Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi Cinta Laura kampanye di tempat publik (Foto: Instagram @lorealindonesia)

Kasus pelecehan seksual di transportasi umum, telah menjadi masalah umum yang dialami perempuan. Untuk menyuarakan hal ini, Cinta Laura mengusung kampanye di berbagai ruang publik yang ada di wilayah Jakarta.

Beberapa waktu lalu, Cinta Laura bersama salah satu merek perawatan rambut, PT JakLingko Indonesia, PT KAI (Persero), PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), PT LRT Jakarta, PT MRT Jakarta, dan PT Transjakarta menggelar kampanye bertajuk Stand Up Melawan Pelecehan Seksual di Transportasi Umum.

Kampanye ini, bertujuan untuk memberikan pembekalan efektif dalam melawan pelecehan seksual di ruang publik.

Di dalam hal ini, Cinta menggaungkan metode intervensi 5D (Dialihkan, Dilaporkan, Dokumentasikan, Ditegur, dan Ditenangkan) sebagai solusi yang dapat membantu saksi pelecehan seksual untuk berani mengambil tindakan.

Metode 5D’s Right To Be, adalah kumpulan alat yang diakui oleh para ahli untuk membantu Anda intervensi dengan aman ketika menyaksikan pelecehan di tempat umum.

Sebagai tindakan nyata, Cinta pun berkunjung ke stasiun KRL Tanah Abang untuk mewawancara beberapa orang.

Cinta mengaku, dirinya tidak terkejut saat mendengar mayoritas penumpang perempuan mengatakan bahwa mereka sering menyaksikan atau mengalami aksi pelecehan, serta tidak merasa aman.

“Terlihat jelas bagiku sebagaimana tidak pedulinya mayoritas orang-orang tentang issue ini, apa pun latar belakang mereka. Lalu, kalau gak peduli gimana kita bisa melihat perubahan?!” ujar Cinta dikutip dalam Instagram-nya, Selasa (21/3).

Tidak hanya mengusung kampanye, ternyata Cinta juga punya pengalaman saat dirinya pernah mengalami pelecehan seksual.

Saat itu, kata Cinta, dirinya akan menghadiri acara temannya dan memakai pakaian serba tertutup karena kebetulan sedang turun hujan. Namun, ia mendapatkan pelecehan dari orang yang tidak dikenal

“Aku pernah turun dari mobilku di daerah Sudirman. Saat itu lagi hujan, jadi dan takut telat sampai ke dinner temenku, aku keluar mobil dan nyebrang jalan, aku pakai jeans, baju panjang, masker, kaca mata item, terus tiba-tiba ada yang bilang ‘wow seksi‘, terus aku mikir dan bilang seksinya dari mana karena semua ketutup,” jelas Cinta.

Menanggapi hal tersebut, Cinta tidak tinggal diam, dirinya langsung menghadapi pelaku pelecehan seksual tersebut dengan metode intervensi 5D.

“Karena aku marah, aku pake teknik 5D, aku dokumentasikan, aku keluarkan HP aku, aku suruh ‘Mas bilang apa tadi?! Coba bilang lagi, mau aku laporkan! Terserah mau opsi mana!‘,” lanjut Cinta.

Cinta bersyukur dirinya memiliki keberanian untuk menghadapi langsung si pelaku pelecehan seksual itu. Namun, ia juga sadar kalau tidak semua perempuan atau korban berani menghadapi pelaku pelecehan seksual.

Menurutnya, pelecehan dan kekerasan bukan hanya masalah yang tidak dimengerti rakyat kecil atau orang yang tidak berpendidikan.

Ia melanjutkan, “Masalah ini sangat sering terjadi di negara kita karena sudah menjadi masalah sistemik! Oleh karena itu, penting edukasi dilakukan untuk semua orang, apa pun latar belakang mereka.”

Berdasarkan data IPSOS, sebanyak 91% orang pernah menyaksikan pelecehan seksual di ruang publik dan tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan 71% lainnya mengatakan situasi akan membaik jika seseorang membantu.

Cinta pun menyuarakan untuk berhenti menormalisasikan aksi pelecehan dan menyalahkan korban atas apa yang terjadi kepada mereka. Ia juga mendorong agar saksi pelecehan seksual bisa membantu korban yang kesulitan.

Beberapa cara intervensi yang bisa dilakukan untuk membantu korban, adalah dengan metode intervensi 5D sebagai berikut.

Dialihkan: Berpura-pura menjadi teman, menanyakan waktu, alihkan perhatian, Anda bisa melakukan hal yang kreatif.

Dilaporkan: Temukan seseorang yang berwenang (misalnya guru, bartender, atau pengemudi bus) dan minta mereka untuk membantu.

Dokumentasikan: Perhatikan dan saksikan, tuliskan atau rekam video pelecehan, berikan rekaman kepada korban dan jangan pernah memposting rekaman daring atau menggunakannya tanpa izin dari korban.

Ditenangkan: Tenangkan korban pelecehan setelah pelecehan terjadi dan akui bahwa perilaku itu adalah salah. Posisikan diri anda sebagai seorang teman.

Ditegur: Berbicaralah dan tegur pelaku pelecehan, lalu alihkan perhatian Anda kepada orang yang dilecehkan. Jika pelaku merespons, abaikan mereka; jangan memperkeruh situasi. Hanya gunakan Ditegur sebagai upaya terakhir untuk mencegah terjadinya kekerasan. Keamanan Anda dan korban pelecehan harus diutamakan.

“Aku mengajak kalian melawan pelecehan seksual di ruang publik. Melalui langkah mudah, kita bisa intervensi dengan tidak tinggal diam dan melawan pelecehan seksual. Karena aku percaya semua perempuan berhak merasa aman dan nyaman di mana dan kapan pun, because we’re worth it,” tutup Cinta Laura.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: