Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi brain fog (Foto: studioroman via Canva Pro)

Brain fog (kabut otak) adalah kondisi saat seseorang merasa sulit berkonsentrasi dan tidak bisa fokus pada satu hal.

Brain fog dapat disebabkan oleh stres, perubahan pola tidur, pengobatan, dan faktor lainnya. Hal ini dapat menyebabkan kebingungan, masalah ingatan, dan kurang fokus.

Meski demikian, brain fog bukanlah suatu penyakit. Melainkan gejala dari kondisi atau penyakit tertentu yang bisa memengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir dan mengingat.

Mengutip dari Bangkok Hospital, pada tingkat sel brain fog diyakini disebabkan oleh peradangan tingkat tinggi, serta perubahan hormon yang menentukan suasana hati, energi, dan fokus.

Hormon yang tidak seimbang bisa membuat seluruh sistem menjadi terganggu. Selain itu, brain fog juga dapat menyebabkan kondisi lain seperti obesitas, menstruasi tidak normal, dan diabetes melitus.

 

Gejala Brain Fog

Ada beberapa gejala umum dari brain fog, yakni sakit kepala, berpikir lebih lambat dari biasanya, merasa kebingungan, butuh lebih banyak waktu untuk menyelesaikan tugas sehari-hari.

Kemudian, membuat mental terganggu, mengalami kesulitan mengatur pikiran, sering lupa, sampai kesulitan menemukan kata.

 

Penyebab Brain Fog

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan brain fog. Setelah mengetahui penyebab utamanya, Sahabat DAAI bisa mulai mencari solusi yang sesuai.

  1. Stres: Stres kronis dapat meningkatkan tekanan darah, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan memicu depresi. Stres juga dapat menyebabkan kelelahan mental. Ketika otak lelah, tentunya Sahabat DAAI jadi lebih sulit untuk berpikir dan fokus.
  2. Kurang tidur: Kualitas tidur yang buruk dapat mengganggu fungsi otak. Jam tidur yang terlalu singkat juga bisa menyebabkan otak sulit berkonsentrasi. Untuk itu, usahakan untuk tidur 8-9 jam setiap harinya.
  3. Perubahan hormon: Perubahan hormon juga bisa memicu brain fog. Sebagai contoh, saat kadar hormon progesteron dan estrogen meningkat selama kehamilan, perubahan ini dapat mempengaruhi memori dan menyebabkan gangguan kognitif jangka pendek. Sama halnya dengan penurunan kadar estrogen selama menopause yang dapat membuat mudah lupa, konsentrasi buruk, dan pikiran yang kabur.
  1. Pola makan: Pola makan yang buruk juga berperan dalam pembentukan brain fog. Salah satu vitamin yang bisa membantu fungsi otak, adalah vitamin B12. Dengan demikian, kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan brain fog.
  2. Pengaruh obat: Brain fog juga bisa muncul akibat efek samping dari konsumsi obat-obatan tertentu. Jika Sahabat DAAI mengalami brain fog saat mengonsumsi obat tertentu, segera konsultasikan ke dokter yang bersangkutan.
  3. Kondisi medis: Brain fog juga bisa menjadi gejala awal dari kondisi medis lain. Beberapa penyakit yang bisa menyebabkan brain fog, adalah anemia, depresi, diabetes, sindrom Sjögren, migrain, alzheimer, hipotiroidisme, penyakit autoimun, sclerosis, dehidrasi, dan infeksi virus seperti Covid-19.

 

Cara Mengatasi Brain Fog

Pengobatan brain fog sangat bergantung pada penyebabnya. Namun, perubahan gaya hidup bisa membantu mengobati brain fog.

Beberapa cara lain yang bisa mengatasi brain fog, adalah membatasi penggunaan ponsel berlebihan, mengurangi stres, mengubah pola makan, tidur yang cukup, rutin berolahraga, hindari alkohol, merokok, dan minum kopi di sore hari, dan lakukanlah aktivitas yang menyenangkan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: