Pendiri Sungai Watch Gary Bencheghib (Foto: Instagram @garybencheghib)
Gary Bencheghib (28) merupakan pria berkewarganegaraan Prancis yang aktif menjadi aktivis lingkungan di Bali. Ia bahkan berhasil mengubah sampah plastik, menjadi sebuah rumah layak tinggal.
Pendiri Sungai Watch Gary Bencheghib memamerkan gebrakan baru, dengan membuat rumah mungil dari 35.000 kantong plastik.
Di dalam tahap perancangan, rumah mungil ini dibuat dengan desain modular. Semua kantong plastik yang terkumpul dibersihkan, disortir, dan ditekan menjadi panel plastik, sebelum akhirnya diubah menjadi sebuah rumah.
Bencheghib mengatakan, seluruh sampah plastik yang digunakan untuk material rumah dikumpulkan dari sungai dan garis pantai di Bali.
Rumah seluas 12 meter persegi ini dilengkapi dengan kasur besar, dapur, dan kamar mandi. Tidak hanya rumah, interior dan furnitur seperti rangka tempat tidur dan lemari dapur, juga seluruhnya terbuat dari limbah gelas plastik dan sedotan.

Sebagai sumber energi, Bencheghib lebih memilih menggunakan panel surya untuk menyalakan lampu, pengisi daya, kipas angin, dan peralatan kecil lain di rumahnya.
“Saya mencetuskan ide, ‘Mengapa tidak mendaur ulang plastik yang kami kumpulkan dari sungai dan kami menunjukkan bahwa kami bisa melakukannya’. Ini adalah proyek pribadi, sekaligus menjadi eksperimen yang menunjukkan bahwa kami benar-benar dapat membuat hal-hal menakjubkan dari sampah,” ujar Bencheghib dikutip dalam wawancara bersama Reuters, Selasa (25/4).
Setelah menyelesaikan rumah pertamanya yang terbuat dari plastik daur ulang, Bencheghib berniat untuk mengembangkan lebih lanjut model rumah tersebut dan memproduksinya secara massal untuk korban bencana alam.
Kecintaan Bencheghib pada lingkungan, membuatnya memulai gerakan bernama Sungai Watch pada tahun 2020 lalu.
Secara spesifik, Sungai Watch dibentuk untuk memerangi polusi plastik, membersihkan sungai yang tersumbat, sampah yang berserakan di pantai, dan mengurangi tempat pembuangan sampah ilegal.

Setelah 20 tahun tinggal di Indonesia, Bencheghib dan saudaranya merasa miris dengan banyaknya polusi plastik di sepanjang aliran sungai.
Untuk itu, Bencheghib memilih mengabdikan dirinya untuk menjaga sungai-sungai di Bali dari polusi plastik.
Gerakan tersebut dimulai di Bali yang tercatat menyumbang hampir satu juta ton sampah pada tahun 2021. Sampai saat ini, gerakan Sungai Watch masih berfokus pada sampah di Bali, Jawa Timur, dan Bekasi.
“Sungai yang bersih sama dengan lautan yang bersih. Jadi, kita harus mulai melindungi seluruh saluran air kita. Ini karena, pada akhirnya air yang bersih adalah hak asasi manusia,” tutup Bencheghib.

