Ilustrasi rumput laut (Foto: Instagram NusaIDN)
Ni Luh Putu Wira Astuti dan I Nyoman Sudiatmika mengubah rumput laut jadi sabun cuci tangan dan pembersih tangan (hand sanitizer) bernama Nusa.
Mengutip dari ANTARA, pasangan suami-istri asal Bali ini memanfaatkan budi daya rumput laut untuk menciptakan produk organik dengan merek Nusa.
Astuti dan suaminya memulai bisnis ini saat pandemi Covid-19. Saat itu, mereka memiliki usaha penyewaan vila di Desa Lembongan, Nusa Penida, Klungkung, Bali. Di masa pandemi, kolam renang di vila tersebut terbengkalai dan dasar permukaannya sudah diselimuti lumut.
Meski demikian, bangunan tersebut tidak dileantarkan begitu saja. Untuk menyambung hidup, Putu bersama sang suami memutuskan untuk mengolah rumput laut menjadi produk kesehatan.
Di dalam membangun usahanya, Astuti mengatakan ingin menyerap produksi rumput laut dan meningkatkan taraf hidup petani rumput laut di Pulau Lembongan.
Proses membangun bisnis ini pun memakan waktu yang tidak sebentar. Apalagi, mereka banyak melakukan percobaan dan riset berkali-kali untuk menghasilkan produk yang memuaskan.
Melalui bimbingan dari pihak Universitas Udayana, Putu mengawali usahanya dengan memproduksi hand sanitizer dari rumput laut. Seiring waktu, produknya berkembang dan ia mulai memproduksi sabun cuci tangan.
Sebelum menjadi sebuah produk, ada beberapa proses yang mereka lakukan. Pertama, mereka mengambil rumput laut dari petani lalu dicuci dan dijemur. Selanjutnya, rumput laut tadi kembali mereka cuci sebanyak tiga sampai empat kali agar warnanya berubah menjadi putih dan bersih.
Setelah itu, rumput laut akan diblender dan diekstrak menggunakan mesin pengaduk. Kemudian, ditambahkan beberapa komponen seperti garam dan NP 10 untuk menyatukan minyak dan air.

Mereka menggunakan 5 kilogram rumput laut kering untuk membuat 25 liter sabun cuci tangan cair yang kemudian dikemas dalam botol berukuran 35 ml hingga 450 ml.
Adapun botol sabun cuci tangan 35 ml dibanderol dengan harga Rp35 ribu, sedangkan botol 450 ml dibanderol dengan harga Rp110 ribu.
Melalui bisnis tersebut, pasangan ini menghasilkan omzet sekitar Rp10 juta sampai Rp25 juta setiap bulan dari penjualan sabun tangan berbasis rumput laut melalui gerai suvenir di Bali.
Saat ini mereka sedang mengembangkan produk turunan rumput laut lainnya. Mulai dari sabun mandi, losion, produk perawatan kulit, serum, pelembap, dan tabir surya.
Produk hand soap bermerek Nusa ini telah dipasarkan ke sejumlah hotel, kedai kopi, hingga tempat perbelanjaan di kawasan Bali. Di dalam satu bulan, Putu bisa menerima pesanan sekitar 250 botol berukuran 450-500 mililiter dengan harga jual Rp110 ribu per botol.
Meskipun kondisi pandemi telah usai, tetapi Putu enggan kembali ke sektor pariwisata. Ia bersama sang suami ingin fokus mengembangkan usaha pengolahan rumput laut ini.
Terlebih, pihaknya kini sedang menjajaki kerja sama dengan perusahaan kosmetik di Surabaya dan Bogor untuk membuat produk perawatan kulit berbahan rumput laut.
“Mudah-mudahan rumput laut Indonesia bisa terkenal sampai ke luar negeri,” tutup Putu.

