Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi lumpuh layu akibat Virus Polio Tipe 2 | Foto: Instagram

Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan tiga kasus lumpuh akut atau acute flaccid paralysis (AFP) yang disebabkan oleh Virus Polio Tipe 2. Apa obatnya?

Mengutip dari situs web Kemenkes kasus ini pertama kali ditemukan pada Desember 2023 di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. 

Kemudian, satu kasus ditemukan pada Januari 2024, ketiga kasus berada di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Maxi Rein Rondonuwu menjelaskan, ketiga kasus terjadi pada anak dengan rentang usia 1 tahun sampai 6 tahun. 

Anak harus menerima vaksin polio tetes (OPV) dan vaksin polio suntik (IPV) secara rutin | Foto: BBC

 

Apa Itu Polio

Pada dasarnya, polio merupakan penyakit yang disebabkan karena Virus Polio dan Polio bersifat menular. Polio adalah penyakit yang dapat menyebabkan pengidapnya mengalami kelumpuhan secara permanen (lumpuh layu). 

Lumpuh layu atau acute flaccid paralysis (AFP) adalah kondisi seseorang mengalami kelumpuhan secara permanen. 

Salah satu yang dapat menyebabkan lumpuh layu adalah Virus Polio Tipe 2. Pada kasus polio, biasanya menyebabkan para pengidapnya secara mendadak tidak bisa berjalan atau kelemahan pada bawah tubuh (kaki). 

Biasanya, polio menyerang saraf motorik yang merupakan saraf pergerakan. Namun, pada kasus polio berat dapat menyerang sumsum tulang hingga saraf pernapasan. Sampai saat ini,  belum ada obat khusus untuk polio dan tindakan pencegahan yang bisa dilakukan adalah melakukan vaksin polio.

“Kalau yang berat (polio) bisa ke sumsum tulang. Malah yang paling parah, memang kejadiannya kecil, kurang dari 1% tapi polio yang berat bisa menyebabkan kematian jadi kena ke saraf pernapasan,” kata dr. Ackni Hartati Spesialis Anak dikutip dari tayangan YouTube DAAI Family, Senin (15/1/2024).

 

Gejala Polio

Pada umumnya, polio lebih rentan terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun. Ini karena, anak-anak dengan usia tersebut biasanya belum memperoleh imunisasi yang lengkap dan memiliki imunitas yang belum sempurna.

Seseorang yang terinfeksi virus polio akan memiliki beberapa gejala. Gejala polio ringan (polio non-paralitik) ditandai dengan suhu badan yang panas seperti terinfeksi virus pada umumnya. 

Biasanya, suhu badan tinggi ini berlangsung selama 3-6 hari, sehingga orang tua perlu segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat. 

Di sisi lain, gejala polio berat ditandai dengan suhu badan tinggi selama periode 7-21 hari, biasanya gejala ini akan diikuti dengan lumpuh layu.

Orang tua umumnya tidak menyadari ini karena anak-anak akan sembuh dengan sendirinya, padahal mungkin anak sedang terinfeksi virus polio.

“Bisa saja, kalau dia (anak) tidak berobat atau imunitasnya rendah, sehingga dia menyebabkan gejala paralitik. Paralitik itu kelumpuhan,” ucap dr. Ackni.

 

Penyebab Polio 

“Beberapa faktor risiko terjadinya penularan Virus Polio, adalah rendahnya cakupan Imunisasi Polio. Risiko lainnya, adalah kondisi kebersihan lingkungan dan perilaku hidup bersih yang kurang baik seperti Buang Air Besar (BAB) sembarangan, baik itu di sungai maupun pada sumber air yang juga digunakan pada kehidupan sehari-hari,” kata dr. Maxi dikutip dalam keterangannya.

Selain itu, dr. Maxi menjelaskan bahwa Virus Polio lebih mudah berkembang biak pada pencernaan anak yang belum menerima imunisasi polio atau status imunisasinya tidak lengkap. 

Virus Polio yang berkembang akan menyerang sistem saraf pada tubuh anak, sehingga akan mengalami kelumpuhan (lumpuh layu akut).

 

Cara Mencegah Polio

Dilansir dari situs web Kemenkes, masyarakat harus memperhatikan riwayat vaksin anak dan memastikan agar anak-anak mendapatkan imunisasi polio rutin dan lengkap. 

Anak-anak harus mendapatkan vaksin polio tetes (OPV) sebanyak 4 kali dan vaksin polio suntik (IPV) sebanyak 2 kali. Imunisasi polio pada anak harus dilakukan secara rutin sebelum anak berusia 1 tahun. 

Kemudian, anak-anak berdomisili Jawa Tengah dan Jawa Timur termasuk Kabupaten Sleman Provinsi DIY dengan rentang usia 0 sampai 7 tahun akan menerima tambahan vaksin polio tetes (OPV) sebanyak 2 kali. Vaksin polio tetes (OPV) akan dilakukan mulai tanggal 15 Januari 2024 dalam kegiatan Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN). 

Selanjutnya, masyarakat harus menerapkan hidup sehat dan bersih. Misalnya seperti,  mencuci tangan sebelum makan dan setelah membuang air. 

Terakhir, masyarakat diimbau untuk memberikan laporan kepada petugas kesehatan atau pada puskesmas jika menemukan kasus anak di bawah 15 tahun yang mengalami lumpuh layu mendadak.



Penulis: Kerin Chang

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: