Ilustrasi kerak telor (Foto: Tyas Indayanti via Canva Pro)
Kerak telor merupakan kuliner legendaris khas DKI Jakarta yang terbuat dari bahan dasar beras ketan dan telur. Kedua bahan utama tersebut berpadu dengan berbagai bumbu tambahan seperti cabai, bawang, kencur, jahe, dan merica.
Beberapa waktu belakangan, masyarakat diramaikan oleh melonjaknya harga jajanan kerak telor di dalam sebuah pameran besar di Jakarta yang menghadirkan beragam produk dalam negeri.
Jajanan khas Betawi ini memang menjadi primadona di dalam pameran tersebut. Tidak heran jika permintaan akan jajanan ini selalu melonjak.
Di balik pamor kerak telor, ternyata ada makna tersendiri yang terkandung di dalamnya. Salah satu bahan yang digunakan untuk membuat kerak telor adalah ketan yang memiliki karakteristik pemimpin.
Ini karena, tekstur ketan cenderung kental dan bisa memimpin keseluruhan rasa kerak telor.
Sifat kepemimpinan tersebut dikuatkan dengan kehadiran telur yang menyatukan seluruh rasa dalam kerak telor.
Hal ini, bisa diartikan sebagai wawasan dan idealisme yang dimiliki seseorang harus dikuatkan agar tidak lemah dan terlepas.
Tidak hanya dari bahan, filosofi juga terkandung dalam cara memasak kerak telor. Hal utama yang harus diperhatikan saat membuat kerak telor adalah waktu.
Jika terlalu cepat ditelungkupkan, ketan dan telur belum terlalu matang, sehingga akan hancur. Begitu pula dengan seorang pemimpin. Jika merasa belum siap, artinya jangan dulu dijadikan pemimpin.
Jika kerak telor sudah berhasil ditelungkupkan dengan sempurna, waktu tetap harus diperhatikan. Ini bermakna bahwa seorang peminpin harus tahu batasan waktu dalam memimpin.
Sementara itu, tambahan bumbu lain di dalam kerak telor bisa melambangan cara pemimpin dalam berdinamika.
Mengutip dari situs Dinas Kebudayaan, kerak telor bukanlah makanan kekinian karena keberadaannya sudah ada sejak lama. Hingga saat ini, kerak telor masih menjadi ikon kuliner khas Betawi yang belum tergerus zaman.
Kerak telor sendiri tercipta secara tidak sengaja. Berawal dari banyaknya pohon kelapa di Batavia, sekelompok warga Betawi mencoba memanfaatkan kelapa untuk diolah menjadi makanan.
Dahulu kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dipenuhi perkebunan kelapa. Melimpahnya buah kelapa membuat masyarakat membudidayakan buahnya dan diolah menjadi banyak makanan, salah satunya kerak telor.
Mulai tahun 1970-an, Kerak Telor dijajakan oleh masyarakat Betawi sebagai makanan yang diperdagangkan di pinggir jalan dekat Tugu Monas. Mulai dari sini, banyak orang yang menyukai rasa “telur dadar Betawi” tersebut.
Tak hanya diburu oleh wisatawan yang datang ke Jakarta, kerak telor juga diminati kalangan elite di Jakarta. Seiring berjalannya waktu, kerak telor semakin terkenal.
Salah satu hal yang membuatnya semakin unik, adalah proses pembuatannya. Saat memasak kerak telor, wajan yang digunakan dibalik agar kerak telor langsung mengenai api dan menghasilkan kerak dengan aroma dan rasa yang khas.
Untuk menemukan makanan khas ini, Sahabat DAAI bisa menemukannya di tempat-tempat wisata di Jakarta, seperti kawasan Monas dan Kota Tua. Para penjual kerak telor biasanya menggunakan tiang yang dibawa ke mana pun penjualnya pergi.

