Kaligrafi Tiongkok

Agung Setiyoko pendiri sekolah seni gratis. (Foto: Kumparan.com)

Agung Setiyoko (45) warga Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, melakukan hal mulia dengan membangun sekolah seni gratis menggunakan uang pribadinya.

Pada tahun 2021 lalu, Agung menerima uang ganti rugi proyek strategis nasional (PSN) pembangunan tol Solo-Yogyakarta.

Mengutip dari detik.com, Agung menerima biaya ganti rugi sebesar Rp4,3 miliar karena lahan dan bangunan miliknya terkena dampak proyek pembangunan jalan tol tersebut.

“Luas lahan hampir 400-an meter persegi. Kalau sama bangunan ada sekitar 700 meter persegi,” ujar Agung dilansir dari Kompas.com, Senin (8/4).

Walaupun mendapatkan uang ganti rugi dalam jumlah besar secara mendadak, tetapi tidak membuat Agung menjadi konsumtif.

“Saya kira harus pintar-pintar memanfaatkan uangnya. Artinya bukan kita untuk konsumtif membeli hal-hal yang tidak berguna. Tapi bagaimana uang ganti rugi untuk digunakan secara baik minimal dari tanah kembali ke tanah. Syukur-syukur bisa untuk mengembangkan usaha dan lainnya. Karena tidak menutup kemungkinan terus pegang uang lupa apa yang tidak perlu dibeli,” sambung Agung.

(Agung Setiyoko. Foto: detik.com)

 

Membangun Sekolah Seni Gratis

Tidak digunakan sendiri, Agung memilih untuk menggunakan uang ganti rugi tersebut untuk membangun rumah pribadi dan sekolah seni gratis bagi masyarakat setempat.

Agung mengaku, dirinya memang sudah lama memilikirkan pendirian sekolah seni guna mengembangkan potensi budaya masyarakat. Agung sendiri juga sudah menyiapkan lahan untuk pembangunan sekolah tersebut.

“Saya buat sekolah seni, nanti kita gratiskan untuk masyarakat. Masyarakat dari mana saja,” kata Agung.

Agung mengatakan, sekolah seni itu nantinya akan dibuka beberapa kelas. Mulai dari pedalangan, karawitan, tari dan lainnya.

“Kita buka kelas pedalangan, karawitan secara kolektif, tari sampai Bahasa Jawa. Nanti yang tari di samping sama bahasa, nanti kalau Bahasa Jawa kita bekerja sama dengan sekolah,” paparnya.

Agung melanjutkan, di sekolah tersebut direncanakan akan ada pembelajaran kepada masyarakat, termasuk untuk instansi atau individu. Nantinya, pembelajaran juga akan bekerja sama dengan berbagai pihak.

Adapun sekolah seni itu, merupakan kelanjutan dari kegiatan Agung sebagai seniman yang pernah dilakukan di rumah lama di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo.

“Kita baru awali, sementara kita baru road show gamelan untuk mendekatkan dengan masyarakat, kita datangi komunitas secara terbatas karena masih PPKM. Dulu pernah di rumah lama tapi kena tol,” ujarnya.

 

Target Sekolah Seni

Agung sendiri, ingin kesenian daerah yang saat ini sudah mulai luntur karena perkembangan zaman, bisa tumbuh kembali di tengah masyarakat.

Meski demikian, kata Agung, anak-anak tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena memang tidak ada fasilitas pembelajaran yang mendukung.

Untuk itu, Agung ingin melahirkan fasilitas tersebut, sehingga masyarakat bisa diajak untuk menghidupkan lagi kesenian daerah.

“Rumah saya habis kena tol, tapi bahan yang bisa kita pakai kita pakai. Target kita sederhana, misalnya belajar Bahasa Jawa pulang ya bisa berbahasa Jawa krama pada orang yang lebih tua, bukan sekolah formal, tapi kita tata dengan kurikulum,” katanya.

Total luas lahan sekolah seni yang dibangun Agung, adalah sekitar 1.600 meter persegi yang dibeli dari uang ganti rugi proyek tol. Untuk sekolah tari rencananya akan menyewa lahan di sebelahnya.

“Kita sewa lagi lahan di samping untuk tari. Sekolah seni itu sudah niatan kita sejak sebelum ada tol karena kegiatan saya memang di kerja seni,” kata Agung.

Menurut Agung, ganti rugi tol yang diterima dianggapnya sebagai rezeki, sehingga membangun rumah tinggal itu adalah hal pertama yang ia lakukan. Kalaupun ada sisa, uangnya akan digunakan untuk kegiatan sosial.

Agung mengaku tidak ingin membeli banyak rumah, tanah, atau investasi lainnya.

“Untuk rumah tinggal kita sudah ada rumah dua ini. Di Delanggu, di warung juga ada, jadi sudah cukup,” tutup Agung.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: