Kaligrafi Tiongkok

Marketeers Hangout 2026. (Dok. Marketeers)

Dinamika perilaku konsumen yang terus berubah, kompetisi produk yang kian ketat, hingga cepatnya laju perkembangan teknologi menuntut para pemasar untuk terus beradaptasi.

Tantangan inilah yang mengemuka dalam gelaran Marketeers Hangout 2026 di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta.

Mengusung tema “Marketing: No Way Out?” dan semangat “The Saga Continues“, ajang ini mempertemukan para pemimpin bisnis serta praktisi industri untuk merumuskan ulang strategi pertumbuhan merek yang berkelanjutan.

COO MCorp, Iwan Setiawan, menegaskan dalam sesi pembuka bahwa kebuntuan strategi kerap terjadi karena pemasar kurang memahami akar masalah konsumen.

“Saat merasa tidak ada jalan keluar, kita cenderung memaksakan cara lama dengan lebih keras. Padahal, kuncinya adalah memahami tiga tantangan utama pelanggan, yaitu filtering, fragmentation, dan frugality,” ungkapnya.

Di sela acara, diberikan pula penghargaan Marketeers Editor’s Choice Awards (MECA) 2026 sebagai bentuk apresiasi Dewan Editor Marketeers kepada merek-merek yang berhasil menghadirkan terobosan kreatif, inovatif, dan berdampak sepanjang tahun terakhir.

Memahami Pelanggan di Tengah Tingginya Ekspektasi

Melalui babak “Overconfident Marketers, Overdemanding Customers”, diskusi berfokus pada pentingnya menyusun strategi berbasis pengalaman nyata pelanggan, bukan sekadar asumsi internal perusahaan.

  • Menggaet Perhatian Konsumen: COO Burson Indonesia, Harry Deje, mengingatkan bahwa perhatian pelanggan di era persaingan ketat tidak bisa dibeli.

“Attention isn’t bought, it’s earned. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana kita mendapatkan perhatian, tetapi apa yang akan kita lakukan setelah mendapatkannya,” tegas Harry.

  • Membangun Loyalitas dari Kepercayaan: SVP Marketing PT Pegadaian, Yudi Sadono, menekankan bahwa fondasi hubungan jangka panjang adalah rasa percaya.

“Kepercayaan berangkat dari logika, sedangkan loyalitas berangkat dari hati. Loyalitas terbangun jika perusahaan mampu memahami kebutuhan masyarakat dan menghadirkan layanan yang relevan dengan perkembangan zaman,” jelas Yudi.

  • Meningkatkan Kualitas Layanan BUMN: VP Experience Management Danantara Asset Management Danang Widiasurya, menambahkan bahwa peningkatan kualitas pelayanan BUMN sangat krusial agar dapat mempermudah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

 

Produk Unggul Belum Tentu Menjamin Adopsi Pasar

Sesi kedua bertajuk “Great Product, Poor Adoption” mengulas fakta bahwa keunggulan spesifikasi produk saja tidak cukup untuk mendorong penjualan jika tidak diimbangi diferensiasi kuat, pemahaman nilai, dan profitabilitas.

  • Kekuatan Identitas Merek: Marketing Director PT Amerta Indah Otsuka (Pocari Sweat), Puspita Winawati, menegaskan pentingnya brand identity. “Produk itu gampang ditiru. Tapi brand identity, reputation, dan experience membutuhkan waktu dan konsistensi tinggi sehingga sangat sulit ditiru,” ujarnya. Bagi Pocari Sweat, pemasaran bukan sekadar menggelar acara, melainkan sarana edukasi gaya hidup sehat.
  • Memahami Sisi Emosional Harga: Praktisi Behavioral Marketing, Ignatius Untung, menyebutkan bahwa keputusan membeli tidak selalu rasional. “Saat berbicara mengenai value, kita tidak bisa hanya melihat sisi rasional, tetapi juga sisi emosional,” tuturnya. Penetapan harga harus mencerminkan persepsi manfaat yang ditangkap oleh target konsumen.
  • Menjaga Profitabilitas dan Selective Marketing: Direktur Utama PT Emas Antam Indonesia, Yudi Hermansyah, mengingatkan pentingnya laba dalam menjaga keberlanjutan bisnis. “Banyak orang menganggap jualan emas itu gampang, padahal tidak semudah itu,” ungkap Yudi. Ia menyarankan penerapan selective marketing, memilih aktivitas pemasaran yang terukur dan memberikan kontribusi nyata terhadap laba perusahaan.

 

Memperkuat Merek dan Membangun Koneksi dengan Pelanggan

Pada babak terakhir, “Strong Brands, Weak Connections”, para panelis membahas cara menerjemahkan kekuatan merek menjadi hubungan yang dekat dan relevan dengan konsumen di era digital.

  • Optimalisasi AI Marketing: Enterprise Sales Manager Insider One Andreas Setiawan, menyoroti peran kecerdasan buatan dalam merespons konsumen secara presisi. “Di tengah kecepatan AI, kita tetap harus memahami pelanggan dan merespons mereka dengan tepat,” kata Andreas.
  • Efisiensi Anggaran dan Streamer: Founder Let’s Go Inc Hanif Thamrin, memaparkan strategi pemanfaatan streamer untuk memaksimalkan Return on Investment (ROI) anggaran pemasaran karena jangkauannya yang luas di berbagai platform.
  • Kreativitas dan Emotional Branding: Founder & CEO Shoes and Care, dr. Tirta Mandira Hudhi, M.B.A., menekankan pentingnya riset audiens dalam pembuatan konten media sosial. “Kalau kalian mau membuat konten, kalian harus paham siapa audiens kalian,” tegasnya.

Ajang Marketeers Hangout 2026 menegaskan bahwa tantangan pemasaran bukanlah jalan buntu, melainkan momentum bagi pelaku industri untuk mengevaluasi pendekatan, memanfaatkan teknologi secara terukur, dan membangun koneksi emosional yang lebih kuat demi keberlanjutan bisnis.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: