Fruitleather Rotterdam (Foto: Instagram/fruitleatherrotterdam)
Perusahaan Fruitleather Rotterdam di Belanda berhasil berinovasi dengan mengubah limbah mangga jadi bahan kulit tiruan.
Koen Meerkerk (29) dan Hugo de Boon (29) adalah duo desainer asal Rotterdam, lulusan akademi Willem de Kooning di Rotterdam.
Memiliki hasrat untuk menciptakan nilai pada hal-hal yang dianggap tidak berguna, keduanya pun mencoba memecahkan masalah dari sudut pandang desainer dengan membangun Fruitleather Rotterdam.
Kedua desainer muda ini pun berfokus untuk mengembangkan material dari limbah mangga. Fruitleather Rotterdam mengubah serat mangga menjadi bahan seperti kulit vegan yang kemudian dijual kepada desainer di seluruh dunia.
Setelah pindah ke BlueCity, Belanda, mereka bekerja sama dengan bisnis sirkular lainnya menuju ekonomi tanpa limbah.
Visi Fruitleather Rotterdam tidak hanya untuk menyebarkan kesadaran akan masalah limbah makanan, tetapi juga untuk menunjukkan bagaimana limbah dapat diolah dengan cara yang positif.
Sebelumnya Fruitleather Rotterdam juga telah melakukan percobaan dengan beberapa buah lain. Namun, ternyata hanya mangga yang cocok diubah menjadi kulit tiruan karena memiliki serat yang tinggi dibandingkan buah lainnya.
Mereka menggunakan sisa buah mangga yang tidak terjual, tidak bisa dikonsumsi lagi, atau mangga yang sudah busuk.

Melalui inovasi ini, Fruitleather Rotterdam menciptakan bahan serbaguna yang dapat diubah menjadi sepatu, aksesori fesyen, kain pelapis, perabotan, dan sebagainya. Menurut Meerkerk, ada perbedaan mendasar antara produknya dan kulit sintetis.
“Kulit vegan secara teknis adalah kulit apa pun yang tidak menggunakan bahan turunan hewani. Kulit sintetis juga vegan, tetapi kulit sintetis cenderung menggunakan minyak, sehingga tetap tidak ramah lingkungan,” ujar Meerkerk dikutip dalam keterangannya, Selasa (16/8).
Meerkerk mengaku, ide ini dimulai murni secara kebetulan. Selama belajar di akademi seni, mereka mencoba mengambil pigmen dari buah-buahan untuk digunakan pada sablon sutra.
Namun, setelah mengekstraksi pigmen, kami menyisakan pulp buah yang dibiarkan mengering di ambang jendela di bawah sinar matahari. Ini adalah potongan produk pertama dari Fruitleather.
“Kulit terdiri dari serat. Buah juga terdiri dari serat. Jadi, mereka memiliki kesamaan. Ditambah lagi buah-buahan biasanya dibuang dalam skala besar, sehingga banyak sumber daya yang tersedia untuk membuat bahan tersebut,” ungkap Meerkerk.

Meerkerk mengaku, produk dari kulit vegan mendapat skor tinggi dalam keberlanjutan karena mereka tidak menggunakan bahan kimia untuk membuat bahan kulit tersebut.
Menariknya, Fruitleather Rotterdam juga turut memberdayakan pedagang setempat untuk membuat kulit vegan. Ini karena, mereka menyerap sisa mangga dari pedagang mangga yang ada di Belanda.
Kriteria buah mangga yang mereka ambil, biasanya adalah buah yang sudah tidak bisa dikonsumsi lagi dan sudah busuk. Setiap minggunya, Fruitleather bisa mengumpulkan sekitar 1.500 buah mangga dari para importir.
Limbah buah ini langsung masuk ke pelabuhan Rotterdam. Fruitleather hanya menghasilkan bahan kulitnya, tetapi tidak menciptakan produk yang sebenarnya.
Umumnya, Fruitleather menyasar perusahaan mobil besar, merek fesyen, hingga desainer, dan mahasiswa swasta.

“Kami selalu menggunakan mangga karena Belanda, adalah importir mangga terbesar kedua di dunia. Jadi, banyak juga sampah yang tercipta selama pengangkutan begitu mangga sampai di pelabuhan Rotterdam. Mangga cocok diubah menjadi bahan kulit karena buahnya besar dan memiliki banyak serat,” jelas Meerkerk.
Proses pembuatan kulit dari limbah mangga terbilang cukup rumit. Pertama, mangga akan dimasukkan ke dalam mesin untuk dihancurkan menjadi pulp.
Pulp mangga kemudian dicampur dengan beberapa zat aditif yang akan mengubahnya menjadi bahan seperti kulit. Jika teksturnya sudah dirasa benar, pulp mangga tersebut akan ditaruh ke atas wadah besi pipih, lalu diratakan.
Pulp mangga kemudian akan dimasukkan ke dalam dehidrator semalaman untuk menghilangkan kadar airnya. Setelah kering, warna dari pulp mangga yang semula cerah akan berubah menjadi gelap.
Warna dari pulp ini akan bergantung pada jenis mangga apa yang digunakan. Sebagai contoh, mangga palmer akan menghasilkan bahan berwarna yang lebih kecokelatan, mangga keitt akan menghasilkan bahan berwarna hitam.

Bahan kulit dari mangga selanjutnya disortir dengan mengukur ketebalannya. Setelah itu, kulit dari mangga ini akan dilapisi dengan resin agar tetap kuat.
Selanjutnya, kulit dari mangga akan di-press kembali agar menjadi pipih dan dipanaskan di suhu 100 °C. Kemudian, kulit akan dikeringkan. Proses ini dilakukan beberapa kali agar kulit memiliki ketahanan yang semakin baik.
Pada tahap akhir, kulit akan di-press dengan berbagai tekstur, sehingga tampak seperti kulit binatang sungguhan. Selanjutnya, kulit dari mangga sudah dapat dijahit dan dibuat menjadi beraneka ragam produk fesyen, seperti sepatu, tas, dan barang-barang lainnya.
“Kami berharap dapat mulai memproduksi bahan kulit ini dalam volume yang lebih besar, serta dapat segera membuat bahan kulit dalam satu gulungan. Namun, masih banyak pengembangan yang perlu dilakukan sebelum kami dapat melakukan ini,” tutup Meerkerk.

