Penandatanganan PKS (Perjanjian Kerja Sama) Kemenag dan Kemenkes soal CKG di lingkungan pesantren dan pendidikan keagamaan di Pondok Pesantren Khairul Ummah, Jakarta Utara, Kamis (13/8/2026). ANTARA/HO-Kemenag
Reporter: Monique Shafira
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan komitmennya untuk menekan angka kematian tuberkulosis (TB) di Indonesia melalui strategi deteksi dini dan pengobatan tuntas dengan menggelar Cek Kesehatan Gratis (CKG) di titik rawan, seperti pondok pesantren dan kawasan padat penduduk.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, TB merupakan penyakit dengan jumlah kematian tertinggi di Indonesia, bahkan melebihi Covid-19. Setidaknya ada 120 ribu jiwa per tahun meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
“Saya ngomong 5 menit yang meninggal 2. Saya ngomong 10 menit yang meninggal 4,” ujar Budi usai meninjau CKG di Pondok Pesantren Terpadu Khairul Ummah Syahroni, Jakarta Utara pada Kamis (13/8/2026).
Meski sudah 81 tahun merdeka, kata Budi, Indonesia menduduki peringkat ke-2 di dunia untuk jumlah kasus dan kematian TB setelah India. Padahal, penyakit yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu tersebut secara medis sudah ada obatnya.
Namun, minimnya alat skrining dan kesadaran diri untuk melakukan pemeriksaan awal masih menjadi kendala di lapangan. Untuk itu, Kemenkes membagikan 10 ribu alat rontgen dada portabel ke sejumlah puskesmas.
Alat tersebut telah dilengkapi dengan Artificial Intelligence (AI) sehingga hasilnya bisa langsung terlihat. Desain alat yang relatif mudah dibawa memberikan kemudahan proses skrining jemput bola langsung ke berbagai daerah.
Pondok Pesantren Rawan Tular TB
Budi menilai kepadatan tempat tinggal membuat pondok pesantren menjadi salah satu titik rawan penularan TB. Rinciannya, ada sekitar 42 ribu jumlah pondok pesantren di Indonesia dengan jumlah santri lebih dari 7 juta orang.
Sebelumnya, ia menemukan sekitar 3 persen kasus TB melalui skrining awal di Lapas Nusakambangan. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang disebut berkisar 0,3 persen.
Dari kondisi tersebut, Budi melihat adanya kesamaan dengan sejumlah pesantren yang memiliki kamar dengan banyak penghuni. Bahkan, dalam satu kamar bisa dihuni oleh 10 hingga 12 santri.
Salah santriwati Pondok Pesantren Terpadu Khairul Ummah Syahroni, Jakarta Utara, Hurun A’in Batula (17) mengaku, baru kali pertama melakukan pemeriksaan kesehatan melalui CKG.
Menurutnya, program yang diinisiasi oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini memberikan bantuan bagi warga yang terkendala biaya dan kurangnya kesadaran diri untuk memeriksa kesehatan.
“Semoga orang-orang yang mungkin belum punya kesadaran buat ngecek mereka jadi sadar pentingnya memeriksa kesehatan. Jadi biar lebih peduli sama diri mereka sendiri,” tuturnya.
TB Bisa Sembuh
Budi mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir dan malu apabila dideteksi menderita TB. Sebab, TB bisa disembuhkan dengan melakukan skrining dan minum obat secara rutin.
Menurut Budi, kunci penanganan TB adalah melakukan skrining cepat. Jika hasil skrining menunjukkan positif, maka pasien perlu mengonsumsi obat selama enam bulan rutin setiap hari.
“Jika hasil skrining menunjukkan positif, penyakit ini bisa disembuhkan dengan minum obat rutin. Obatnya gratis dan tersedia di puskesmas,” tandasnya.
Apabila salah anggota keluarga menderita penyakit tersebut, maka seluruhnya juga harus mengonsumsi obat. Pasien bisa mendapatkan obat secara gratis yang tersedia di puskesmas terdekat.
Melalui CKG, Budi berharap adanya deteksi dini yang bisa dilakukan sehingga kasus TB bisa menurun setiap tahunnya dan target nasional eliminasi TB di Indonesia pada 2030 bisa tercapai.

