Ilustrasi childfree (Foto: Takmeomeo via Pixabay)
Umumnya, childfree diartikan sebagai kondisi ketika seseorang atau pasangan memutuskan untuk tidak memiliki keturunan. Istilah ini telah lama berkembang di luar negeri.
Istilah childfree mengacu kepada pilihan pasangan yang sudah menikah untuk tidak memiliki atau membesarkan anak, baik secara biologis, adopsi, atau lainnya.
Namun, istilah childfree berbeda dengan childless, yakni kondisi saat seseorang tidak dapat memiliki anak. Misalnya, seperti orang yang berjuang melawan penyakit, atau mereka yang tidak subur.
Tentunya keputusan seseorang untuk menerapkan konsep childfree sangatlah personal. Sebelum memutuskan hal tersebut, masing-masing pasangan juga telah memikirkannya dengan matang dan mempertimbangkan beberapa faktor.
Spesialis kedokteran jiwa dr. Adhi Wibowo Nurhidayat, Sp.KJ (K) MPH. menjelaskan, konsep childfree memang telah ada sejak zaman dahulu.
Namun, kata dr. Adhi, istilah childfree sendiri baru muncul pada tahun 1900-an dan mulai populer sejak 10-15 tahun terakhir.
Beberapa alasan pendukung popularitas istilah ini, adalah adanya perubahan gaya hidup oleh masyarakat, demokratisasi dan modernisasi masyarakat setempat, serta adanya kebebasan berpendapat.
“Saat ini, orang-orang bisa lebih mudah mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya, sehingga mendorong popularitas istilah childfree,” ujar dr. Adhi dikutip dalam kanal YouTube DAAI Family, Kamis (6/4).
dr. Adhi menjelaskan, ada beberapa alasan umum yang mendorong masyarakat untuk memilih konsep childfree ini.
Di antaranya adalah keinginan pribadi untuk tidak memiliki anak, adanya bantuan biaya hidup dari pemerintah (khususnya di negara maju), adanya pandangan mengurus anak bisa membuat kewalahan, keraguan akan perkembangan karier di masa depan, adanya keinginan dari pasangan untuk tidak punya anak, sampai kekhawatiran terkait biaya hidup anak yang kian membengkak.
Tidak ada yang salah dengan konsep childfree. Apalagi, setiap orang pasti punya pilihannya masing-masing. Untuk beberapa pasangan, penerapan chlidfree bisa membuat mereka lepas dari berbagai macam biaya membesarkan anak.
Namun, jika konsep childfree diterapkan serentak di dalam suatu negara tentunya akan berdampak sangat buruk bagi pertumbuhan populasi, bahkan perekonomian negara bisa terancam.
Inilah yang sedang dialami oleh Jepang. Tingkat kelahiran di Jepang saat ini sudah kritis. Menteri Kesehatan Jepang menyebutkan, pada 2022 jumlah kelahiran kurang dari 800.000. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak pencatatan dimulai pada 1899.
Para ahli melihat tingginya biasa hidup, kurangnya ruang dan dukungan di perkotaan, membuat para orang tua kesulitan untuk mengasuh anak. Alhasil, banyak pasangan yang memutuskan untuk tidak memiliki anak.
Selain itu, rata-rata pendapatan per kapita di Jepang mengalami penurunan, dari sebelumnya USD 50.600 pada tahun 1995, menjadi USD 43.000 pada 2020. Biaya hidup yang tinggi, ditambah dengan pendapatan yang menurun dan kurangnya dukungan, tentunya membuat beban mengurus anak semakin berat, sehingga tingkat childfree meningkat.
Selain berdampak pada negara, pilihan childfree juga ternyata bisa berdampak pada kesehatan. Sebenarnya, belum ada penelitian khusus yang melaporkan bahwa tidak hamil atau melahirkan seumur hidup dapat memicu munculnya penyakit atau kondisi medis tertentu.
Meski demikian, wanita yang sudah pernah hamil dan menyusui diketahui memiliki risiko lebih rendah terkena kanker payudara, endometrium, dan ovarium dibandingkan wanita yang belum pernah hamil.
Pasalnya, kehamilan dan menyusui cukup berpengaruh pada siklus ovulasi. Selain itu, perubahan hormon estrogen dan progesteron selama hamil dan menyusui, juga dipercaya ikut ambil bagian dalam penurunan risiko kanker payudara dan endometrium.
Penelitian yang dilakukan oleh Graham, M. L., dkk (2011) menyebutkan, wanita yang tidak memiliki anak cenderung memiliki masalah kesehatan umum, vitalitas, fungsi sosial, dan kesehatan mental yang secara statistik lebih buruk, jika dibandingkan dengan wanita yang memiliki anak di Australia.
Jadi, pilihan untuk tidak memiliki anak berpotensi memberikan risiko kesehatan yang serius pada wanita. Berbagai alasan boleh menjadi dasar pilihan untuk childfree. Namun, pilihan untuk tidak berusaha memiliki keturunan ketika sudah menikah dan mampu dari segi apa pun, alangkah lebih baik jika dipertimbangkan kembali.

