Kadek Wiwindari sedang menyelesaikan lukisannya (Foto: Dok. Kadek Wiwindari)
Kadek Wiwindari (32) merupakan seniman disabilitas asal Desa Banjarasem, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, dengan karya lukisan yang telah mendunia.
Kadek Wiwindari atau yang akrab disapa Winda, mengidap kelainan genetik bernama muscular dystrophy yang membuat beberapa bagian tubuhnya kehilangan kekuatan untuk digerakkan.
Meskipun memiliki keterbatasan fisik, tetapi Winda pantang menyerah dalam menjalani profesinya sebagai pelukis.
Winda bercerita, dirinya mulai melukis sejak 2015 setelah kepergian sang ayah. Untuk menyambung hidup, akhirnya Winda pun berperan sebagai tulang punggung keluarganya.
Berbekal keterampilannya melukis di atas kanvas, Winda pun berhasil menghasilkan banyak karya yang menakjubkan.
Karya lukisan yang dihasilkan oleh Winda, didominasi dengan tema kehidupan masyarakat Bali, seperti tari Bali, panen padi, hingga kehidupan pasar. Tema tersebut dipadukan dengan beragam warna yang membuatnya terlihat indah dipandang mata.

Winda mengaku, dirinya tidak pernah mengikuti les menggambar ataupun pendidikan formal. Keahliannya dalam melukis, dikembangkan olehnya secara otodidak.
“Kemudian dari situ diunggah ke media sosial, akhirnya banyak yang memesan,” ujar Winda kepada DAAI TV, Kamis (24/8).
Tidak hanya dijual, beragam lukisan yang dibuat Winda juga ia sisihkan untuk dipamerkan pada pameran lukisan atau lelang amal.
Waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah lukisan pun beragam, bergantung dari ukuran dan kerumitannya. Untuk lukisan dengan ukuran agak kecil, bisa diselesaikan dengan waktu sekitar 1 minggu, sedangkan lukisan yang lebih besar bisa diselesaikan dalam waktu 2-3 minggu.
Lukisan yang dibuat Winda dibanderol dengan harga yang bervariasi, berkisar dari Rp2 juta sampai Rp10 juta.
Tidak hanya di dalam negeri, karya lukisan Winda juga diminati oleh pembeli mancanegara, seperti dari Jerman, Australia, Amerika Serikat (AS), Portugal, Belgia, Inggris, Norwegia, bahkan sampai Brazil.

“Saat melukis kendalanya hanya di fisik. Saya mengalami kelainan genetik yang membuat saya lumpuh dan melemahkan seluruh otot saya. Jadi gerak saya cukup lambat, tangan kanan saya harus dipegangi dengan tangan kiri saya agar bisa digerakkan dengan baik. Itu juga menjadi salah satu faktor yang membuat saya lama menyelesaikan karya,” kata Winda.
Winda merasa senang karena ada banyak orang yang mendukung profesinya. Winda bahkan bisa bergabung di banyak lelang amal, acara penting, dan pameran lukisan.
Selain bisa memberikan pengalaman baru bagi dirinya, beragam acara tersebut juga bisa menjadi jembatan Winda untuk membantu sesama.
Sampai saat ini, Winda bahkan sudah membuat 30 karya lukisan yang ditujukan untuk disumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan.

Pada Oktober 2023 mendatang, Winda akan mengikuti acara pembukaan pameran internasional di Yogyakarta. Ia berharap, pameran tersebut bisa berjalan lancar agar dirinya bisa punya lebih banyak kesempatan untuk membantu orang lain.
Winda juga berharap bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak agar karyanya bisa semakin bermanfaat dan berdampak lebih luas.
Ia mengatakan, setiap orang perlu berani untuk memulai apa pun sesuai dengan potensi yang mereka miliki.
“Berani memulai dan tetap bersikap baik karena dari energi positif kita, maka orang-orang baik juga akan datang ke diri kita untuk membantu kita,” tutup Winda.

