Kaligrafi Tiongkok

Tatiek Kancaniati pendiri Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru (KWBT) (Foto: YouTube Refleksi DAAI TV)

Tatiek Kancaniati merupakan sosok penting di balik adanya Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru (KWBT), Kec. Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia berhasil mengubah 70% penduduk kampung menjadi pelaku UMKM.

Tatiek Kancaniati merupakan penggagas dari KWBT. Selain mengurus operasional bisnis di kampung, Tatiek juga melakukan banyak program pengembangan kemampuan bisnis di beberapa desa di seluruh Indonesia.

Tatiek bercerita, awalnya ia pernah tinggal di kota lain setelah menikah, tetapi ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Tegalwaru.

“Anak-anak juga waktu itu (saat) balita terkena flek paru-paru karena sepertinya tidak cocok tinggal di perumahan. Nah, saya sendiri juga lebih kerasan dengan kondisi desa, akhirnya kami memutuskan untuk balik ke kampung halaman,” ujar Tatiek dikutip dalam tayangan YouTube Refleksi DAAI TV, Jumat (21/4).

Selama tinggal di desa, Tatiek mengaku banyak berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kebetulan, saat tahun 2006 lalu, ia juga melihat data-data tentang Desa Tegalwaru.

Menurutnya, saat itu Desa Tegalwaru masih menyandang status desa tertinggal karena tingkat gizi buruk, pengangguran, dan lain sebagainya masih tinggi.

Berawal dari tingkat kemiskinan yang tinggi, akhirnya Tatiek bertekad untuk mengupayakan kesejahteraan masyarakat desa.

Pada tahun 2008, Tatiek sempat mengikuti sebuah program bertajuk Social Young Entrepeneur Leader yang menjabarkan tentang pola-pola pemberdayaan masyarakat.

Setelah mengikuti program tersebut, Tatiek mulai menyadari kalau masyarakat di desa tersebut punya banyak keterampilan. Mulai dari memproduksi tas sendiri, pandai besi, berpengalaman di industri kreatif, dan sebagainya.

Melihat potensi ini, akhirnya Tatiek mengembangkan ide untuk memberdayakan masyarakat desa lewat usaha ekonomi produktif.

“(Saya ajak) Ayo kita mulai bisnis dari rumah, ayo kita mulai bisnis dari passion kita, ayo kita mulai bisnis dari modal yang sederhana di sini banyak model-modelnya,” kata Tatiek.

Akhirnya, warga desa mulai tergerak untuk mengembangkan potensi diri mereka masing-masing, sampai akhirnya terbentuklah KWBT.

Seorang perajin tas di KWBT bernama Sukatma mengatakan, Tatiek adalah orang yang berprinsip dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi rintangan. Tatiek jugalah yang mendorong Sukatma untuk mengembangkan bisnisnya ke skala yang lebih besar.

“(Saya memulai usaha ini) karena sudah belajar usaha di pabrik tas sejak lama. Selain itu, tas juga barang yang tidak akan basi. Jadi kemungkinan rugi itu sangat kecil,” ungkapnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Sutiah, seorang perajin produk herbal di KWBT. Menurutnya, meskipun ada banyak ujian dan pertentangan dari banyak pihak saat awal KWBT berdiri, tetapi Tatiek tetap semangat dan tidak gentar.

Berkat kerja keras Tatiek dan kerja sama yang baik dengan masyarakat setempat, KWBT berhasil berdaya dan bangkit dari status desa tertinggal.

Menurut Tatiek, ada dua kunci bagi wirausahawan baru yang ingin mengembangkan usahanya, yakni harus punya jiwa kedermawanan dan silaturahmi.

Ini karena, tentunya seorang wirausahawan akan menemukan banyak permasalahan saat menjalankan bisnis. Untuk itu, kita juga harus turut serta menjadi bagian dari local hero dan memberikan banyak masukan bagi yang membutuhkan.

Kemudian, seorang wirausahawan juga harus punya jiwa silaturahmi. Apalagi, saat mengembangkan bisnis kita butuh jaringan yang luas untuk bisa menyelesaikan masalah.

“Kita nggak bisa sendirian, jadi kita harus buat kekuatan jaringan di mana saja, baik internal maupun eksternal. Jadi, kita bisa mengentaskan masalah yang kita hadapi. Untuk para pegiat UMKM, ini saatnya kita menemukan passion diri kita dulu. Kemudian berkomunitaslah karena ini bisa memudahkan usaha-usaha kita,” tutup Tatiek.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: