Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro. (Foto: DedMityay via Getty Images)
Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, adalah desa mandiri energi yang memanfaatkan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
PLTMH adalah pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan air sebagai tenaga penggeraknya.
Tenaga air yang dipakai PLTMH, berasal dari saluran irigasi, sungai, atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan jumlah debit air.
Melansir dari video yang diunggah di kanal YouTube DW Indonesia, dulu warga desa terbiasa hidup tanpa listrik dan hanya menggunakan lampu teplok di malam hari. Namun, semuanya berubah ketika Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro atau PLTMH dibangun.
Sekilas, desa yang berada di lereng Gunung Slamet itu terlihat seperti desa di Indonesia pada umumnya, tapi sumber energi di desa ini yang membuatnya spesial.
Berkat PLTMH yang ditenagai arus sungai, desa ini punya pasokan energi sendiri dan tidak bergantung dengan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).

(PLTMH Desa Karangtengah. Foto: DW Indonesia)
Awal Mula Pembangunan
Melansir dari Katadata, Kepala Desa Karangtengah Karyoto bercerita, pada tahun 2012 pihaknya menerima bantuan dari Komando Distrik Militer (Kodim) Banyumas dan PT Indonesia Power untuk pembangunan PLTMH.
Kemudian, di tahun 2015 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil alih dan menyempurnakan operasional pembangkit listik, dengan dengan kekuatan 15 kilowatt (Kw).
“Berjalannya waktu kurang lebih lima tahun itu kurang maksimal. Hingga akhirnya muncul bantuan dari Dinas ESDM Jateng. Saat ini listrik nyala 24 jam, nyala stabil. Saat ini dua dusun itu telah swasembada listrik,” ujar Karyoto, dilansir Rabu (6/3).
Berkat PLTMH, hingga saat ini ada 75 bangunan yang dialiri listrik yang stabil dari PLTMH. Perinciannya, sebanyak 73 rumah warga dikenakan iuran wajib dan 2 fasilitas umum bebas iuran, berupa balai RT dan masjid.
Ketua Pengurus PLTMH Karangtengah Karwin Zaenal mengaku, PLTMH sangat membantu meningkatkan pendapatannya.
“Berkat PLTMH kami bisa nonton TV, bisa bikin usaha kecil-kecilan. Istilahnya bikin (jajanan) es. Itu sangat membantu kami,” kata Karwin.

Cara Kerja PLTMH
Cara kerja PLTMH di Desa Karangtengah cukup panjang. Pertama, arus akan melewati pintu air yang berfungsi sebagai penyaring dari daun dan ranting pohon yang terbawa arus. Saringan itu terletak di bagian atas sungai dan terbuat dari besi warna biru.
Selanjutnya, arus air akan diarahakan menuju turbin melalui pipa besi berdiameter sekitar 40 centimeter (cm). Pipa itu memiliki panjang 200 meter, terhitung dari lokasi pintu air menuju turbin yang terletak di dalam sebuah bangunan.
Arus air yang datang dari ketinggian itu kemudian menabrak turbin, sehingga menciptakan gerakan sentripetral yang memicu dorongan kepada generator.
Proses tersebut, menimbulkan suara bising yang terdengar hingga radius 30 meter. Usai menggerakkan turbin, air yang arusnya sudah tak terlalu deras akan ditampung di sebuah bak untuk diarahkan kembali ke sungai.
Listrik yang dihasilkan dari proses tersebut, selajutnya disalurkan melalui jaringan kabel ke 75 rumah yang ada di Dusun Telaga Pucung dan Dusun Kalipondok.

(Ketua Pengurus PLTMH Karangtengah Karwin Zaenal)
Biaya PLTMH
PLTMH ini berdiri di tanah warga dengan sewa Rp2,5 juta pertahun. Adapun tarif listrik yang dibebankan kepada warga hanya Rp500 per kilowatt jam (kWh). Karyoto mengatakan, tiap bulan warga akan ditarik iuran dengan nominal yang berbeda.
Jumlah iurannya, bergantung dari jumlah pemakaian dan besaran instalasi listrik yang mereka pasang di rumah masing-masing.
“Rata-rata, warga membayar iuran dari Rp30.000-70.000 per bulan. Satu bulan kurang lebih iuran (bisa terkumpul) Rp2 juta, tergantung pemakaian. Sampai hari ini di buku kas pengurus ada sisa bersih Rp 20 juta lebih. Dari iuran itu, kami gunakan untuk persiapan perbaikan perawatan dan honor pengurus,” papar Karyoto.
Untuk listrik rumah tangga, warga membayar sekitar 25% lebih murah daripada penggunaan listik untuk kegiatan bisnis. Satu rumah tangga, biasanya membayar sekitar Rp15-50 ribu tiap bulannya, tergantung pemakaian.
Biaya ini setengah dari tarif PLN tiap bulan, sedangkan rata-rata pendapatan warga adalah Rp1,5 juta per bulan. PLTMH tidak hanya menghasilkan listrik, tapi juga membangun ikatan sosial warga. Ketika warga setuju menolak kehadiran PLN di desa mereka, mereka spontan memulai pemeliharaan rutin turbin dan generator.
Jika ada satu keluarga yang listriknya padam, warga langsung bergotong royong membantu untuk menyelesaikan masalah. PLTMH juga menghidupkan bisnis warga setempat. Melalui pasokan listrik yang merata dan stabil, warga bisa membuka warung dan mengakses internet.
Di sisi lain, Karwin menjelaskan bahwa generator menyala nonstop 24 jam sehari. Namun, setiap 2 minggu sekali, listrik akan dipadamkan selama 5 jam untuk perawatan generator.
Pemadaman dimulai sejak pukul 08.00 hingga pukul 15.00. Sebagai pengurus PLTHM. Setiap lima hari pertama di awal bulan, Karwin dibantu oleh sekretaris mengunjungi rumah-rumah warga untuk menarik iuran wajib.
Sempat Pakai Kincir Air
Sebelum pembangkit listrik dibangun, warga menggunakan kincir air di setiap rumah untuk menghasilkan listrik dengan memanfaatkan energi kinetik.
Alur kerja kincir air tersebut, terdiri atas baling-baling kayu yang dikaitkan dengan karet untuk menggerakkan dinamo.
Kincir air itu dibangun dan dirawat secara mandiri, tanpa adanya bantuan dari pemerintah. Meski demikian, inovasi ini tidak optimal.
“Energinya dari aliran sungai. Satu baling-baling untuk satu rumah. Cuma itu gak maksimal, kalau ada banjir terlalu keras, blong. Kadang hilang baling-balingnya dan kalau ada kerusakan kami benahi sendiri-sendiri,” ungkap Zaenal.
Karwin mengaku, tidak pernah mengalami pemadaman listrik berkepanjangan selama menjadi pelanggan listrik PLTHM. Biasanya, aliran listrik akan padam jika ada pewaratan pembangkit dan kondisi sungai saat banjir.

Tantangan PLTMH
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi warga Desa Karangtengah, adalah kepemilikan lahan. Kepala Desa Karangtengah mengakui, mereka masih perlu membayar sewa beberapa jalan yang terkoneksi dengan turbin sekitar Rp2 juta per tahun. Beberapa warga khawatir pemilik lahan akan memberhentikan sewa nantinya.
Jika itu terjadi, ini berarti warga akan membutuhkan lebih banyak dana untuk memindahkan pembangkit listrik. Artinya, perlu waktu lebih lama untuk membangun kembali pembangkit listrik di tempat lain. Cuaca juga menjadi tantangan yang harus dihadapi warga Karangtengah.
Ketika sungai meluap karena hujan deras, beberapa material seperti sampah, pasir, batu dan dedaunan akan mengganggu alur air sungai yang melewati PLTMH.
Namun, warga rutin membersihkan dan melakukan pemeliharaan pada seluruh PLTMH setiap dua minggu sekali. Angin kencang juga menjadi ancaman bagi tiang listrik yang saat ini terbuat dari besi. Meski demikian, Kepala Desa telah menganggarkan dana desa senilai Rp25 juta untuk mengganti tiang listrik ke yang lebih kuat dan terbuat dari beton.
Warga Desa Karangtengah juga melihat adanya potensi pariwisata di desa mereka, serta berharap bisa menawarkan wisata pendidikan tentang masa depan energi bersih.
Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

