HKRITA Garment-to-Garment (Foto: scmp.com)
The Hong Kong Research Institute of Textiles and Apparel (HKRITA) menjadi satu-satunya perusahaan di dunia yang mendaur ulang baju bekas yang tidak layak pakai menjadi baju baru.
HKRITA menciptakan lini produksi mini yang bisa mengubah post-consumer garments menjadi pakaian yang bersih dan layak pakai.
Adapun post-consumer garments, adalah pakaian bekas yang sudah rusak, dibuang, using atau ketinggalan zaman.
Sebagaimana diketahui, tren mode yang terus berubah membuat limbah tekstil menjadi ancaman bagi generasi mendatang. Pasalnya, tempat pembuangan akhir (TPA) kini dipenuhi dengan tumpukan pakaian yang tidak diinginkan dan dibuang.
Demi mengatasi masalah ini, HKRITA pun menciptakan Mini Mill, atau sistem daur ulang Garmen-ke-Garmen (G2G). Mesin ini memiliki delapan langkah yang mengakomodasi proses hulu ke hilir, serta berjalan dalam wadah kaca setinggi 12 meter.
Transparansi dari tempat ini, memungkinkan pengunjung untuk melihat komponen-komponen yang menjalankan sistem, serta memungkinkan mereka melihat bagaimana cara mesin ini memperbarui pakaian lama.
Menariknya lagi, mereka dapat membawa pakaian bekas mereka dan melihatnya berubah menjadi pakaian baru.

Proses Daur Ulang
Ada delapan langkah yang dilakukan sistem Mini Mill untuk mendaur ulang pakaian, yakni sebagai berikut.
- Sanitasi: Pertama, pakaian bekas disanitasi di dalam ruang ozon untuk menghilangkan mikroorganisme pada pakaian.
- Pembukaan: Pakaian bekas kemudian dicabik-cabik hingga menjadi benang, lalu serat kain dipisahkan dalam mesin pembuka serat.
- Pembersihan: Selanjutnya, bahan yang telah disobek dibagi menjadi gumpalan-gumpalan serat. Kotoran yang menempel pada gumpalan tersebut, kemudian dibersihkan dalam mesin pembersih.
- Carding: Gumpalan-gumpalan tersebut kemudian di-carding dan disejajarkan dengan orientasi yang sama, sehingga menjadi jaring serat.
- Penarikan: Langkah selanjutnya membentuk jaring serat yang menjadi irisan-irisan. Kemudian, sejumlah irisan ditarik bersama untuk membentuk unit-unit dan tekstur yang lebih baik.
- Pemintalan Rotor: Sejumlah serat yang sudah longgar, selanjutnya dimasukkan ke dalam rotor berkecepatan tinggi dan dipintal menjadi benang tunggal.
- Penggandaan dan Pemintalan: Dua benang tunggal kemudian digabungkan dan benang ganda ini dimasukkan ke dalam mesin pemintalan. Nantinya, benang tersebut akan berubah menjadi benang lapis untuk meningkatkan kekuatan dan menyeimbangkan torsi.
- Perajutan: Terakhir, garmen baru dibuat dengan menggunakan mesin rajut garmen utuh, atau kain rajutan diproduksi dengan mesin rajut flatbed.

Apa Keunggulannya?
Mesin ini hadir dengan desain anti getaran, kebisingan, dan debu untuk meminimalkan gangguan pada lingkungan di sekitarnya. Proses daur ulangnya pun tidak menggunakan air, sehingga sangat ramah lingkungan.
Chief Executive Officer (CEO) HKRITA Prof. Edwin Keh mengatakan, pihaknya menginginkan sebuah sarana untuk menggaungkan konsep daur ulang secara aktif kepada konsumen.
Menurutnya, ide pembuatan G2G muncul pada musim panas 2017. Kala itu, Keh mengajukan permohonan pendanaan kepada Innovation and Technology Fund, H&M Foundation, serta Novetex Textiles yang menjadi tiga sponsor untuk proyek ini.
“Konsepnya sangat menarik, sehingga kami mendapatkan persetujuan dalam waktu singkat. Kami mulai bekerja pada bulan September 2017 dan toko G2G dibuka pada bulan September 2018. Hanya butuh waktu satu tahun dari beberapa sketsa pensil hingga menjadi sebuah toko, tetapi itu adalah pekerjaan yang sangat berat,” ujar Keh, dikutip Senin (13/11).

Rencana ke Depan
Menurut Keh, inovasi harus menjadi aspek terpenting dalam upaya go green karena solusi konvensional tidak cukup baik, dan tidak akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Keh menjelaskan, di dalam proyek G2G sendiri ada banyak tantangan yang dihadapi. Mulai dari pencarian inovasi, teknis, pencarian model bisnis, sampai pemasaran.
“Kami memiliki visibilitas yang baik di hulu dan hilir. Hal ini membantu kami memahami di mana saja peluang dan apa yang harus kami kerjakan. Mari kita manfaatkan keuntungan tersebut untuk industri yang sangat kita kenal,” tutup Keh.

