Kaligrafi Tiongkok

Nobar peluncuran SATRIA-1 (Foto: AmiriYandi via InfoPublik)

Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1) sukses diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pada Senin (19/6) pukul 05.21 WIB.

Pelaksana Tugas Menteri Komunikasi dan Informatika Mahfud MD menjelaskan, SATRIA-1 merupakan satelit internet pertama milik Indonesia yang diluncurkan dengan Roket Falcon 9 milik SpaceX.

Satelit SATRIA-1, menjadi satelit multifungsi terbesar di Asia dan nomor enam di dunia dengan kapasitas 150 Gbps.

Menurut Mahfud, peluncuran SATRIA-1 ditujukan untuk pemerataan akses internet titik layanan publik.

“Terutama, untuk keperluan pendidikan, kesehatan, layanan publik, dan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terpencil (3T),” ujar Mahfud dikutip dalam keterangannya, Selasa (20/6).

Rencananya, satelit ini akan memfasilitasi layanan internet di 50 ribu titik fasilitas publik dengan kecepatan 4 Mbps.

Satelit SATRIA-1, dibangun oleh Satelit Nusantara 3 dan dirakit Thales Alenia Space (TAS) di Prancis memakai platform SpaceBus NEO.

Biaya investasi pembuatan SATRIA-1 membengkak, dari semula US$450 juta (sekitar Rp6,6 triliun) menjadi US$540 juta (sekitar Rp8 triliun).

Pembengkakan biaya ini terjadi karena adanya biaya tambahan. Salah satunya karena semula SATRIA-1 akan diangkut menggunakan pesawat Antonov, tetapi tidak bisa dilakukan karena kondisi perang Rusia dan Ukraina.

Kemudian, pengangkutan SATRIA-1 pun dilakukan dengan kapal kargo Nordic dari Prancis menuju Cape Canaveral, melalui jalur laut yang membutuhkan waktu 17 hari.

Peluncuran satelit SATRIA-1 merupakan langkah awal untuk melaksanakan tugas-tugas berikutnya. Untuk itu, koordinasi dan kolaborasi antara kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terbilang penting.

Mulai dari pengoperasian dan pemeliharaan remote terminal, penyediaan konten yang mendidik. Sampai tata kelola yang akuntabel dalam pelaksanaan proyek KPBU ini, khususnya di masa konsesi selama 15 tahun ke depan harus terus menjadi perhatian bersama.

Sebagaimana diketahui, satelit SATRIA-1 merupakan milik pemerintah, tetapi akan dikelola oleh PT Satelit Nusantara Tiga dengan mekanisme build, operation, and transfer (BOT). Setelah 15 tahun, asetnya baru akan diambil alih oleh pemerintah.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: