Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi lampu solar berbasis IoT (Foto: Vokasi Kemdikbud)

SMKN 1 Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumatra Utara, membuat produk bertenaga surya berupa solar cell berbasis internet of things (IoT).

Lampu solar cell berbasis IoT merupakan perangkat penerangan yang menggunakan teknologi tenaga surya dan dikendalikan melalui jaringan IoT.

Internet of things (IoT) atau internet untuk segala, adalah sebuah konsep yang mana suatu benda atau objek ditanamkan teknologi-teknologi seperti sensor dan software yang bertujuan untuk berkomunikasi, mengendalikan, menghubungkan, dan bertukar data melalui perangkat lain selama masih terhubung ke internet.

Siswa Jurusan Mekatronika SMKN 1 Kutalimbaru Ahmad Zhaki mengatakan, lampu solar cell berbasis IoT merupakan gabungan dari panel surya dan IoT.

“Panel surya bertugas untuk mengubah energi matahari menjadi listrik, sedangkan IoT bertugas untuk pengendalian jaringan dalam jarak jauh,” ujar Ahmad dikutip dalam keterangannya, Senin (11/9).

Guru Jurusan Mekatronika SMKN 1 Kutalimbaru Rachmad Syahputra menuturkan, transisi energi fosil ke energi terbarukan sedang menjadi topik hangat di wilayah Sumatra Utara.

“Saat ini pemerintah Sumut sedang melangkah untuk mewujudkan gerakan nasional sejuta surya atap. Oleh karena itu, pembuatan produk ini merupakan bentuk dukungan sekolah terhadap gerakan tersebut,” jelas Syahputra.

Gerakan ini, kata Syahputra, merupakan salah satu upaya untuk mengurangi dampak negatif yang diakibatkan dari penggunaan energi fosil.

Jangan salah, lampu solar cell berbasis IoT yang dibuat oleh siswa Jurusan Mekatronika SMKN 1 Kutalimbaru memiliki berbagai manfaat, yakni sebagai berikut.

1. Penerangan Hemat Energi

Lampu solar cell akan mengumpulkan energi matahari di siang hari dan menyimpannya dalam baterai. Cahaya matahari yang telah disimpan dalam baterai, akan digunakan untuk mengalirkan listrik di lampu saat malam hari.

 

2. Pengendalian Jarak Jauh

Perangkat IoT dihubungkan ke jaringan internet melalui Wi-Fi, Ethernet, atau teknologi nirkabel lainnya. Ini memungkinkan pengendalian jarak jauh dan transfer data.

Melalui koneksi IoT, lampu ini dapat dikendalikan dari jarak jauh dengan menggunakan perangkat seperti telepon pintar atau komputer. Selain itu, penggunaan sistem IoT juga dapat memberikan informasi tentang performa panel surya, tingkat baterai, dan konsumsi energi.

“Adanya IoT ini memungkinkan pengguna untuk mengelola efisiensi energi secara efektif. Pengguna dapat mengatur jadwal penyalaan dan pemadaman lampu, serta untuk mengatur tingkat kecerahan cahaya sesuai kebutuhan,” kata Zhaki.

 

3. Penyedia Penerangan di Lokasi Terpencil

Lampu solar cell berbasis IoT sangat berguna di daerah-daerah terpencil yang mana akses listrik masih terbatas. Produk tersebut, dapat memberikan penerangan yang dibutuhkan tanpa mengandalkan infrastruktur listrik tradisional.

Lampu solar cell berbasis IoT buatan siswa SMKN 1 Kutalimbaru telah diproduksi untuk umum. Konsumennya pun datang dari berbagai latar belakang. Harga yang dipatok untuk satu buah lampu solar cell berbasis IoT sangat bervariasi, dimulai dari ratusan ribu rupiah.

“Terlihat mahal, tetapi kalau kita menarik ini untuk jangka panjang maka jatuhnya jauh lebih murah. Selain murah, penggunaan produk energi tenaga surya juga lebih ramah lingkungan. Setelah produk ini kita sedang menyusun rencana lagi untuk menghasilkan produk ramah lingkungan lainnya,” tutup Syahputra.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: