Pelaku usaha perempuan (Foto: Nur Azizah)
Perempuan pelaku usaha memiliki peran penting dalam sektor perekonomian. Namun, mereka membutuhkan perhatian dan sinergi dari berbagai pihak dalam mengembangkan usaha.
Malam itu, Sugiarni tengah sibuk menata berbagai olahan tahu di meja yang telah disediakan. Ia dan para penjual tahu lainnya, memamerkan hasil olahan produksi tahu mereka pada sebuah workshop “Peningkatan Kapasitas Perempuan Pelaku Usaha”, di Hotel Le Polonia, Medan.
Ia sudah berjualan tahu di Kelurahan Sukamaju Kota Binjai, Sumatra Utara. Usaha tahu ini merupakan usaha yang diwariskan oleh orang tuanya. Mereka sudah berjualan tahu sejak tahun 1980-an dan berlangsung sampai sekarang.
Usaha ini pun berjalan secara turun temurun. Produksi sudah dikirim ke beberapa daerah, seperti Stabat, Medan, Dumai, Aceh, dan Batam.
“Ini adalah usaha turun temurun yang diwariskan oleh orang tua kami. Selain saya, adik saya juga berjualan tahu,” ujarnya.
Selain Sugiarni dan adiknya, terdapat puluhan penjual tahu di kelurahan ini. Itu sebabnya, kelurahan ini digadang-gadang sebagai sentra produksi tahu satu-satunya d Kota Binjai.
Setiap hari, para penjual tahu menghabiskan rata-rata 200 kilo kedelai mentah. Olahan tahu pun beragam, mulai dari tahu sutra, tahu kuning, tahu Sumedang, tahu bulat atau lato-lato, kembang tahu, dan tahu pong.
Di dalam mengembangkan usaha, para penjual tahu ini juga berperan sebagai distributor. Mereka memakai jasa pedagang tahu keliling yang biasa disebut along-along.
Terdapat sekitar 100 along-along yang membantu penjualan tahu mereka. Sugiarni menuturkan, kalau harga kedelai yang tidak stabil menjadi salah satu hambatan yang mereka hadapi selama ini.
Ditambah lagi, along-along yang berjualan memakai sistem retur barang yang mana barang yang sudah diambil untuk dijual, lalu sisa barang yang tidak laku dikembalikan kepada produsen.
“Ini sangat menghambat kami sebagai produsen tahu. Syukurnya tahu ini masih bisa diolah, tetapi hanya bertahan satu hari. Jika tidak laku kemudian dibuang,” ungkap Sugiani.
Tidak saja kelompok penjual tahu dari Kampung Tahu Binjai, kelompok UMKM Medan Tuntungan dan para penjual makanan di sentra Pasar Kamu, Desa Denai Lama, Deli Serdang juga hadir di sini.
Para pelaku usaha perempuan ini mendapat pelatihan dalam mengembangkan kompetensi berwira usaha. Mereka juga saling memamerkan produk mereka satu sama lain. Mereka dapat saling mencicipi dan bertukar informasi terkait hasil produksi.

Sinergi Multipihak
Pemberdayaan perempuan secara ekonomi, adalah cara lain yang ampuh untuk meningkatan peran dalam pendidikan/pengasuhan anak, menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, menurunkan pekerja anak, dan mencegah perkawinan anak.
Ketika perempuan dapat diberikan akses keuangan yang lebih besar untuk memulai atau mengembangkan usaha kecil yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan terhadap keluarga.
Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2021 menunjukkan, partisipasi perempuan tercatat lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Perempuan masih banyak menghadapi hambatan di dunia kerja. Mulai dari beban ganda, hingga kekerasan dan pelecehan di tempat kerja.
Meski demikian, perempuan memiliki kekuatan berupa kegigihan untuk berusaha dan minat belajar yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Perempuan memiliki potensi yang amat besar untuk dapat meningkatkan ekonomi dan pembangunan bangsa. Kekuatan ini merupakan peluang besar jika perempuan aktif terlibat dan berperan bagi kemajuan pembangunan bangsa.
Berdasarkan data BPS tahun 2021, perempuan mengelola 64,5% dari total UMKM di Indonesia atau sekitar 37 juta UMKM. Berdasarkan data, Provinsi Sumatra Utara terdapat 580.704 pelaku usaha perempuan, dengan perincian untuk tiga wilayah Kota Medan sebanyak 38.343 UMKM, Kota Binjai sebanyak 20.852 UMKM, dan Kabupaten Deli Serdang sebanyak 171.000 UMKM.

Dibutuhkan peran dari berbagai pihak dalam mengembangkan potensi perempuan pelaku usaha. Untuk itulah, Forum Komunikasi Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (FK PUSPA Sumut) mengadakan workshop “Peningkatan Kapasitas Perempuan Pelaku Usaha” pada 14 dan 15 Desember lalu.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangan ekonomi perempuan kreatif yang dapat berkonstribusi pada peningkatan ekonomi keluarga. Selain itu, membentuk kelompok perempuan sebagai pelopor dan pendidik sebaya dalam isu perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan.
“Di sini kami juga memfasilitasi kemitraan Lembaga Masyarakat anggota FK PUSPA, Pemerintah, sektor bisnis, dan perempuan pelaku usaha di kawasan Kota Medan, Kota Binjai, dan Kabupaten Deli Serdang untuk bersinergi membangun kawasan ekonomi mandiri, kreatif, dan inovatif melalui peningkatan pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan,” kata Ketua FK PUSPA Sumut Badriyah.
Pada gelaran ini, para pelaku usaha juga menyampaikan impian dan ide yang ingin mereka wujudkan. Seperti halnya Sugiarni yang tergabung dalam kelompok Kampung Tahu Binjai, menginginkan harga kedelai yang stabil dan tahu sisa retur bisa menjadi produk turunan.
Ia juga ingin pemerintah memberikan dukungan dan perhatian, “Selama ini kami bersinergi dengan Yayasan Aksi Baik sebagai mitra pengembangan kampung tahu yang ramah dengan anak dan perempuan. Kami juga ingin ciptakan pengusaha-pengusaha baru dan menjadikan kampung tahu sebagai tempat wisata. Kami juga mengharapkan perhatian pemerintah.”
“Perempuan khususnya pelaku usaha bisa kembangkan jejaring. Ketika perempuan berdaya secara ekonomi dan sosial, maka kehidupan akan baik-baik saja, kesejahteraan keluarga juga meningkat,” tutup Badriyah.
Penulis: Nur Azizah

