Bika Minang (Foto: Hidayat Sikumbang/DAAI Medan)
Bika minang atau kue singgang adalah salah satu kuliner yang menggoyang lidah. Meskipun punya nama yang sama, tetapi penganan khas Sumatra Barat ini punya beberapa perbedaan dengan bika ambon.
Nama bika sendiri, konon diambil dari sebuah kata “Baka” yang dalam Bahasa Minangkabau berarti dibakar atau dipanggang. Inilah yang membedakannya dengan bika ambon.
Bika minang merupakan penganan manis yang terbuat dari tepung beras, gula pasir, dan parutan kelapa yang diaduk dalam sebuah wadah. Adonan tersebut, kemudian dicetak berbentuk bulat dan dipanggang dengan beralaskan daun waru.
Sesuai namanya, kue ini kemudian dipanggang dengan menggunakan sabut kelapa selama beberapa menit. Proses pembuatannya yang masih tradisional, menjaga citarasa kue ini agar tetap nikmat di lidah.

Sebagai penganan tradisional, bisa dibilang eksistensi kue bika sudah mulai berkurang. Salah satu pedagang bika minang yang masih eksis hingga kini, adalah Kue Bika Minang Amak Nurmalis yang terletak di Jalan Amaliun, Medan.
Putera, sang pemilik usaha merupakan generasi kedua yang telah meneruskan bisnis kue bika ini. Tepat pada tahun 1993, Nurmalis, orang tua dari Putera mulai mencoba untuk menjual bika minang di Medan.
Kini, Putera pun turut serta melestarikan penganan tradisional ini agar tetap eksis di tengah ramai-ramainya kue modern yang dijual di masyarakat.
Jika ingin mencoba, Sahabat DAAI bisa menyambangi tempat usaha Putera mulai dari pukul 9.00-16.00 WIB.
“Kalau sehari-harinya, kami bisa menjual 400-500 potong kue bika ini. Namun, berbeda jika sudah memasuki bulan Ramadan. Kami bisa menjual lebih banyak, bahkan dua kali lipat, sekitar 700-800,” ungkap Putera kepada DAAI TV, dikutip Rabu (24/5).
Menurut Putera, meskipun sudah berkurang, tetapi eksistensi kue tradisional masih tetap tak bisa dipisahkan dari masyarakat, khususnya bagi masyarakat Minang di kota Medan yang rindu akan kampung halaman.

Rizki Yannur selaku salah seorang pembeli kue mengaku, kue bika yang dijual oleh Putera cocok disajikan dengan teh manis hangat sebagai menu sarapan pagi.
Setiap seminggu sekali, jika melintas di depan kedai bika milik Putera, ia singgah untuk mencicipi kelezatan kue yang satu ini.
“Awalnya tahu dari orang tua karena waktu itu diminta bawain kue ini untuk nenek yang tinggal dekat sini. Lalu, ikut coba. Rupanya enak karena mungkin proses masaknya yang masih tradisional. Jajanan kayak ini juga sudah mulai jarangkan ditemui,” jelas Rizki.
Kehadiran Putera untuk tetap melestarikan penganan tradisional sebagai mata pencaharian sehari-hari, juga menjadi modal utama untuk mewariskan jajanan pasar untuk generasi selanjutnya.
“Hal yang paling penting, jangan sampai kita lupa kalua kita juga punya andil untuk mengembangkan kue-kue tradisional agar tak kalah dengan kue-kue yang modern ini,” tutup Putera.

