Kaligrafi Tiongkok

Eunike Tanzil (Foto: Hidayat Sikumbang DAAI Medan)

Eunike Tanzil (24) merupakan seorang komponis asal Kota Medan, Sumatra Utara. Berprestasi sejak muda, Eunike berhasil melebarkan sayap ke kancah internasional.

Cantik saja tidak cukup, itulah yang menjadi pegangan hidup Eunike yang tumbuh besar dengan kemampuannya dalam bermain piano, bahkan ia telah mencintai piano sejak masih kecil.

Saat usianya baru menginjak 13 tahun, Eunike telah tampil dengan menunjukkan bakatnya di bidang piano dalam Junior Original Concert International yang dihelat di Jepang.

Pada saat itu, Eunike berhasil membuat banyak orang berdecak kagum akan kemampuan dirinya bermain piano.

Mimpinya untuk mampu bermain piano di kancah yang lebih luas lagi, pada akhirnya membawa Eunike untuk berkuliah di kampus-kampus ternama di Amerika Serikat (AS).

Di bidang akademis, Eunike terus menunjukkan prestasinya dengan mendapatkan beasiswa di Berklee School of Music. Selain itu, ia juga mendapat beasiswa magister di Julliard School.

Tak lupa, Eunike juga memperkenalkan budaya batak melalui salah satu karya terbaiknya, yakni Batak Medley bersama beberapa rekannya.

Komponis yang punya segudang pengalaman ini, akhirnya dipercaya untuk turut ambil bagian di bagian komposer sebuah film. Salah satunya, film biografi Whitney Houston yang tayang di dalam platform film digital.

“Karena lagi-lagi terinspirasi oleh sosok John Williams atau Hans Zimmer. Nah, pada saat saya di Berklee memang jurusan saya itu composer untuk perfilman. Saya mulai terjun ke proyek-proyek yang kecil dulu, lalu dipercayakan ke projek yang lebih besar seperti Whitney Houston yang ada di Netflix,” ujar Eunike ke DAAI TV, dikutip Rabu (18/10).

Bakat yang dimiliki oleh Eunike Tanzil sejak kecil juga disadari oleh bibinya, Molinda Chandra. Kedekatan dirinya bersama Eunike hingga detik ini pun membuatnya merasa terharu.

“Ada satu kebanggan dari kita. Karena apa? Waktu mereka tampil meng-compose sendiri, buat lagu sendiri itu (bangga). Jadi waktu tampil (bisa memamerkan) hasil karya sendiri. Memang kalau bakat dari kecil dia sudah masih kecil 3-4 tahun, kita kasih dia musik sendiri dia tahu notnya dimana waktu dia kecil kita gendong dia bisa nangis sendiri. Kaget juga gitu,” kata Molinda.

Saat ini, Eunike berharap agar ke depannya setiap pemusik tidak ragu untuk menunjukkan karya yang mereka ciptakan.

Ia pun mengaku, sudah saatnya para pemusik tidak lagi dikotak-kotakkan dari jenis kelamin karena bagi Eunike setiap pemusik pasti siap untuk menciptakan karya terbaiknya masing-masing.

“Menurut saya komposer atau musisi itu cuma ada dua, musisi yang baik dan yang kurang bagus aja gitu. Musisi rajin dan malas. Jangan ada stereotipe gender. Jadi lakukanlah yang kamu mau dan yakin diri kamu sendiri. Percaya diri, jangan sampai kata-kata orang yang bilang kamu ga bisa itu (jadi) jatuhin kamu karena kamu pasti bisa melakukan yang kamu impikan,” tutup Eunike.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: