Kaligrafi Tiongkok

Heni Sri Sundani pendiri sekolah gratis. (Foto: Refleksi DAAI TV)

Bertekad untuk memutus rantai kemiskinan di kalangan anak-anak buruh tani, Heni Sri Sundani menggagas gerakan Anak Petani Cerdas.

Salah satu cara untuk meningkatkan taraf hidup adalah melalui pendidikan, tetapi tidak semua orang bisa mengakses pendidikan dengan layak dan mudah.

Untuk menambah kesempatan anak-anak buruh tani dalam mengakses pendidikan yang layak, Heni pun membuat gerakan Anak Petani Cerdas.

Heni sendiri merupakan anak buruh petani yang dulu hidup dalam kemiskinan, bahkan Heni pernah menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong.

Namun, semangat dan perjuangannya untuk mengenyam pendidikan tinggi patut diacungi jempol. Apalagi, kini Heni juga memberdayakan banyak orang di sekitarnya.

“Saya nggak kebayang bahwa hidup akan membawa saya ke sini, tapi satu hal yang saya percaya, bahwa pendidikan itu bisa jadi salah satu jalan,” ujar Heni dikutip dari tayangan YouTube Refleksi DAAI TV, Jumat (19/4).

 

Masa Sekolah Heni

Dibesarkan oleh neneknya, semasa duduk di bangku SD Heni harus berjalan kaki selama 2 jam menuju sekolahnya, bahkan Heni harus menempuh perjalanan 4 jam setiap hari saat SMP.

Meski demikian, semua itu dijalani Heni dengan penuh keikhlasan dan tanpa mengeluh, demi mengejar cita-citanya menjadi seorang guru.

Heni mengaku, sejak kecil dirinya memiliki cita-cita untuk menjadi guru. Namun, perekonomian keluarganya yang kekurangan membuat Heni mengurungkan niatnya menjadi guru.

“Dari kecil, kan, saya punya cita-cita saya pengin banget jadi guru, tapi kalau misalkan pengin jadi guru kan harus berkuliah. Namun, dengan kondisi keluarga saya, saya terlahir di tengah keluarga yang menurut saya begitu banyak alasan untuk saya gagal,” sebut Heni.

(Heni menggagas Anak Petani Cerdas)

 

Menjadi PMI di Hong Kong

Setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Heni memutuskan untuk mencari peruntungan di luar negeri sebagai PMI di Hong Kong, pada tahun 2005 hingga 2011.

Bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk mengumpulkan uang demi mewujudkan cita-citanya, yakni menempuh pendidikan tinggi.

“Tapi waktu itu meskipun saya berangkat jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), saya punya tekad nanti saya pulang harus jadi sarjana,” kata Heni.

Perjalanan Heni untuk mengejar pendidikannya tidak mudah. Ia mengaku, saat itu agensi Balai Latihan Kerja Luar Negeri (BLK-LN) yang mengirimkannya ke Hong Kong ternyata memalsukan identitas Heni.

Akibatnya, Heni menerima gaji yang tidak sesuai dengan apa yang tertera dalam kontrak kerjanya. Seharusnya, Heni bisa menerima gaji bulanan sebesar HKD 3.200 (sekitar Rp6,6 juta), tetapi gaji yang diterima Heni setiap bulannya hanya setengahnya.

“Itu pun saya masih tidak mendapatkan hak saya, seperti hak untuk libur setiap pekan dan setiap tanggal merah. Jadi memang perjalanannya itu berdarah-darah,” ungkap Heni.

Setelah setahun, yang artinya sudah bisa mengambil libur pada akhir pekan, Heni mengisi waktu liburnya dengan pergi ke perpustakaan untuk membaca buku, bahkan berkuliah D3 jurusan IT tanpa sepengetahuan majikannya.

Di perpustakaan, Heni juga banyak mengakses informasi terkait hukum ketenagakerjaan yang ada di Hong Kong. Tidak ketinggalan, Heni bergabung dengan organisasi-organisasi yang bisa membuka kesadarannya terkait hukum ketenagakerjaan di Hong Kong.

“Akhirnya jadi saya tahu, bahwa apa yang dilakukan sama majikan saya itu tidak benar. Jadi setelah saya selesai kontrak 2 tahun dengan majikan saya, saya langsung pindah ke majikan yang baru. Alhamdulillah majikan yang baru ini suportif banget, mendukung saya kuliah sampai akhirnya saya bisa kuliah S1 jurusan Entrepreneurial Management di Saint Mary’s University Hong Kong, dan saya bisa lulus dengan pujian (cum laude),” lanjutnya.

(Anak-anak di Gerakan Petani Cerdas)

 

Menciptakan Gerakan Anak Petani Cerdas

Heni bercerita, saat kembali pulang ke rumah, ia menjadi anak buruh tani pertama yang bisa mendapatkan gelar sarjana.

“Kalau orang lain dari luar negeri itu oleh-olehnya mungkin barang-barang bermerek, kalau saya itu oleh-olehnya dulu bawa lebih dari 3.000 buku dari Hong Kong. Terus saya bikin perpustakaan di rumah ibu saya. Jadi dulu saya ajak anak-anak sekitar untuk baca buku. Kita pengin bantu dan berbuat sesuatu untuk anak-anak ini. Sederhananya kita kasih les gratis,” jelas Heni.

Ketika melihat anak-anak buruh tani belajar, Heni merasa seperti sedang becermin karena pernah ada di posisi yang sama sebelumnya.

Melihat antusiasme anak-anak dalam belajar, akhirnya Heni membuat gerakan Anak Petani Cerdas untuk membantu anak-anak buruh petani, atau anak-anak keluarga marginal yang punya tekad kuat untuk meraih mimpi-mimpinya.

“Jadi Anak Petani Cerdas ini, punya misi untuk memutus mata rantai kemiskinan mulai dari pendidikan. Saya percaya bahwa pendidikan itu bisa memutus mata rantai kemiskinan karena saya sudah membuktikan itu,” kata Heni.

Heni mengaku cukup sedih jika ada anak yang cerdas dan rajin tapi tidak bisa melanjutkan sekolah, lalu berakhir menikah dini dengan kondisi ekonomi yang belum stabil.

Pasalnya, ini akan menjadi mata rantai kemiskinan di dalam keluarganya. Untuk itu, melalui Anak Petani Cerdas, Heni ini memaksimalkan potensi setiap anak agar bisa berkembang sesuai minat dan kemampuannya, serta memberikan dukungan penuh sebisa mungkin.

Heni melanjutkan, “Dulu saya merasakan sendiri ketika saya berjuang sendirian itu berat banget dan saya nggak ingin anak-anak ini dibiarkan untuk berjuang sendirian. Mereka harus berjuang untuk bisa mewujudkan mimpinya, tapi kita bisa bantu mereka supaya mereka bisa berjuang sampai akhir.”

(Anak-anak di Gerakan Petani Cerdas)

 

Program Unggulan Anak Petani Cerdas

Heni menjelaskan, ada beberapa program unggulan dari gerakan Anak Petani Cerdas. Pertama, adalah sekolah gratis yang bersifat informal.

Anak-anak yang mengikuti kegiatan ini, akan belajar setiap akhir pekan setiap pulang sekolah. Sebagian besar hal yang diajarkan oleh Heni adalah kemampuan hidup (life skill) yang dibutuhkan anak-anak.

Mulai dari kemampuan berkomunikasi, berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sampai kemampuan mendongeng.

“Kita juga ada belajar pertanian dan sebagainya, banyak banget (program yang ditawarkan) disesuaikan dengan kebutuhannya anak-anak didik,” sebut Heni.

Anak Petani Cerdas juga punya program beasiswa, mulai dari level SD sampai dengan universitas. Untuk besaran beasiswanya sendiri, tergantung dengan kebutuhan anak-anak dan kemampuan donatur yang 80% berasal dari luar negeri.

Sampai saat ini, sudah ada lebih dari 12.000 Anak Petani Cerdas yang merasakan manfaat dari gagasan Heni.

(Heni memberdayakan petani)

 

Membuat Kebun Komunitas

Heni bercerita, di kawasan tempat tinggalnya sangat marak alih fungsi lahan dari yang sebelumnya lahan pertanian produktif, lalu dijual oleh pemiliknya dan akhirnya diubah menjadi villa, ruko, atau perumahan.

Akibatnya, buruh tani yang sebelumnya menggantungkan hidup pada lahan pertanian tersebut berakhir kehilangan pekerjaannya.

Melihat keresahan ini, Heni akhirnya membuat konsep bernama Kebun Komunitas. Nantinya, Heni akan membeli lahan pertanian lalu lahan tersebut diwakafkan untuk memberdayakan petani-petani sekitar.

“Jadi petani yang sudah lansia, mereka masih tetap bisa bekerja di lahan-lahan ini. Nah, mereka setiap bekerja ini, kan, jadi dapat upah. Mereka jadi bisa mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya,” ungkap Heni.

Mayoritas penggarap lahan pertanian, adalah para lansia yang tinggal di lingkungan sekitar, sehingga proses penggarapan kebun tidak bisa dilakukan dengan cepat.

Meski demikian, Heni lebih mementingkan pemberdayaan yang bisa ia berikan kepada masyarakat sekitar. Harapannya, petani yang bisa mandiri dan berdaya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa kesulitan.

“Saya percaya bahwa semua orang itu punya kesempatan yang sama untuk berhasil, mewujudkan mimpi-mimpinya, untuk sukses, untuk bahagia. Tapi apa pun kondisinya, ketika kita mau berjuang kita sudah punya tujuan, sudah punya cita-cita dan kita mau berjuang untuk mewujudkannya, kita pasti bisa kok. Ketika saya melihat ke belakang, saya berterima kasih sama diri sendiri karena sudah mengambil keputusan yang benar di masa lalu, meskipun keputusan itu begitu berat,” tutup Heni.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: