Kaligrafi Tiongkok

Siswa Akshar Forum School (Foto: HW News/Zaina Afzal Kutty)

Beda dengan yang lain, Akshar Forum School di India mewajibkan muridnya untuk membayar uang sekolah menggunakan sampah plastik.

Didirikan pada tahun 2016 oleh Parmita Sarma dan Mazin Mukhtar, sekolah ini telah mengubah pendidikan menjadi sebuah petualangan, serta mengubah biaya sekolah menjadi sebuah komitmen untuk masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan.

Mengutip dari HW News, ketika pasangan tersebut memulai proyek ini tentunya perjalanan mereka jauh dari kata mudah.

Tantangan pertama yang mereka hadapi, adalah menarik siswa ke sekolah karena anak-anak di wilayah tersebut lebih fokus untuk mencari nafkah daripada memperoleh pendidikan. Untuk mengatasi masalah ini, mereka pun mulai terlibat dengan anak-anak sekitar.

Saat itu, anak-anak bercerita bahwa selama musim dingin, mereka membakar plastik dan botol plastik untuk menghangatkan diri.

Setelah mendengar cerita tersebut, pasangan ini memutuskan untuk mengatasi dua masalah sekaligus menggunakan pendekatan yang unik.

Solusi yang dihasilkan, adalah mereka mendorong para siswa untuk mengumpulkan botol plastik dan menyetorkannya ke sekolah setiap hari Jumat dengan imbalan mendapatkan pendidikan gratis.

 

Tantangan Sekolah

Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh para pengelola sekolah, adalah keinginan para siswa untuk mendapatkan uang. Untuk mengatasi hal ini, Sarma dan Mukhtar menemukan sebuah solusi lain, yakni mereka memutuskan untuk mempekerjakan para siswa di sekolah.

Ketika siswa memenuhi syarat untuk naik kelas, mereka yang memiliki kemampuan lebih bisa dipekerjakan sebagai guru bagi siswa lain di kelas yang lebih rendah.

Menariknya, mereka bahkan bisa diberi kompensasi atas profesi mereka. Adanya imbalan ini, mendorong siswa untuk tetap bersekolah lebih lama dan tidak melewatkan pendidikan mereka.

 

Ketentuan dari Sekolah

Setiap minggunya, siswa di Akshar Forum School membawa hingga 20 barang plastik yang dikumpulkan dari rumah mereka atau dari daerah setempat.

“Penggunaan plastik merajalela di seluruh Assam,” ujar Sarma dikutip dalam keterangannya, Selasa (26/9).

Hingga tahun lalu, sekolah sama sekali tidak memungut biaya, tetapi sekolah memutuskan untuk memperkenalkan “biaya” plastik setelah permohonan kepada para orang tua untuk ikut serta dalam skema daur ulang tidak digubris.

Sarma mengatakan, “Kami memberi tahu (orang tua) untuk mengirim plastik ke sekolah sebagai biaya jika Anda ingin anak-anak Anda belajar di sini secara gratis.”

Selain itu, para orang tua juga harus membuat “janji” untuk tidak membakar plastik, kata Sarma.

 

Keunikan Akshar Forum School

Berbeda dengan sekolah lainnya di India, para siswa ditempatkan di kelas berdasarkan bakat masing-masing murid, bukan berdasarkan usia.

Jadi, baik itu anak-anak maupun remaja, jika kemampuan intelektual mereka melebihi orang-orang yang seusia dengan mereka, maka anak tersebut dipersilakan untuk menerima pendidikan di tingkat yang lebih tinggi.

Kesadaran Siswa

Fakta bahwa anak-anak sekarang lebih sering mencari sampah plastik, juga telah meningkatkan kesadaran mereka terhadap sampah di daerah setempat.

Menurut organisasi non-pemerintah setempat, Environ, Dispur, sendiri bisa menghasilkan 37 ton sampah setiap harinya. Jumlah ini, meningkat 7x lipat selama 14 tahun terakhir.

“Sebelumnya, kami biasa membakar plastik dan kami tidak tahu bahwa gas yang dihasilkan dari pembakaran tersebut berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan,” kata Menu Bora, ibu dari seorang siswa.

“Kami juga membuangnya di lingkungan sekitar. Tapi itu tidak akan pernah terjadi lagi. Ini adalah langkah baik yang diprakarsai oleh sekolah,” lanjut Menu Bora.

Setelah dikumpulkan, sekolah memanfaatkan sampah plastik dengan baik. Para siswa memasukkan kantong plastik ke dalam botol plastik untuk membuat batu bata ramah lingkungan.

Kemudian, batu bata ramah lingkungan dapat digunakan untuk membangun gedung sekolah baru, bangunan toilet, atau jalan setapak. Para siswa juga dibayar untuk melakukan hal ini.

“Orang tua dari sebagian besar siswa sekolah kami tidak mampu menyekolahkan mereka. Itu sulit, tetapi kami telah memotivasi mereka dan membawa mereka kembali ke sekolah,” kata Mukhtar.

 

Solusi bagi Orang tua

Memberikan uang kepada anak-anak terkadang dapat menimbulkan risiko karena mereka atau orang tua mereka dapat menyalahgunakannya.

Untuk mengatasi tantangan ini, sekolah memperkenalkan sistem poin, sehingga siswa yang bekerja di sekolah akan mendapatkan poin, bukan uang tunai. Sebagai contoh, 50 poin setara dengan 50 rupee.

Untuk menyederhanakan transaksi, Sarma dan Mukhtar berkolaborasi dengan toko-toko lokal di daerah tersebut. Di toko ini, para siswa dapat menukarkan poin mereka dengan barang.

Nantinya, pihak sekolah tinggal membayar pemilik toko setiap akhir bulan menggunakan uang tunai dengan nominal yang sesuai.

Sistem ini memastikan bahwa para siswa dapat membeli apa yang mereka butuhkan dan membelanjakan uang saku mereka secara bertanggung jawab.

Akshar Forum School, dengan inisiatif unik dan solusi inovatifnya terhadap berbagai tantangan, menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu harus mahal.

Apakah itu di lokasi terpencil atau di tempat lain, seseorang dapat mengejar pendidikan atau mengajar jika mereka memiliki tekad untuk mengatasi rintangan tersebut.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: