Kaligrafi Tiongkok

Ilustrasi penjual jamu di Indonesia (Foto: Nyimas Laula via Vogue)

Jamu adalah minuman tradisional Indonesia yang terbuat dari berbagai rempah, akar-akaran, atau daun-daunan. Uniknya, tradisi minum jamu di Indonesia diliput oleh majalah gaya hidup asal Amerika Serikat (AS), Vogue Magazine.

Majalah gaya hidup asal AS, Vogue Magazine menyoroti kisah mengenai perempuan Indonesia yang melestarikan jamu tradisonal dari generasi ke generasi.

Hal ini diunggah langsung di dalam media sosial Instagram @voguemagazine dan situs web Vogue.

Berdasarkan lapiran di situs web Vogue, jamu merupakan minuman herbal tradisional khas Indonesia yang bisa membantu melancarkan pencernaan dan menjaga kesehatan tubuh.

“Jamu adalah segala tentang kesehatan yang mudah diakses, dan itulah yang membuatnya begitu kuat. Jamu bukanlah sekadar minuman, tetapi jamu adalah konsep merawat diri sendiri,” ujar Penulis ‘Jamu Lifestyle’ Metta Murdaya, dikutip dari Vogue, Kamis (6/4).

Rasa jamu yang khas dengan spektrum rasa pahit dan manis, dibuat pertama kali dengan memadukan kombinasi akar, herba, dan rempah-rempah untuk menyeimbangkan rasa dan manfaat kesehatan yang diinginkan.

Kemudian, campuran tersebut direbus dalam air hingga siap untuk dibotolkan dan disajikan pada suhu kamar.

Secara ringkas, majalah Vogue mengatakan ada banyak variasi jamu di Indonesia. Uniknya, bahan-bahan yang digunakan di setiap daerah pun berbeda, tergantung dari khasiat yang ingin ditonjolkan.

Selain itu, penjual jamu di Indonesia semakin lama pun semakin beragam. Awalnya, penjual jamu menggendong dagangannya di punggung, sehingga dikenal sebagai penjual jamu gendong.

Namun, selama beberapa tahun terakhir tradisi jamu gendong berubah menjadi lebih modern. Kini, sudah banyak penjual jamu yang mengangkut dagangannya menggunakan sepeda motor, demi memaksimalkan mobilitas dan jangkauan jarak.

Para pedagang jamu ini, menggunakan gerobak kayu yang dipasang di motor untuk menyimpan jamu selagi bepergian ke banyak tempat.

Masih dalam laporan Vogue, resep jamu tradisional kerap dilestarikan secara turun-temurun di dalam keluarga.

Melalui tradisi ini, secara tidak langsung jamu telah dan terus menjadi sumber pendapatan utama, serta pemberdayaan ekonomi bagi banyak perempuan Indonesia.

Pasalnya, tidak sedikit penjual jamu yang menekuni profesinya dengan sungguh-sungguh demi bisa menghidupi keluarganya atau menyekolahkan anak-anaknya.

Selain meberikan manfaat secara finansial, jamu juga bermanfaat untuk menciptakan komunitas sosial. Ini karena, para penjual jamu bisa bertemu dan menjalin hubungan sosial dengan banyak orang saat menjual jamu.

Kini, minat masyarakat terhadap konsumsi jamu juga mulai kembali meningkat, khususnya pada masa pandemi lalu.

Kebutuhan ini, membuat inovasi jamu juga semakin berkembang, dari sebelumnya resep jamu klasik yang telah diseduh, jamu bubuk dalam bentuk saset, sampai jamu dengan konsep grab-and-go.

Tidak hanya penjual jamu keliling, saat ini juga semakin banyak kafe, restoran, bahkan hingga hotel yang menyajikan menu jamu kepada para tamunya.

Untuk terus melestarikan sejarah dan kontribusi jamu terhadap budaya Indonesia, jamu telah dinominasikan ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang dinilai bisa membantu melindungi sejarah sosial, serta dampak budaya dari tradisi yang terancam punah. Ini penting untuk ekosistem jamu gendong, termasuk bisnis lokal yang menjadi sumber bahan dan persediaan jamu.

Hal ini, juga dirasakan oleh Suwarsi Moertedjo (74) perintis tak resmi dari Pasar Jamu Nguter dan pendiri Koperasi Jamu Indonesia (KOJAI). Suwarsi telah menghabiskan 26 tahun melatih, membimbing, dan mendukung penjual jamu lokal, serta melobi untuk mendapatkan dukungan pemerintah yang lebih baik.

Bagi Suwarsi, jamu adalah bagian hidup warisan Indonesia. Ia mengatakan, “Saya ingin memperjuangkan jamu agar tidak hilang. Saya ingin jamu bisa bertahan untuk generasi yang akan datang.”

Menurut Suwarsi, bahkan bagi mereka yang ahli dalam jamu modern, jamu gendong tradisional akan selalu mewakili tradisi dalam arti yang murni.

“Jamu gendong tradisional adalah panutan, simbol kekuatan yang memberdayakan perempuan lain. Jamu gendong tradisional memastikan bahwa cerita, semangat, budaya, dan warisan tetap terjaga,” tutup Pendiri Suwe Ora Jamu Nova Dewi.

Unggahan dari majalah Vogue ini berhasil mendapat banyak apresiasi dari warganet Indonesia.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: