Kaligrafi Tiongkok

ilustrasi baju bekas impor (Foto: timnewman via Getty Images Signature)

Impor baju bekas ilegal mulai dilarang masuk ke Indonesia. Selain bisa mengancam industri tekstil dalam negeri, ternyata penggunaan baju bekas impor juga berbahaya bagi kesehatan kulit.

Pakaian termasuk ke dalam kebutuhan sandang manusia karena umumnya digunakan setiap hari. Kebersihan baju yang digunakan juga harus selalu terjaga, untuk memastikan tidak ada masalah yang timbul di kulit.

Namun, tidak sedikit masyarakat yang kerap berbelanja baju bekas impor untuk mendapatkan harga yang murah dan kondisi yang masih bagus.

Padahal, penggunaan baju bekas impor bisa menimbulkan banyak risiko yang berbahaya bagi kesehatan kulit.

Mengutip dari National Library of Medicine, penggunaan baju bekas impor bisa berisiko terkena beberapa infeksi mikroba termasuk infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus.

Beberapa penyakit kulit seperti dermatitis, scabies dan penyakit jamur dapat ditularkan melalui pemakaian baju bekas yang tidak dicuci bersih.

Mikroba dan jamur yang tertinggal di pakaian dapat memicu penyakit kulit, melalui kontak langsung dengan kulit. Beberapa komplikasi ini mungkin berbahaya dan bahkan tidak dapat disembuhkan.

Salah satu cemaran jamur yang ditemukan pada baju bekas, adalah cemajan jamur kapang. Adapun cemaran jamur kapang berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, seperti gatal-gatal dan reaksi alergi pada kulit, efek beracun iritasi, dan infeksi karena pakaian tersebut melekat langsung pada tubuh.

Risiko lain yang mengintai dari penggunaan baju bekas impor, adalah adanya infeksi bakteri Staphylococcus Aureus yang bisa menempel pada pakaian kotor.

Bakteri ini, bahkan bisa menyebar ke pakaian lain dan menyebabkan infeksi kulit atau meracuni makanan.  Bakteri yang menempel pada kain, berpotensi tumbuh menjadi penyakit berbahaya.

Proses penyebaran bakteri ini dapat terkontaminasi dalam aktivitas sehari-hari, dan sering kali tidak disadari.

Penggunaan baju bekas pun dapat menyebabkan penyakit virus seperti kutil, herpes simplex, dan maloscum.

Sahabat DAAI perlu tahu, kalau faktor mikroba dan bakteri yang tersisa pada pakaian bekas terlalu resisten dan tidak dapat dihilangkan dengan pencucian biasa, sehingga perlu disinfeksi melalui proses antiseptis yang tepat.

Tidak hanya itu, penggunaan baju yang bersentuhan langsung dengan kulit, termasuk pakaian dalam, bahkan memiliki risiko penularan penyakit yang lebih besar.

Untuk itu, usahakan untuk selalu membeli pakaian baru agar bebas dari risiko penyakit kulit, serta bisa tetap menjaga kesehatan tubuh.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: