Ilustrasi festival kue bulan (Foto: mersonsu10 via Pixabay)
Festival Pertengahan Musim Gugur (Hanzi tradisional: 中秋節; Hanzi: 中秋节; Pinyin: Zhōngqiū jié) atau yang dikenal dengan Festival Bulan atau Festival Kue Bulan, merupakan hari raya panen dan salah satu festival terpenting di Tiongkok.
Festival Kue Bulan biasanya dirayakan pada hari ke-15 bulan ke-8 Kalender Tionghoa. Masa tersebut merupakan momentum jarak bulan dan bumi menjadi sangat dekat, sehingga melambangkan bersatunya matahari (matahari) dan perempuan (bulan).
Di Tiongkok, Festival Pertengahan Musim Gugur adalah waktu reuni keluarga. Masyarakat Tionghoa merayakannya dengan berkumpul untuk makan malam, memuja bulan, menyalakan lentera kertas, makan kue bulan, dan sebagainya.
Pada perayaannya, biasanya masyarakat Tiongkok menyantap kue bulan (mooncake). Lebih dari sekadar kue, kudapan ini menjadi perlambang rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan permohonan agar diberi musim yang baik.
Mengutip dari Indonesia Travel, kue tradisional ala Tiongkok ini umumnya terbuat dari tepung terigu, tepung beras, atau kentang kukus, dan memiliki berbagai rasa, seperti manis, asin, dan pedas. Di dalamnya, terdapat isian berupa pasta dengan aneka varian, seperti kuning telur asin, kacang merah, kacang hijau, dan lain-lain.
Sejarah Festival Kue Bulan
Merangkum dari China Highlights, Festival Kue Bulan memiliki sejarah lebih dari 3.000 tahun. Ini merupakan upacara pengorbanan kerajaan yang terkait dengan pemujaan bulan dan kegiatan pertanian.
Orang-orang memuja bulan untuk mengucap syukur atas hasil panen dan untuk mendorong kembalinya “cahaya pemberi panen” di tahun mendatang.
Perubahan fase bulan, biasanya memberikan panduan untuk jadwal pertanian. Oleh karena itu, masyarakat percaya bahwa pemujaan pada bulan dapat menghasilkan panen yang baik.
Seiring berjalannya waktu, festival ini memiliki makna tambahan dan kini mencakup doa untuk kesehatan dan kebahagiaan.
Asal-usul Kue Bulan
Cerita tentang asal-usul kue bulan bervariasi. Para sejarawan umumnya sepakat bahwa kue ini pertama kali muncul pada masa dinasti Tang (618-907).
Namun, ada satu legenda patriotik yang menyebutkan bahwa pada masa dinasti Yuan (1271-1368), kaum revolusioner Han menyelundupkan pesan di dalam kue bulan untuk mengatur pemberontakan melawan kekuasaan Mongolia. Meski demikian, hanya ada sedikit bukti yang mendukung klaim ini.
Tradisi Selama Festival Kue Bulan
Sebagai festival terpenting kedua di Tiongkok, Festival Pertengahan Musim Gugur atau Festival Kue Bulan dirayakan dengan banyak cara tradisional. Berikut adalah beberapa perayaan tradisional yang populer dilakukan selama Festival Kue Bulan.
1. Makan Malam Bersama Keluarga
Bentuk bulan yang bulat melambangkan reuni keluarga. Biasanya, para keluarga akan menggelar makan malam bersama pada malam Festival Pertengahan Musim Gugur.
Selama perayaan Festival Kue Bulan, masyarakat Tionghoa biasanya mendapatkan hari libur agar memiliki cukup waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Mereka yang tinggal terlalu jauh dari rumah orang tuanya, biasanya berkumpul dengan teman-temannya.
2. Makan Kue Bulan
Kue bulan adalah makanan pertengahan musim gugur yang wajib disantap di Tiongkok. Ini merupakan kue tradisional Tiongkok berbentuk bulat dengan rasa manis yang melambangkan kelengkapan.
Pada Festival Pertengahan Musim Gugur, orang-orang menyantap kue bulan bersama keluarga atau mempersembahkan kue bulan kepada kerabat atau teman.
Hal tersebut, dilakukan untuk mengungkapkan cinta dan harapan terbaik mereka. Kue bulan biasanya disantap setelah makan malam sambil mengagumi bulan.
Tidak hanya kue bulan, makna tradisional Festival Pertengahan Musim Gugur adalah untuk merayakan panen.
Oleh karena itu makanan hasil panen seperti labu, jeruk bali, dan anggur, juga disukai selama periode Festival Pertengahan Musim Gugur ini. Biasanya, mereka menyantap hidangan tersebut dalam kondisi paling segar, paling bergizi, dan menikmati makna menguntungkan yang khususnya terkait dengan makanan berbentuk bulat.
3. Menghargai Bulan
Bulan purnama adalah simbol reuni keluarga dalam budaya Tiongkok. Secara sentimental, dikatakan bahwa bulan pada malam Festival Pertengahan Musim Gugur adalah yang paling terang dan paling indah.
Orang Tionghoa biasanya menyiapkan meja di luar rumah dan duduk bersama mengagumi bulan purnama sambil menikmati kue bulan yang lezat. Selain itu, orang tua yang memiliki anak kecil sering menceritakan legenda Chang’e Terbang ke Bulan. Sebagai permainan, anak-anak berusaha semaksimal mungkin menemukan bentuk Chang’e di bulan.
4. Menyembah Bulan
Menurut legenda Festival Pertengahan Musim Gugur, seorang gadis peri bernama Chang’e tinggal di bulan bersama seekor kelinci lucu.
Pada malam Festival Pertengahan Musim Gugur, orang-orang menyiapkan meja di bawah bulan dengan kue bulan, makanan ringan, buah-buahan, dan sepasang lilin menyala di atasnya.
Ada yang percaya bahwa dengan memuja bulan, Chang’e (dewi bulan) bisa mengabulkan keinginan mereka.
5. Membuat dan Membawa Lentera Festival Pertengahan Musim Gugur
Lentera adalah bagian penting dari Festival Pertengahan Musim Gugur. Orang-orang membuat lampion, membawa lampion untuk melihat bulan, menggantung lampion di pohon atau rumah, melepaskan lampion ke langit, atau mengunjungi pameran lampion di depan umum.
Lentera telah lama dikaitkan dengan festival ini sejak Dinasti Tang (618–907). Kemungkinan lentera ini dikaitkan karena simbol tradisional keberuntungan, cahaya, dan kebersamaan kekeluargaan.
Lentera Pertengahan Musim Gugur memiliki banyak bentuk dan bisa menyerupai binatang, tumbuhan, atau bunga.
Di dalam sebuah tradisi, biasanya masyarakat akan menulis teka-teki di lentera, sehingga orang lain dapat memecahkannya bersama teman atau keluarga.

