Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi Ecollabo8 (Foto: Instagram @ecollabo8)

PT Gaia Plastik Recycling (Ecollabo8) merupakan perusahaan Indonesia yang berfokus mendaur ulang sampah plastik untuk mengurangi jumlah sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Didasari oleh rasa kekhawatirannya terhadap lingkungan, Kevin Vignier-Groiez mendirikan Ecollabo8 pada 2019 lalu di Tumbak Bayuh, Kec. Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.

Tujuan utamanya, adalah untuk memberikan pandangan baru bahwa sampah plastik bisa diolah menjadi hal lain yang memiliki nilai jual.

Marketing Manager Ecollabo8 Khalda Azzahra Jayputri (23) mengatakan, tidak sedikit orang yang melihat sampah plastik tidak memiliki nilai jual.

Padahal, kata Khalda, sampah plastik bisa diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual dan bisa tahan lama.

“Dari situ kami jadi punya visi dan misi buat mengedukasi orang-orang, terutama anak-anak. Kami mengadakan workshop untuk mengedukasi mereka agar tahu bahwa sampah plastik punya nilai dan nilai jual. Jadi bukan sekadar diolah dan dibuang lagi, tapi di sini kami bisa buat berbagai macam hal yang awet dan dapat digunakan jangka panjang. Seperti furnitur, art installation, sisir, keramik dinding, dan sebagainya itu bisa dibuat dari sampah plastik. Jadi nggak ada yang nggak mungkin di sini,” ujar Khalda kepada DAAI TV, dikutip Rabu (9/8).

Khalda menjelaskan, saat ini Ecollabo8 berfokus untuk mengolah dan memproduksi produk, sedangkan sumber sampahnya sendiri berasal dari kolaborasi dengan berbagai pihak, baik dari pihak industri maupun lokal.

Sebagai contoh, Ecollabo8 berkolaborasi dengan produsen kecantikan The Body Shop dan produsen sandal Havaianas.

Kedua merek tersebut, memiliki program yang mengajak konsumen untuk bertanggung jawab atas limbah produk yang mereka hasilkan.

Caranya adalah dengan menerima kembali sandal bekas atau kemasan kosong dari produk kecantikan yang telah digunakan konsumen.

Nantinya, produk bekas dan kemasan kosong ini akan disortir oleh pihak produsen, dibersihkan, dan diserahkan kepada Ecollabo8 agar bisa diolah kembali.

Program yang diinisiasi kedua produsen tersebut, dilakukan untuk memastikan kemasan plastik kosong atau sandal bekas mereka tidak berakhir menjadi sampah yang menumpuk di TPA.

“Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, kami melihat potensi material lain yang bisa didaur ulang selain plastik. Misalnya seperti sandal karet yang bisa diolah menjadi trackpad, coaster, dan soon bakal buat yoga mat juga,” kata Khalda.

Untuk sampah plastik sendiri, kata Khalda, pihaknya lebih banyak melakukan daur ulang untuk limbah plastik dengan kode High Density Polyethylene (HDPE), Low Density Polyethylene (LDPE), dan Polypropylene (PP).

Namun, ke depannya setelah Ecollabo8 memindahkan pabriknya ke wilayah Sanur, Bali, maka jenis limbah yang bisa diolah pun akan semakin beragam.

Bukan hanya daur ulang plastik, tapi Ecollabo8 akan dapat mendaur ulang limbah kaca, kemasan sachet, berbagai jenis sampah plastik, dan berbagai material lainnya, sehingga pengolahan sampah dapat dimaksimalkan agar tidak berakhir di TPA.

“Ecollabo8 akan dapat mengolahnya jadi roof tiles, decking, dan paving block. Jadi hal-hal yang pastinya punya manfaat yang akan lebih besar juga ketika kita punya mesin baru,” ungkap Khalda.

Menurut Khalda, salah satu keunggulan yang dimiliki Ecollabo8 adalah bisa mendaur ulang dan membuat produk dengan jumlah besar.

Salah satu teknologi yang mereka miliki, adalah flow molding extrusion yang kerap digunakan untuk membuat furnitur luar ruangan. Produk yang dihasilkan dari teknologi ini, diklaim bisa lebih tahan terhadap cuaca panas, dingin, lebih kuat, dan memiliki perawatan yang rendah daripada produk dengan bahan dasar kayu.

Melalui teknologi yang dimiliki, Ecollabo8 bahkan bisa memproduksi sampai 30.000 produk cetakan dalam sebulan dan dapat mengolah sampai belasan ribu kilogram sampah plastik per bulan.

Produk yang dihasilkan dari daur ulang sampah ini pun beragam, tergantung dari permintaan klien. Beberapa contoh produk yang telah dihasilkan oleh Ecollabo8, adalah countertop, loker di tempat gym, sofa, kursi, meja, ubin dinding, mural, trackpad, coaster, stan produk, dan sebagainya.

“Produk kami itu made by order. Jadi klien kadang suka request yang menantang, bagi kami setiap hari adalah hari yang baru,” lanjut Khalda.

Di dalam mendesain dan membuat produk permintaan klien, Ecollabo8 akan melalui proses desain dan konsultasi bisnis bersama seluruh tim yang terkait. Hasilnya, kata Khalda, sejauh ini klien Ecollabo8 sangat puas dengan produk yang mereka hasilkan. Apalagi Ecollabo8 menjual produk dengan harga yang bersaing dari pasaran.

Adapun salah satu proyek menantang yang pernah dihadapi Ecollabo8, adalah membuat pergola atau peneduh rumah dari 1.600 kilogram sampah plastik. Pasalnya, pergola ini merupakan produk terbesar yang sejauh ini Ecollabo8 buat dan proses logistik dengan desainer dan kontraktor merupakan bagian yang menantang.

“Kami berusaha sebaik mungkin agar proses produksinya bisa sangat berkelanjutan. Kalau misalnya ada waste, atau sisa-sisa dari potongan plastik itu kami recycle ulang. Lalu kami juga ada filter untuk limbah dari pengolahan plastik. Kami berusaha agar apa pun yang kami lakukan dalam proses produksi itu aman,” lanjut Khalda.

Khalda berharap, inovasi yang dilakukan Ecollabo8 bisa menjadi inspirasi dan bisa menjadi hal yang positif untuk masyarakat.

“Respons masyarakat yang sangat positif, menjadi motivasi kami untuk membuat yang lebih banyak lagi. Kami (merasa) harus bisa menginspirasi lebih banyak orang dan membuat orang sadar untuk lebih bijak menggunakan plastik. Apalagi, sebenarnya sampah plastik itu bisa diubah menjadi hal yang sangat bernilai,” tutup Khalda.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: