Kaligrafi Tiongkok

Bima dan anak-anak Sebersy. (Foto: Instagram.com/sebersy)

Bima Praseyto Adi (33) mendirikan komunitas Sekolah Bersama Yuk (Sebersy) di Bogor, untuk membantu anak-anak dari keluarga prasejahtera agar bisa mendapatkan pendidikan berkelanjutan.

Komunitas Sebersy terletak di Kampung Ceger RT 05, RW 11, Tegalgundil, Bogor Utara.

Komunitas ini sendiri, memang sejatinya didirikan untuk mengakomodasi pendidikan anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Menuju usia 14 tahun, komunitas ini telah menjadi wadah penting bagi anak-anak untuk meningkatkan taraf pendidikannya.

(Bima Praseyto Adi, pendiri Komunitas Sebersy. Foto: tangkapan layar YouTube Kolam Ikan Media)

 

Berawal dari Melihat Anak yang Memulung

Bima menjelaskan, Sebersy lahir pada tahun 2010. Kala itu, Bima yang masih berusia 19 tahun terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di universitas yang ada di Kota Bogor.

Sepulang kuliah, Bima mengaku kerap bertemu dengan segerombolan anak yang berkumpul di sebuah minimarket.

Bukan bermain atau menongkrong, segerombolan anak ini terlihat sibuk mengumpulkan gelas dan botol bekas air mineral.

“Saya kira waktu itu hanya sesaat, ternyata selama satu minggu saya amati mereka sering ada setiap hari ketika saya pulang kuliah malam, sekitar jam 20.00 WIB,” ujar Bima dikutip dari tayangan YouTube Kolam Ikan Media, Jumat (12/4).

Bima yang penasaran, akhirnya menyambangi anak-anak tersebut dan bertanya apa kegiatan mereka setiap malam.

“Ternyata mereka aktivitasnya kayak mulung itu. Lalu saya interaksi kepada mereka, ‘Kenapa sih harus memulung di malam hari?’ Ternyata waktu pagi sampai siang mereka sekolah di sekolah dasar, terus buat bantu orang tuanya mereka ikut memulung,” ungkap Bima.

Barang rongsok yang didapatkan dari hasil memulung, kemudian dikumpulkan untuk kemudian dijual ke pengepul. Uang hasil penjualan tersebut, nantinya digunakan anak-anak untuk membeli keperluan sekolah seperti tas, seragam, hingga alat tulis.

(Lokasi Komunitas Sebersy. Foto: tangkapan layar YouTube Refleksi DAAI TV)

 

Mendirikan Sebersy

Bima pun tergerak untuk membantu anak-anak pemulung tersebut. Tak sendirian, Bima mengajak rekan-rekan kuliahnya untuk mewujudkan niat mulianya ini.

Bermodal niat membantu meski tanpa latar belakang pendidikan, Bima dan beberapa rekannya pun memberanikan diri untuk merintis komunitas. Bima pun mendatangi SDN Ceger 2 Bogor, tempat di mana anak-anak pemulung tadi bersekolah.

“Di sana saya izin pinjam ruang kelasnya kepada kepala sekolahnya kala itu di tahun 2010. Alhamdulillah memang disetujui dan didukung dari kepala sekolah. Jadi kami mengadakan les tambahan, tapi kami kasih hadiah-hadiah kayak alat tulis, buku-buku, dan lain-lain karena background mereka itu memulung ya buat kebutuhan sekolah mereka juga,” ungkap Bima.

Sayangnya, cobaan datang ketika sekolah tak lagi memberikan pinjaman ruangan setelah dua tahun mereka berkegiatan di tempat tersebut.

Untungnya, masyarakat di sekitar Kampung Ceger yang sudah merasakan keberadaan Sebersy, secara sukarela membantu Bima. Warga setempat pun meminjamkan teras rumahnya untuk tempat kegiatan belajar-mengajar.

”Dari situ kami tetap berjalan. Lalu, kami mencoba mandiri dengan mengontrak rumah kecil untuk tempat belajar. Biaya kontrak rumah dibantu oleh sponsor. Sampai kemudian ada seorang warga yang mewakafkan tanahnya untuk tempat belajar kami hingga kini,” jelas Bima.

(Anak-anak belajar di Sebersy)

 

Pelajaran di Sebersy

Komunitas Sebersy mengakomodasi pendidikan untuk anak-anak di jenjang SD, SMP, dan SMA. Seluruh anak yang ikut belajar di Sebersy, merupakan anak-anak yang memang sudah mendapatkan pendidikan formal.

Namun, Sebersy menawarkan pelajaran lanjutan agar anak-anak memiliki pengetahuan yang lebih luas di luar sekolah.

Kegiatan belajar di Sebersy biasanya diadakan seminggu sekali di hari Kamis, atau seminggu dua kali di hari Kamis dan Minggu. Durasi belajar setiap harinya dibatasi 2,5 jam mulai pukul 14.00 WIB sampai 16.30 WIB.

Di dalam mengajar anak-anak, Bima dibantu oleh relawan dari wilayah sekitar. Namun, saat masa pandemi lalu, Bima juga mendapat banyak bantuan dari relawan di luar kota yang mengajar anak-anak secara daring.

“Pembagian kelasnya biasanya dibagi per jenjang SD, SMP, SMA. Di sini lebih seperti les tambahan. Jadi memang pelajarannya sifatnya umum, seperti mengaji, Bahasa Inggris, matematika, olahraga, kesenian, terus mungkin pelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan si relawannya. Jadi kami nggak memaksa mereka untuk belajar matematika, IPA, IPS. Jadi tergantung spesialisasi si relawan itu,” jelas Bima.

Bima mengaku, ia ingin anak-anak punya kesadaran bahwa belajar adalah hal yang penting untuk hidup mereka ke depan.

Hal ini pun diamini oleh Siti Sumiyati (15) yang merupakan salah satu anak didik di Sebersy. Menurut Siti, kehadiran Sebersy di daerahnya sangat membantu anak-anak untuk belajar.

“Kalau dulu, kan, pulang sekolah anak-anak langsung pada main, enggak belajar. Nah, semenjak ada Sebersy jadi pada belajar, kurang mainnya, jadi fokus sama Sebersy. Menurut saya, kalau tidak ada Sebersy jadi kayak nggak bisa mengaji begitu, terus kebanyakan mainnya, banyak yang enggak jelas, pasti keluyuran ke mana-mana,” kata Siti.

(Anak-anak belajar di Sebersy)

 

Program Asuransi Sampah

Tahun 2018, Sebersy mengembangkan kegiatannya dengan membuat program asuransi sampah yang digagas oleh Elis Utami.

Program Wabe Project ini mengadopsi Indonesia Medika yang didirikan Gamal Albinsaid di Malang.

”Saya dan Utami belajar dari Gamal untuk asuransi sampah pendidikan. Dia menyarankan, orang tua murid menyetor sampah yang dihitung poin. Misalnya, 1 kilogram kardus mendapat 1 poin. Nah, kalau poin sudah terkumpul bisa ditukarkan dengan seragam atau alat sekolah,” jelas Bima.

(Bima dan murid di Sebersy)

 

Putus Harapan

Tak selalu berjalan mulus, Bima mengaku pernah beberapa kali merasa lelah dan putus harapan, bahkan saat pandemi Sebersy pernah vakum selama beberapa bulan.

Namun, Bima tak ingin berlarut dalam kesedihan, sehingga ia pun mencoba merambah kelas daring dan mulai merekrut relawan dari seluruh Indonesia.

“Ternyata gagasan komunitas virtual itu benar-benar bisa terealisasi, dengan memanfaatkan media daring untuk belajar bareng-bareng itu bisa terjadi. Memang terkadang merasa lelah atau menyerah itu ada saja, tapi (saya tetap maju karena) suka merasa sayang saja, sudah bikin ini bersama teman-teman,” sebut Bima.

 

Dukungan Pemerintah

Perjuangan Bima dan rekan-rekannya pun tidak luput dari perhatian pemerintah setempat. Pada tahun 2021 lalu, Walikota Bogor Bima Arya pernah berkunjung ke Sebersy untuk meninjau kegiatan belajar di sana.

Selain memberikan bantuan berupa WiFi, pemerintah setempat juga kerap menjembatani kebutuhan Sebersy dengan mencarikan sponsor.

Dengan demikian, Sebersy bisa mengadakan kegiatan secara maksimal dengan dukungan penuh dari pemerintah.

(Kegiatan di Sebersy)

 

Rencana Bima dan Sebersy

Bima berharap, konsep yang dilakukan Sebersy selama belasan tahun ini bisa menular dan Sebersy bisa membuka cabang baru di berbagai kota lain.

Melalui Sebersy, kata Bima, anak-anak di Kampung Ceger sudah lebih berani berbicara dan membuka diri kepada orang lain. Mereka pun banyak yang mulai bersemangat untuk bisa berkuliah dan mengenyam pendidikan lebih tinggi.

Lebih dari itu, Sebersy juga berhasil membuka mata para orang tua akan pentingnya pendidikan bagi anak. Tokoh Masyarakat Kampung Ceger Lucy Herawati mengatakan, “Alhamdulillah selama kegiatan di sini anak-anak pada dapat prestasi semua.”

Melalui pendekatan ini, Sebersy bisa sedikit demi sedikit memutus rantai pernikahan dini dan meningkatkan taraf hidup anak-anak setempat.

“Harapan saya kepada anak-anak Sebersy agar mereka bisa sekolah setinggi-tingginya, agar bisa mengubah derajat hidup keluarganya yang dahulu mungkin prihatin, perlahan-lahan bisa lebih baik keadaan ekonomi dan sosialnya. Jangan berhenti belajar dengan sungguh-sungguh agar sukses di masa depan,” tutup Bima.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: