Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi tes kehamilan (Foto: dangutsu via Getty Images)

Kehamilan ektopik (ectopic pregnancy) adalah kelainan kehamilan ketika hasil pembuahan antara sel telur dan sperma menempel di luar rahim, biasanya di salah satu saluran tuba.

Kehamilan ektopik atau yang sering disebut sebagai hamil di luar kandungan, adalah kelainan implantasi dari pembuahan sel telur.

Mengutip dari NHS, sel telur yang telah dibuahi oleh sperma secara alami seharusnya akan menempel pada dinding rahim. Namun, pada kehamilan ektopik ini hasil pembuahan menempel pada tempat lain selain di dinding rahim.

Umumnya, tempat yang paling sering menjadi tempat penempelan adalah di saluran indung telur yang mana tempat ini seharusnya tidak dirancang untuk penempelan hasil pembuahan.

 

Penyebab Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik umumnya terjadi akibat kerusakan pada tuba falopi. Beberapa kondisi yang dapat menimbulkan kerusakan pada tuba falopi, adalah endometriosis, penyakit radang panggul, gangguan keseimbangan hormon, kelainan bawaan lahir pada tuba falopi, serta terbentuknya jaringan parut akibat prosedur medis pada kandungan.

Kerusakan ini membuat tuba falopi menyempit atau tersumbat, sehingga pergerakan sel telur ke rahim terhambat. Saluran tuba adalah saluran yang menghubungkan ovarium ke rahim.

Jika sel telur tersangkut di dalamnya, sel tersebut tidak akan berkembang menjadi bayi dan kesehatan ibu mungkin berisiko jika kehamilan berlanjut. Biasanya, ibu yang menderita kehamilan ektopik harus diangkat menggunakan obat atau operasi.

 

Faktor Risiko Kehamilan Ektopik

Ada beberapa faktor yang turut meningkatkan risiko seseorang mengalami kehamilan ektopik. Di antaranya adalah hamil di usia 35 hingga 44 tahun, terdapat riwayat operasi pada area panggul atau perut, kebiasaan merokok, adanya riwayat kehamilan ektopik sebelumnya.

Kemudian, risiko lainnya adalah pernah menjalani program kesuburan seperti in vitro fertilization (IVF), kehamilan yang terjadi setelah melakukan steril atau menggunakan alat kontrasepsi IUD dalam rahim.

 

Gejala Kehamilan Ektopik

Umumnya, kehamilan ektopik tidak selalu menimbulkan gejala dan hanya dapat dideteksi selama pemindaian kehamilan rutin.

Jika terindikasi memiliki gejala, biasanya gejala tersebut cenderung berkembang antara minggu ke-4 dan ke-12 kehamilan.

Beberapa gejala yang mungkin timbul, adalah terlambat haid dan tanda-tanda kehamilan lainnya, sakit perut rendah di satu sisi, pendarahan vagina atau keluarnya cairan berwarna coklat, rasa sakit di ujung bahu, hingga ketidaknyamanan saat buang air kecil atau buang air besar.

Meski demikian, beberapa gejala ini belum tentu merupakan tanda masalah serius. Tanda-tanda tersebut terkadang bisa disebabkan oleh masalah lain seperti sakit perut.

 

Pengobatan Kehamilan Ektopik

Secara umum, ada tiga perawatan utama untuk kehamilan ektopik, yakni sebagai berikut.

Pemantauan kehamilan, ibu hamil perlu dipantau dengan hati-hati dan diberikan salah satu perawatan oleh dokter, jika sel telur yang telah dibuahi tidak larut dengan sendirinya.

Pemberian obat, pemberian suntikan obat kuat yang disebut metotreksat oleh dokter. Suntikan ini, digunakan untuk menghentikan pertumbuhan kehamilan.

Operasi lubang kunci (laparoskopi), dilakukan dengan anestesi umum untuk mengangkat sel telur yang telah dibuahi, biasanya bersamaan dengan tuba falopi yang terkena.

Ibu hamil akan diberi tahu terkait manfaat dan risiko dari setiap pengobatan. Di dalam banyak kasus, perawatan tertentu akan direkomendasikan berdasarkan gejala dan hasil tes yang dilakukan.

Beberapa perawatan dapat mengurangi peluang ibu untuk dapat hamil secara alami di masa mendatang, meskipun sebagian besar wanita masih dapat hamil. Pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan perawatan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: