Kaligrafi Tiongkok

ilustrasi virus Arcturus (Foto: Utah778 via Getty Images)

Mutasi virus Covid-19 terus berlanjut dengan ditemukannya varian baru, yakni Arcturus. Varian ini, bahkan menyebabkan kasus Covid-19 di India meningkat sampai lebih dari 1.300 kasus per hari.

Varian Covid-19 Arcturus atau subvarian dari Omicron XBB 1.16 telah ditemukan di 22 negara tetangga, seperti India, Singapura, Brunei Darussalam, sampai Amerika Serikat.

Subvarian ini pertama kali teridentifikasi pada bulan Januari lalu dari 2 sampel positif. Selanjutnya, ada sebanyak 59 sampel ditemukan pada Februari, serta 15 sampel selanjutnya ditemukan pada Maret di India.

Berdasarkan hal tersebut, India mencatatkan jumlah kasus Covid-19 dengan infeksi varian Arcturus terbanyak. Para ahli percaya, subvarian baru ini dapat menyebabkan gelombang baru pandemi di seluruh dunia.

Peneliti Global Health Security Dicky Budiman menjelaskan, subvarian terbaru ini punya potensi yang harus diwaspadai.

Apalagi, kata Dicky, subvarian Covid-19 ini bisa lebih cepat menyebar dan mendominasi, bahkan setelah masyarakat di dunia mendapat vaksinasi.

“Kita wajib waspada karena di tengah model imunitas yang cukup memadai ini, ternyata masih ada potensi kematian akibat Covid-19, meskipun yang meninggal ini terutama orang-orang yang memiliki risiko. Jadi, meskipun fase aktif Covid-19 sudah terlewati, tetapi situasinya masih memerlukan kita untuk menjaga perilaku hidup sehat dan juga upaya pencegahan lainnya,” ujar Dicky dikutip dari DAAI Magazine, Selasa (4/4).

Dicky melanjutkan, virus Arcturus punya kemampuan yang baik untuk menembus benteng pertahanan dari imunitas tubuh.

Kemudian, kemampuannya dalam menempel di reseptor ACE2 di sel tubuh manusia juga menjadi semakin efektif.

“Kalau sebelumnya harus banyak jumlah virusnya, sekarang dengan jumlah virus yang relatif sedikit pun bisa nempel karena kaitan di permukaan virus ini semakin banyak,” kata Dicky.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus ini, Dicky mengatakan cara utama yang bisa dilakukan pemerintah adalah memperbaiki kualitas kesehatan udara.

Artinya, apa pun yang bisa memperburuk kualitas udara seperti polusi dari rumah tangga, kepadatan lalu lintas, aktivitas pabrik, dan sebagainya harus dikurangi.

“Pasalnya, virus itu enggak terbang di udara sendiri, dia tetap harus menempel di air atau di polutan. Semakin banyak polutan di udara, maka semakin banyak virusnya, bahkan bukan hanya virus, tetapi bisa juga jamur atau bakteri (yang menempel). Nah, ini karena kualitas udaranya buruk,” lanjut Dicky.

Umumnya, beberapa gejala yang bisa dialami saat terkena virus Covid-19 varian XBB 1.16 adalah sebagai berikut.

 

1. Demam dan Menggigil

Pada kemunculan awal penyakit, tubuh akan merespons virus dengan cara mengaktifkan respons imun.

Tubuh yang sedang berusaha untuk membunuh penyebab infeksi, bisa menyebabkan suhu tubuh meningkat drastis. Oleh karena itu, pengidap sangat mungkin merasakan demam dan menggigil.

 

2. Diare

Virus Covid-19 juga menyebabkan inflamasi di bagian pencernaan, sehingga bisa mengganggu kemampuan tubuh untuk menyerap dan mencerna makanan.

Khususnya, virus akan menyerang reseptor ACE2 yang merupakan enzim di permukaan sel organ. Hal ini yang menyebabkan inflamasi dan memicu diare.

 

3. Pilek dan Hidung Tersumbat

Covid-19 varian terbaru ini memiliki gejala yang mirip dengan penyakit saluran pernapasan. Oleh karena itu, pengidapnya sering sekali mengalami pilek dan hidup tersumbat pada awal infeksi virus.

Meskipun demikian, karena gejala ini cukup umum, pilek dan hidung tersumbat saja tidak pasti berarti Sahabat DAAI mengidap Covid-19.

 

4. Nyeri Otot

Keluhan ini bisa terjadi pada bagian otot tertentu atau seluruh tubuh, juga dengan intensitas rasa sakit yang berbeda.

Penyebab dari gejala ini, adalah karena tubuh berusaha melawan virus yang ada di tubuh dengan mengeluarkan sel darah putih. Hal ini, bisa memicu inflamasi yang bisa membuat otot terasa nyeri.

 

5. Batuk Terus-menerus

Gangguan jaringan pernapasan juga bisa menyebabkan batuk secara berkelanjutan. Pada mayoritas varian, virus Covid-19 bisa mengganggu seluruh bagian pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru.

Adapun jenis batuk yang paling umum untuk pengidap alami adalah batuk kering tanpa dahak.

 

6. Sakit Tenggorokan

Covid-19 merupakan virus yang menginfeksi jaringan tenggorokan, sehingga bisa menyebabkan inflamasi.

Selain itu, gejala lain seperti pilek dan hidung tersumbat juga berdampak pada lendir di tenggorokan sehingga terjadi iritasi.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: