Relawan Yayasan Buddha Tzu Chi memberikan bantuan untuk mencegah stunting pada balita. Dok. Tzu Chi
Permasalahan stunting di Indonesia telah lama menjadi perhatian dan prioritas kesehatan di Indonesia. Stunting merupakan defisiensi gizi kronis yang terjadi dalam periode kritis kehidupan, mulai dari masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan anak.
Kondisi ini mampu menimbulkan gangguan perkembangan fisik dan kognitif yang bersifat permanen, serta berpotensi meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti resistensi insulin dan penyakit kardiovaskular di masa dewasa.
Adapun stunting disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari masa kehamilan, usia kehamilan, status gizi ibu, berat badan lahir rendah, panjang lahir pendek. Risiko ini semakin tinggi bila terjadi infeksi berulang setelah lahir terutama diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
Kemudian, di tingkat keluarga, faktor sosial ekonomi dan pendidikan orang tua turut berperan
penting. Tingkat pendidikan orang tua yang rendah, pendapatan keluarga yang tidak mencukupi, dan kondisi sanitasi yang buruk berhubungan secara positif dengan kejadian stunting.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting mencapai 37,6% pada tahun 2013 dan mengalami penurunan menjadi 19,8% pada tahun 2024. Meskipun mengalami penurunan, tetapi kenyataan di lapangan tetap membutuhkan banyak upaya untuk menekan angka stunting ke angka lebih rendah.
Kurangnya tingkat pengetahuan orang tua terkait pemberian nutrisi yang cukup bagi anak, serta minimnya sosialisasi pada daerah pelosok menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan stunting.
Jika dibiarkan, dampaknya tidak hanya terbatas pada tingkat individu, tetapi juga meluas ke aspek ekonomi nasional melalui peningkatan biaya layanan kesehatan dan penurunan produktivitas masa depan.
Oleh karena itu, pengendalian dan pencegahan masalah gizi harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan.

(Relawan Yayasan Buddha Tzu Chi memberikan bantuan untuk mencegah stunting pada balita. Dok. Tzu Chi)
Upaya Pencegahan Stunting oleh Sektor Swasta
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, kunci utama penurunan stunting terletak pada dua intervensi penting di sektor kesehatan.
Pertama, memastikan ibu hamil memiliki gizi cukup dan bebas dari anemia. Kedua, memberikan asupan protein hewani bagi balita, terutama usia 12–24 bulan yang menjadi periode penting peningkatan stunting.
Hal inilah yang juga diupayakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi bersama para relawan, termasuk relawan medis, relawan pemerhati, sampai relawan misi amal.
Pencegahan stunting ini dilakukan Tzu Chi secara rutin di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Jakarta, Bangka, sampai dengan Kalimantan.
Bantuan makanan yang diberikan berupa susu bubuk, telur, sirop vitamin anak, dan biskuit.
“Stunting itu tadi sudah menjadi istilahnya sorotan secara nasional, ya, biasanya anaknya kecil. Terus harus ada gangguan perkembangan lainnya. Misalnya dia, ya, jalannya susah, bicaranya susah. Nah ini biasanya kita harus curiga. Saya harapkan kita benar-benar mencapai generasi emas tahun 2045 memberantas stunting, supaya jangan ada lagi stunting dan pengertiannya masyarakat betul. Apa, sih, stunting? Kenapa, sih, stunting?” ujar dr. Amelia, Sp.A, selaku Relawan Medis Tzu Chi dalam seminar Tzu Chi International Medical Assosiation atau TIMA Indonesia, dikutip Sabtu (22/8).

(Relawan Yayasan Buddha Tzu Chi memberikan bantuan untuk mencegah stunting pada balita. Dok. Tzu Chi)
Tak hanya memberikan bantuan, relawan Tzu Chi juga kerap memberikan penyuuhan kepada orang tua mengenai bahaya stunting pada anak.
Penyuluhan ini menjadi bagian dari aksi pencegahan stunting untuk memberdayakan para orang tua agar lebih memahami pentingnya pola makan sehat, serta memperhatikan tumbuh kembang anak-anak mereka.
Relawan Tzu Chi Ida Saragih menuturkan, tidak semua orang tua tahu bahwa anaknya dinyatakan stunting, beberapa dari mereka kadang tidak menyadari dan menganggap anaknya normal-normal saja.
“Saat pertama kami datang, ada salah satu ibu yang terlihat kaget, shock, seperti tidak mau anaknya dibilang stunting karena merasa anaknya selama ini aktif-aktif saja. Tetapi setelah kami pelan-pelan jelaskan, bahwa data ini diperoleh dari posyandu, sesuai Kartu Menuju Sehat (KMS) berat badan dan tinggi badan anak memang kurang daripada anak seusianya, ya, akhirnya menerima. Beruntung ibunya mau mengerti dan memberi respons yang positif. Sekarang malah senang jika kami datang ke rumahnya untuk memberikan bantuan makanan tambahan jadi bisa membantu menaikkan berat badan serta tinggi anak. Selain itu juga supaya anaknya lebih sehat lagi,” kata Ida.
Intervensi Pemerintah untuk Menurunkan Angka Stunting
Pencegahan stunting memerlukan kerja sama lintas sektor yang terkoordinasi secara konvergen antara pemerintah pusat, daerah, swasta, hingga masyarakat.
Sebagai penunjuk arah, pemerintah menerbitkan Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting yang menjadi acuan bersama bagi seluruh pemangku kepentingan.
Untuk memastikan efektivitas kebijakan, strategi nasional difokuskan pada rumah tangga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia 0–23 bulan.
Periode 1.000 HPK merupakan masa paling kritis karena gangguan pertumbuhan terbesar kerap terjadi di rentang ini akibat tingginya angka anemia ibu hamil (48,9%), kondisi Kurang Energi Kronik (KEK), serta kasus Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
Selain sasaran prioritas utama pada 1.000 HPK, intervensi juga diperluas ke sasaran penting lainnya seperti anak usia 24–59 bulan, wanita usia subur, dan remaja putri pada fase pra-konsepsi.
Langkah ini krusial mengingat data historis Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan mayoritas provinsi di Indonesia memiliki prevalensi stunting di atas 30% dan angka wasting di atas 10% yang mengindikasikan risiko kekurangan gizi akut.

(Relawan Yayasan Buddha Tzu Chi memberikan bantuan untuk mencegah stunting pada balita. Dok. Tzu Chi)
Adapun upaya penanganan di wilayah prioritas tersebut ditopang oleh lima pilar utama:
- Pilar 1: Komitmen dan Visi Kepemimpinan
Penguatan komitmen pimpinan di tingkat kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota, hingga pemerintah desa. - Pilar 2: Perubahan Perilaku dan Pemberdayaan Masyarakat
Peningkatan komunikasi perubahan perilaku melalui kampanye nasional, komunikasi antar-pribadi di tingkat rumah tangga, advokasi berkelanjutan, serta penguatan kapasitas pengelola program. - Pilar 3: Konvergensi Intervensi Spesifik dan Sensitif
Penyelarasan perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan intervensi secara terkoordinasi. Pilar ini dipimpin oleh Bappenas dan Kemendagri untuk memastikan bantuan tepat sasaran. - Pilar 4: Ketahanan Pangan dan Gizi
Penguatan kebijakan gizi keluarga, pemenuhan bantuan pangan, serta pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita kurang gizi—didukung oleh Kementan, Kemenkes, dan Kemensos melalui program bantuan tunai seperti PKH dan BPNT. - Pilar 5: Penguatan Data, Riset, dan Inovasi
Pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi berbasis data terintegrasi (seperti BPS, KRISNA, E-Monev, OM-SPAN, dan SMART) yang dikoordinasikan oleh Bappenas dan Setwapres untuk mengukur dampak serta ketercapaian program di lapangan.
Sebagai langkah preventif di tingkat dasar, masyarakat juga diimbau untuk memanfaatkan program cek kesehatan gratis yang disediakan pemerintah melalui posyandu dan puskesmas.
Layanan ini mencakup pemantauan rutin tumbuh kembang balita (timbang berat dan ukur tinggi badan), penimbangan status gizi, skrining anemia pada remaja putri dan ibu hamil, hingga pemberian suplemen penambah darah.
Deteksi dini ini memungkinkan intervensi gizi dapat dilakukan lebih cepat sebelum kondisi stunting atau gizi buruk memburuk.
Secara keseluruhan, kunci keberhasilan penurunan stunting terletak pada fokus intervensi sejak masa kehamilan hingga balita yang didukung deteksi dini secara rutin.
Melalui komitmen bersama dan eksekusi strategi nasional yang presisi, Indonesia optimistis mampu mempercepat penurunan angka stunting demi mencetak generasi masa depan yang sehat dan berdaya saing tinggi.
Mari bersama-sama wujudkan #MasyarakatSehatIndonesiaKuat dalam #LombaKesehatanKomdigi2026 sebagai upaya dalam menonjolkan semangat #HUT81RI.

