Indonesia Hasilkan Sampah Makanan 20,9 Juta Ton Per Tahun, Apa Penyebabnya? | Foto: Canva
Sahabat DAAI, apakah kalian tahu Indonesia berada di peringkat keempat sebagai pencetak sampah makanan terbesar di dunia. Apa penyebabnya?
Mengutip dari United Nations Environment Programme (UNEP, 2021), Indonesia berada di peringkat keempat sebagai negara dengan pencetak sampah makanan terbesar di dunia.
Melalui laporan UNEP, Indonesia menghasilkan 20,93 juta ton sampah makanan per tahun.
Tidak hanya Indonesia, peringkat pertama penghasil sampah makanan ditempati oleh China dengan jumlah sampah makanan sebanyak 91,6 juta ton. Peringkat kedua ditempati oleh India dengan jumlah sampah makanan sebanyak 68,7 juta ton.
Kemudian, peringkat ketiga ditempati oleh Nigeria dengan jumlah sampah makanan 37,9 juta ton. Terakhir, peringkat kelima ditempati oleh Amerika Serikat (AS) dengan jumlah sampah 19,3 juta ton.
Melansir dari situs web Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2023, sisa makanan adalah jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat Indonesia dengan jumlah 40,9%.
Pada dasarnya, sampah makanan Indonesia dikategorikan dalam dua jenis, yaitu food loss dan food waste.
Food loss adalah makanan atau pangan yang terbuang saat dalam proses produksi, pascapanen, penyimpanan, pemrosesan, dan pengemasan, sedangkan food waste adalah pangan yang terbuang saat proses distribusi, pemasaran, dan konsumsi.
Food Waste di Indonesia
Berdasarkan laporan Kajian Food Loss and Waste (2021) yang dibuat oleh Bappenas, Waste4change, dan World Resource Institute membuktikan, food waste yang terbuang pada saat konsumsi mencapai 5-19 juta ton per tahun (2000-2019).
“Dari tahap konsumsi ini, diestimasikan sebesar 80% food waste berasal dari rumah tangga, sisanya sebesar 20% berasal dari sektor non-rumah tangga,” jelas tim Bappenas dalam laporan Kajian Food Loss and Waste (2021), Jumat (5/4/2024).
Sayangnya, sebanyak 44% dari food waste merupakan sisa makanan yang masih layak untuk dikonsumsi.
Hal ini merupakan salah satu bentuk adanya kebiasaan buruk dalam konsumsi secara berlebihan atau perilaku konsumen.
Food Loss di Indonesia
Di sisi lain, tingkat food loss pada tahap produksi mencapai 7-12,3 juta ton per tahun. Kemudian, pascapanen atau penyimpanan mencapai 6,1-9,9 juta ton per tahun. Terakhir, pada pemrosesan atau pengemasan mencapai 1,1-1,8 juta ton per tahun.
Bappenas menjelaskan, selama kurang 20 tahun Indonesia telah mencetak sampah makanan setidaknya 23-48 juta per tahun.

Food loss and waste | Foto: Canva
Penyebab Food Loss and Waste di Indonesia
Menurut laporan, food loss pada tahap ini disebabkan karena kualitas ruang penyimpanan yang tidak optimal, kurangnya edukasi atau informasi baik kepada para pekerja, maupun konsumen.
Terakhir, preferensi konsumen serta kebiasaan memiliki porsi makanan yang berlebih (perilaku konsumen).
Timbunan dari sampah food loss and waste memiliki dampak buruk pada lingkungan menghasilkan emisi gas rumah kaca.
“Total potensi dampak pemanasan global yang dihasilkan dari FLW (food loss and waste) di Indonesia selama 20 tahun terakhir, diestimasikan sebesar 1.702,9 Mton CO2-ekuivalen atau setara dengan 7,29% rata-rata emisi gas rumah kaca di Indonesia selama 20 tahun,” tambah Bappenas.
Bappenas menjelaskan, jika hal ini dilakukan tanpa pengendalian ataupun kesadaran dari masyarakat, diestimasikan tahun 2045 sampah makanan di Indonesia mencapai 344 kg/kapita per tahun.
Di sisi lain, food loss and waste memiliki dampak buruk pada sisi ekonomi makanan yang terbuang. Kerugian yang terjadi dalam food loss and waste (2000-2019) bahkan mencapai Rp213-Rp551 triliun per tahun.
Solusi Mengurangi Food Waste
Berdasarkan laporan, salah satu penyebab food waste merupakan kebiasaan dari para konsumen yang membuang makanan.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kesadaran untuk tidak membuang-buang makanan. Mengambil makanan dengan secukupnya sehingga tidak menghasilkan sampah makanan karena kelebihan porsi.
Masyarakat harus lebih mengendalikan jumlah porsi dan jumlah kapasitas makanan yang akan dimasak agar sesuai dengan jumlah orang yang mengonsumsi makanan.
Apabila masyarakat memiliki sampah organik, solusi untuk mengatasi sisa makanan adalah dengan menggunakan konsep biopori.
Biopori (bio pore) adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme, seperti pergerakan cacing tanah, rayap, dan fauna lain yang hidup di dalam tanah.
Lubang-lubang ini akan menjadi tempat mengalirnya air hujan ke dalam tanah. Bisa dikatakan, biopori adalah cara alam menjaga daya serap tanah.
Lubang biopori akan diisi dengan sampah organik yang akan mengundang organisme tanah. Organisme tanah ini, akan mengolah sampah organik menjadi kompos yang dapat menyuburkan tanah.
Hasil penguraian sampah, juga menghasilkan mineral-mineral yang baik untuk kesehatan terlarut ke dalam air tanah.
Tidak hanya menjadi solusi untuk sisa makanan, konsep biopori juga sudah lama diadaptasi untuk meningkatkan daya serap air hujan pada tanah, sehingga bisa membantu mengatasi banjir.
Penulis: Kerin Chang

