Sumandi, korban bully dari Lombok| Foto: Instagram.com/andi.excellent.new
Pernahkah Sahabat DAAI mendapat tindakan yang tidak menyenangkan, seperti bullying atau perundungan saat berada di lingkungan sekolah atau tempat umum?
Bullying atau perundungan adalah tindakan negatif yang dilakukan untuk merugikan, menyakiti, bahkan melukai seseorang, baik secara verbal maupun fisik.
Faktanya, tindakan ini dapat terjadi di lingkungan sekitar, seperti rumah, sekolah, tempat umum, tempat kerja, media sosial (cyberbullying) dan bisa dilakukan oleh siapa saja.
Sumandi Korban Bully Asal Lombok
Salah satu korban bullying adalah Sumandi, pria asal Lombok yang kerap disapa Andi pernah mendapatkan tindakan bullying selama bertahun-tahun.
Saat masih dibangku sekolah, Andi kerap mendapatkan tindakan perundungan verbal bahkan fisik.
“Aku sering diejek teman sekelas karena kondisi fisik. Hal ini bikin aku selalu minder kalau berinteraksi dengan orang lain, bahkan aku hampir depresi saat SD. Saat SMP, aku juga pernah dikeroyok 1 geng hanya karena masalah sepele,” jelas Andi dikutip dari Instagram @kobieducation, Rabu (21/2/2024).

Sumandi kini berada di Australia untuk belajar bisnis | Foto: Instagram.com/andi.excellent.new
Perjalanan Menjadi Sukses
Andi mengaku, sejak saat itu dirinya bertekad untuk melawan bullying dengan caranya sendiri. Menjadi korban bully tidak mematahkan semangatnya dan justru memotivasi dirinya untuk menjadi orang sukses.
Tahun 2013, Andi berambisi untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Setelah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), Ia mendaftarkan diri ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Brawijaya (UB). Sayangnya, saat itu ia belum berhasil lolos ke dalam PTN.
Andi kemudian melanjutkan pendidikannya ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan lulus dengan mendapatkan predikat lulusan terbaik.
Semasa Andi berkuliah, ia tidak hanya mengejar prestasi, tetapi berusaha untuk memperbaiki diri menjadi sosok yang lebih baik. Ia bertemu dengan seorang mentor yang kemudian memotivasi dirinya agar lebih aktif untuk mengikuti lomba dan konferensi.
Sejak saat itu, Andi mulai bertekad untuk melanjutkan pendidikannya dengan cara mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Menyadari kekurangannya dalam berbahasa, Andi kemudian belajar Bahasa Inggris selama satu tahun.
Namun, ambisi Andi harus terhenti karena ia tidak berhasil mendapatkan beasiswa yang telah didaftarkan. Melihat tabungannya yang semakin menipis, ia memutuskan untuk pulang ke kampungnya dan membuka usaha sambil mengejar beasiswa.
“Aku mendapat cemooh (ejekan) dari kerabat dan lingkungan karena belum menjadi apa-apa. Orang-orang berpikiran kalau sukses itu harus jadi Pegawai Negeri Sipis (PNS) atau pegawai berdasi,” jelas Andi.
Tak lama, bisnisnya terpaksa tutup dan membuat Andi sempat terlilit hutang dengan jumlah yang banyak.
Menghadapi bully-an dari lingkungannya karena dianggap tidak sukses, Andi tetap fokus pada mengejar beasiswa hingga akhirnya ia berhasil diterima 2 beasiswa untuk melanjutkan S2, yaitu beasiswa Erasmus untuk berkuliah di Prancis dan beasiswa Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk berkuliah di Polandia.
Akhirnya, Andi menyelesaikan S2 dalam waktu 2 tahun dengan mendapatkan mendapat 2 gelar sekaligus (double degree).
Saat ini, Andi berhasil mengejar mimpinya untuk belajar bisnis di Australia. Ia mengaku, nantinya ia akan menerapkan ilmu yang didapat ke Lombok.
“Teruslah bermimpi, karena mimpi itu gratis. Jika hari ini kamu gagal, coba lagi sampai gagal itu menjadi kesuksesan,” tutup Andi pada Instagram pribadinya @andi.excellent.new.
Penulis: Kerin Chang
Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

