Kaligrafi Tiongkok

Umat Buddha lakukan pradaksina (Foto: DAAI TV)

Umat Buddha melakukan pradaksina di Altar Utama Candi Borobudur sebagai salah satu rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2567 BE/2023.

Salah satu rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2567 BE/2023 yang dilakukan umat Buddha, adalah pradaksina.

Kegiatan pradaksina ini, dilakukan setelah kegiatan Detik-detik Waisak selesai. Adapun Detik-detik Waisak 2567 BE/2023 ditandai dengan pemukulan gong 3x, pemercikan air suci, pembacaan paritta Jayanto, dan umat bersikap merangkapkan kedua tangan (anjali).

Mengutip dari situs Kementerian Agama (Kemenag), pradaksina atau parikrama adalah kegiatan penghormatan dengan mengelilingi objek pemujaan sebanyak tiga kali.

Adapun objek penghormatan pradaksina sesungguhnya adalah sang Tri Ratna, tetapi di masa ketika Buddha sudah parinibbana, objek penghormatan dialihkan pada sesuatu yang mengandung nilai luhur yang dianggap berhubungan dengan Tri Ratna.

Di Indonesia sendiri, pradaksina umumnya dilakukan pada objek penghormatan seperti candi, tempat menyimpan relik, vihara yang memiliki altar, tempat menyimpan buku-buku dharma, stupa, pohon Bodhi, atau Pratima Buddha.

Meski demikian, kebiasaan yang sudah sangat familier di Indonesia, khususnya dalam upacara-upacara besar di Candi Borobudur, adalah mengelilingi candi atau melakukan pradaksina searah jarum jam selama tiga putaran penuh.

(Foto: Kementerian Agama)

Selain objek yang benar, pradaksina memerlukan prasyarat kehendak (cetana) yang benar dan lurus, atau tidak menyimpang dari kaidah dharma.

Adapun syarat pradaksina yang pertama, adalah adanya objek penghormatan yang benar (dakkhineyya sampada). Kemudian, adanya kehendak yang benar (cetana sampada) untuk melakukan pradaksina, dan tentu sikap dalam pelaksanaan yang benar.

Kehendak yang benar akan menuntun pada sikap yang benar, sehingga pradaksina menjadi aktivitas spiritual yang lengkap dan utuh.

Penghayatan dalam proses berjalan mengelilingi objek penghormatan harus hadir dalam batin setiap peserta. Pasalnya, perenungan terhadap keluhuran Buddha, dharma, dan sangha akan mengondisikan batin peserta menjadi penuh devosi dan menghadirkan ketenangan.

Bagi meditator, pradaksina dapat dimaknai sebagai aktivitas meditasi, yaitu hadirnya kesadaran kekinian dalam setiap langkah aktivitas pradaksina.

Syarat pradaksina yang lengkap akan menuntun pada keberkahan bagi setiap peserta. Dengan demikian, pradaksina sesungguhnya adalah sebuah aktivitas spiritual yang nyata, bukan hanya semata-mata melestarikan tradisi kuno dari zaman Buddha.

Pada saat prosesi pradaksina, umat Buddha membacakan paritta dengan bersikap anjali mengelilingi Candi Borobudur. Hal ini dilakukan dengan tujuan memperoleh berkah kebajikan.

Penghormatan dilakukan bersamaan dengan meditasi sambil berjalan searah jarum jam. Saat melakukan pradaksina, peserta harus dijaga oleh orang lain agar posisinya selalu berada di sisi kanan objek pemujaan.

Setelah melakukan pradaksina di Candi Borobudur, umat Buddha akan kembali ke tenda masing-masing majelis, untuk selanjutnya melaksanakan ritual di Taman Lumbini.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: