju pura di desa setempat.

  • Ngejot

Tradisi ini dilakukan oleh umat Hindu sebagai bentuk tolerasi sesama umat agama di Bali dengan cara berbagi makanan kepada tetangga sekitar, baik sesama Hindu maupun umat non-Hindu. 

Perayaan ini dirayakan selama beberapa hari sebelum Hari Raya Galungan sampai pada Hari Raya Galungan.

  • Ngelawang Barong

Tradisi ini adalah arak barong bangkal yang diiringi dengan gamelan sambil berkeliling kampung. 

Barong akan dimainkan oleh 2 orang penari, yaitu 1 pemain memegang wajah barong dan pemain lainnya memegang ekor barong menuju rumah-rumah warga dari pintu satu ke pintu yang lainnya.

Tari barong ini, dipercaya untuk menjaga dan melindungi masyarakat dengan cara mengusir roh jahat yang akan mengganggu desa.

  • Dekorasi Penjor

Biasanya, umat Hindu akan memasang penjor di beberapa tempat dalam rangka menyambut Hari Raya Galungan. Penjor terbuat dari sebatang bambu dengan ujung yang melengkung. 

Bambu (janur) akan dihiasi dengan hasil pertanian, seperti buah-buahan, biji-bijian, umbi-umbian, dan daun kelapa (janur). Penjor melambangkan kemakmuran, persembahan kepada Bhatara atas rasa syukur, dan kemenangan.

  • Mekotek

Umat Hindu biasanya akan mengumpulkan dan menggabungkan sebatang kayu hingga bentuk kayu mengerucut. 

Kemudian, umat Hindu akan bersama-sama berjingkrak dan mengelilingi kayu sambil diiringi dengan musik-musik gamelan. Perayaan ini masih dirayakan di Desa Munggu, Bali.

 

Mitologi Hari Raya Galungan

Perayaan Galungan berhubungan dengan mitos yang dipercaya oleh masyarakat Hindu.

Kala itu, seorang raja sakti Mayadenawa berbuat kejahatan terus menerus dan memerintahkan seluruh umat Hindu untuk menyembahnya. Ia pun melanggar umat Hindu untuk menyembah para dewa dan pergi ke pura.

Melihat perbuatan ini, pemuka agama bernama Mpu Sangkul Putih, bersemedi untuk berdoa dan meminta bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Setelah berhasil mendapatkan bantuan dari Dewa Indra (dewa cuaca), Mpu Sangkul berhasil melawan Mayadenawa meskipun Mayadenawa sudah menggunakan cara licik apa pun untuk mengalahkan Mpu Sangkul.

Mitologi ini dipercaya melambangkan kemenangan dari kebenaran (Dharma) dalam melawan kejahatan (Adharma).

Hari Raya Galungan | Foto: SuarapemerintahID

 

Rangkaian Hari Raya

Pada perayaan ini, Hari Raya Galungan memiliki serangkaian acara yang dilakukan selama beberapa kali.

  • Tumpek Wariga 

Perayaan Hari Raya Galungan ditandai dengan Tumpek Wariga, yaitu 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Tumpek Wariga dianggap sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan atas kesuburan tanah atau tanaman sehingga berhasil tumbuh, berbunga lebat, dan berbuah.

Upacara ini memiliki kaitan dengan lingkungan sekitar, salah satunya adalah melestarikan pohon. Selain sebuah ucapan syukur, upacara ini juga ditujukan untuk persembahan kepada manifestasi Tuhan yang dianggap sebagai Dewa Sangkara (penguasa tumbuhan).

  • Sugihan Jawa

Perayaan ini merupakan hari penyucian, baik sekala (kasat mata) maupun niskala (maya) kepada bhuana agung (alam semesta). Biasanya, perayaan ini dirayakan pada Kamis Wage wuku Sungsang.

  • Sugihan Bali 

Biasanya, hari ini dirayakan pada Jumat Kliwon wuku Sungsang. Perayaan ini merupakan penyucian manusia secara sekala ataupun niskala agar bersih dari perbuatan dosa (penyucian lahir dan batin).

  • Hari Penyekeban 

Hari ini memiliki makna mengekang diri agar tidak melakukan hal yang dilarang oleh agama. Biasanya, perayaan ini dilaksanakan Minggu Paing wuku Dungulan.

  • Hari Penyajian

Hari ini memiliki makna para umat mengadakan Tapa agar dapat mencapai Samadhi. Biasanya, perayaan ini dirayakan pada Senin Pon wuku Dungulan

  • Hari Penampahan 

Hari ini memiliki arti wujud syukur kepada Tuhan atas segala berkat dan anugerah yang telah diberikan. Biasanya, perayaan ini dilakukan hari Selasa Wage wuku Dungulan tepat sehari sebelum perayaan Gulungan.

  • Hari Raya Galungan 

Hari ini merupakan puncak acara perayaan Gulungan. Biasanya perayaan ini jatuh pada Rabu Kliwon wuku Dungulan. Pada perayaan ini, umat Hindu akan pergi ke Pura untuk bersembahyang.

  • Hari Umanis Galungan 

Hari Raya ini merupakan perayaan tradisi suci yang digunakan untuk berkumpul keluarga (silaturahmi) dan mendoakan keselamatan bagi sesama.

Biasanya, tradisi ini dilakukan pada Kamis Umanis wuku Dungulan oleh anak-anak yang masih tanggal gigi dan dilanjut dengan Dharma Santi. Terakhir anak-anak akan melakukan tradisi Ngelawang Barong.

  • Hari Pemaridan Guru

Perayaan ini merupakan perayaan memohon untuk diberikan anugrah dari Ida Sang Hyang Widhi. Biasanya, perayaan ini dilakukan pada Sabtu Pon wuku Galungan.

 

  • Ulihan

Perayaan ini merupakan hari kembalinya para leluhur, dewa, serta dewi ke alamnya dan dipercaya  meninggal anugerah dan berkat panjang umur. 

Biasanya, perayaan ini dilakukan pada Minggu Wage wuku Kuningan atau enam hari sebelum perayaan Kuningan.

  • Hari Pemacekan Agung 

Perayaan ini bertujuan untuk memuja Sang Hyang Widhi dan sebagai simbol keteguhan iman manusia dari segala cobaan selama Hari Raya Galungan. Biasanya, perayaan ini dilakukan pada Senin Kliwon wuku Kuningan.

  • Hari Kuningan 

Perayaan ini memiliki arti pencapaian spiritual dengan melakukan introspeksi diri agar terhindar dari segala bahaya. Biasanya, perayaan ini dilakukan pada 10 hari setelah Galungan.

  • Hari Pegat Wakan 

Perayaan ini merupakan penutupan akhir dari rangkaian upacara Galungan. Biasanya, perayaan ini dilakukan sebulan setelah hari Galungan atau pada Rabu Kliwon wuku Pahang.

Penulis: Kerin Chang


Simak Video Pilihan di Bawah Ini: