Kaligrafi Tiongkok

Desainer Muda Max Alexander (Foto: John Chapple dari New York Post)

Max Alexander (8) merupakan seorang perancang busana cilik yang sudah belajar menjahit sejak usianya masih 4 tahun. Menariknya, Alexander mempelajari desain busana secara otodidak.

Alexander memulai mimpinya dari sebuah candaan saat makan malam. Melansir dari New York Post, suatu malam tiba-tiba Alexander bilang kepada orang tuanya bahwa dirinya akan menjadi seorang penjahit.

“Saya pikir itu adalah salah satu hal yang biasa dikatakan oleh anak berusia 4 tahun,” ujar ibunda Alexander, Sherri Madison, dikutip Senin (25/3).

Namun, hanya dalam waktu singkat, Alexander yang kini berusia 8 tahun bisa mahir membuat gaun dari simpul boa yang diikat dan dipotong pada manekin.

Awalnya, Alexander belajar menjahit dari Madison, tetapi akhirnya Alexander bisa mengoperasikan mesin jahit sendiri setelah mengikuti kelas menjahit.

Melansir dari New York Post, Alexander mengaku alasan utamanya merancang pakaian adalah agar orang-orang bisa merasa nyaman dan cantik.

Anak berbakat yang tinggal di Los Angeles, California, Amerika Serikat (AS), ini telah membuat puluhan desain baju dan memiliki lebih dari 2 juta pengikut di media sosial.

Alexander bahkan berhasil menarik perhatian aktris Sharon Stone yang beberapa bulan lalu memesan mantel putih mewah, dengan detail bahu seperti bulu.

   

(Manekin karton pertama Max Alexander)

 

Awal Mula Merancang Pakaian

Madison mengaku, dirinya bahkan tidak menyadari bakat Alexander, sampai anaknya sendiri yang mengutarakan minatnya.

“Kami sedang makan malam selama pembatasan sosial dan Alexander mengumumkan, ‘Saya butuh manekin.’ Dia sangat serius. Tidak ada tawa. Saya menanggapi, ‘Oke, saya tidak pernah melihatmu tertarik pada fashion. Apa yang kamu bicarakan?’ Dia berkata, ‘Itu karena saya tidak punya manekin. Jika Ibu membelikan saya manekin, saya akan tunjukkan. Saya seorang penjahit,” kenang Madison.

Alexander juga kerap menyebut dirinya adalah Guccio Gucci di kehidupan lamanya. Guccio Gucci adalah seorang pengusaha, perancang busana, dan pendiri rumah mode Gucci.

Karya Alexander seketika melejit ketika Madison, yang berprofesi sebagai seniman karton, membuatkan manekin pertama Alexander dari karton.

(Max Alexander menjahit sendiri pakaian yang ia desain)

 

Inspirasi Desain Pakaian

Alexander mengaku, busana rancangannya terinspirasi dari semua hal yang ada di sekitarnya. Akexander sendiri, bahkan telah menciptakan pakaian yang terbuat dari permen, karung kopi, atau, lebih dari 8.000 karet gelang.

Secara total, Alexander telah membuat lebih dari 100 karya sejak ia mulai berkarya 3 tahun yang lalu.

Saat ditanya proyek berikutnya, Alexander mengaku ingin membuat gaun dari sendok dan garpu. Alexander berharap, dirinya bisa melipatgandakan karyanya yang mengesankan dalam beberapa tahun ke depan.

Madison mengaku, keluguan Alexander muda adalah sebuah anugerah karena ia tidak perlu memikirkan hal-hal rumit seperti orang dewasa yang menambah keunikan pada desain pakaiannya.

“Dia mendesain seperti anak kecil,” kata Madison.

Selama membuat desain pakaian, Alexander dia tidak mengomentari atau peduli dengan berat badan atau ukuran badan orang lain.

Kurangnya pengaruh dari dunia orang dewasa, membuat rasa ingin tahu Alexander menjadi liar. Sebagai contoh, ketika Alexander melihat rok berbentuk lingkaran, ia mempertanyakan mengapa rok persegi, persegi panjang, dan segitiga tidak ada. Akhirnya, Alexander membuat rok tersebut menjadi kenyataan.

“Saya tidak tahu apa-apa, benar-benar tidak tahu apa-apa tentang fashion. Saya telah membuat beberapa kesalahan di sepanjang perjalanan Alexander. Saat ini kami masih terus belajar memahami Alexander. Saat bingung, pertanyaan seperti ‘Apakah ini sesuatu yang ingin Alexander lakukan? Apakah dia masih bersenang-senang?’ selalu muncul,” tambah Madison.

(Koleksi pakaian yang dirancang Max Alexander)

 

Mencintai Desain

Alexander telah mempersembahkan beberapa koleksi peragaan busana. Terakhir ia mengadakan peragaan busana pada bulan November 2023 lalu. Selama peragaan busana, Alexander bahkan mengipasi para model agar tetap tenang di belakang panggung.

“Dia pernah berkata kepada saya, ‘Bisakah Ibu mengambilkan minum untuk semua model saya?” kenang Sherri sambil tertawa.

Namun, jadwal akademisnya yang padat telah membatasi kegiatannya di dunia mode. Tuntutan untuk menjadi seorang siswa sekolah dasar yang rajin belajar, serta seorang desainer yang sedang naik daun semakin sulit untuk dilakukan.

Meski demikian, orang tuanya melakukan yang terbaik untuk menyeimbangkan masa kecil Alexander dengan kesuksesannya dalam dunia mode.

Sherri mengaku, Alexander menentukan sendiri harga untuk karya yang dibuatnya, tetapi harga yang diberikan tidak sebanding dengan jumlah pengikut Alexander di media sosial.

Sherri sendiri menekankan, Alexander tidak perlu mengetahui jumlah pengikutnya di media sosial. Selain karena jumlah followers tidak ada hubungan dengan bakatnya, tetapi Sherri juga tidak ingin Alexander merasa terbebani.

“Dia tahu orang-orang menginginkan karyanya. Dia tahu, misalnya, jika dia ingin membuat gaun, dia bisa menjualnya,” jelas Madison.

Melalui penjualan baju yang Alexander buat, ia mengaku ingin menyumbangkan uangnya.

“(Ingin) menyumbangkan sebagian uang (penjualan baju) untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Saya akan membuat orang merasa cantik,” tutup Alexander.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: