Garda Bagus Damastra (kiri) dan Davis Marthin Damaledo (kanan) (Foto: Good News From Indonesia)
Davis Marthin Damaledo dan Garda Bagus Damastra, pemuda asal Nusa Tenggara Timur (NTT), berhasil mendunia setelah menemukan spesies baru dari serangga Nesiophasma.
Melansir dari Beritahita, Davis awalnya menemukan serangga tersebut pada Maret 2021 saat dirinya masih duduk di bangku SMA. Davis sendiri, menggeluti hobi yang berkaitan dengan serangga sejak SMP.
Saat itu, Ayah Davis mengajaknya pergi ke pepohonan jambu air di Desa Oemasi, Kecamatan Nekamese, Kupang, NTT. Di salah satu pohon tersebut, Davis menemukan serangga berukuran 20 cm yang belum diketahui jenisnya.
“Kami berdua kemudian berkendara ke sana. Desa itu dulunya penuh dengan pohon jambu biji, tapi karena banyak pembangunan sekarang tinggal sedikit. Di salah satu pohon itu saya menemukan serangga tersebut,” ujar Davis kepada Beritahita, dikutip Jumat (29/12).

(Serangga temuan Davis. Foto: Betahita)
Meneliti Serangga
Davis pun membawa pulang serangga itu meski belum dapat mengidentifikasinya. Tak sendirian, Davis turut dibantu oleh rekannya, Garda Bagus Damastra yang juga menggemari serangga untuk mengidentifikasi temuannya. Pada saat itu, hanya berhasil diketahui bahwa jenisnya adalah Nesiophasma.
Untuk memperjelas temuan Davis, Garda berkomunikasi dengan peneliti serangga asal Kanada, Frank H. Hennemann. Akhirnya, serangga Nesiophasma itu dibiarkan menetas di rumah Davis, lalu induknya yang sudah mati dikirim untuk diteliti lebih lanjut.
Hasil identifikasi oleh peneliti ini menyebutkan, serangga ranting yang ditemukan Davis merupakan spesies baru. Hal ini terlihat dari ciri kasnya yang mencolok, yaitu garis merah di sepanjang toraks, atau bagian tubuh yang terletak antara kepala dan perut.

(Serangga temuan Davis. Foto: Betahita)
Menulis Publikasi Ilmiah
Davis dan Garda kemudian terlibat dalam penelitian, lalu nama mereka tercantum sebagai penulis publikasi spesies baru yang diberi nama Nesiophasma sobesonbaaii. Nama Sobesonbaaii sendiri, diambil dari pahlawan nasional asal NTT, Sobe Sonbai III.
Publikasi yang berjudul ‘Nesiophasma sobesonbaii n. sp. – a new giant stick insect from the island of Timor, Indonesia (Insecta: Phasmatodea)’ ini pun terbit pada Maret 2023, atau 2 tahun setelah Davis membawanya dari kebun jambu biji.
Davis yang saat itu masih mengeyam pendidikan di kelas 3 di SMA 5 Kupang, berada dalam jajaran penulis publikasi ilmiah bersama tiga peneliti luar negeri lainnya, yakni Hennemann, Royce T. Cumming, dan Stéphane Le Tirant.
Di dalam publikasi tersebut disebutkan bahwa Nesiophasma sobesonbaii merupakan serangga endemik Pulau Timor. Persebaran satwa ini berada di dua lokasi, yakni Desa Oemasi tempat Davis menemukannya, serta di Distrik Lautem, Malahara Mainina, Timor Leste.
Keterlibatannya dalam penulisan publikasi ini kian membuka mata Davis akan keanekaragaman hayati, terutama serangga, di tempat tinggalnya. Apalagi, selama ini dokumentasi serangga di sekitar kepulauan bagian selatan garis pembatas satwa wilayah Wallacea sangat sedikit.
Sementara itu, bagi Garda keterlibatannya dalam publikasi spesies baru bukanlah pengalaman baru bagi dirinya. Pasalnya, Garda sebelumnya juga pernah membantu mengidentifikasi spesies baru serangga daun (Phyllium) yang merupakan hasil temuannya di kaki Gunung Arjuna, Desa Bermi, Krucil, Probolinggo, Jawa Timur.

