Ilustrasi KPR BTN. (Foto: Canva)
Tren kepemilikan rumah di Indonesia kini kian dinamis. Menjelang akhir tahun 2025, gairah pasar properti menunjukkan sinyal positif yang kuat.
Berdasarkan data terbaru Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI), penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan IV 2025 tumbuh positif sebesar 7,83% (yoy), melonjak signifikan dari kontraksi pada triwulan sebelumnya.
Menariknya, motor utama pertumbuhan ini adalah rumah tipe kecil yang tumbuh sebesar 17,32% (yoy). Angka ini mencerminkan tingginya permintaan dari pembeli rumah pertama yang kini didominasi oleh generasi muda.
SkemaKredit Pemilikan Rumah (KPR) tercatat tetap menjadi tulang punggung utama dengan pangsa 70,88% dari total pembiayaan konsumen di pasar primer.
Solusi KPR hadir sebagai opsi menyiasati harga rumah yang semakin tinggi, tanpa harus memikirkan kenaikan harga sewa.
Salah satu daya tarik KPR adalah sistem cicilan bulanannya yang relatif ringan. Kreditur bisa memilih jangka waktu cicilan yang sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.
Selain itu, KPR juga bisa menjadi investasi di masa depan, bahkan bisa diwariskan kepada keluarga.
Di tengah dominasi skema KPR tersebut, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama.
Sejak pertama kali menyalurkan KPR pada tahun 1976 hingga 8 Desember 2025, BTN telah menyalurkan 5,7 juta rumah di seluruh Indonesia dengan plafon pembiayaan senilai Rp504,18 triliun.
Angka ini terbagi menjadi 5,23 juta unit disalurkan melalui KPR konvensional dan 456.749 unit melalui pembiayaan syariah.
Menariknya, fokus BTN pada masyarakat menengah ke bawah sangat terlihat dari komposisi 4,38 juta unit KPR subsidi, sedangkan 1,3 juta unit sisanya merupakan KPR nonsubsidi.
Angka kumulatif ini bukan sekadar statistik, melainkan potret evolusi kemandirian masyarakat dalam memiliki hunian yang layak dan terjangkau.
“BTN merasa bangga dan bersyukur dapat melayani 5,7 juta keluarga Indonesia dalam 49 tahun terakhir karena pencapaian ini merupakan hasil kerja keras yang konsisten untuk menjadi bank pilihan rakyat dalam pemenuhan kebutuhan hunian impian mereka. Namun, kami tidak ingin berpuas diri karena kami harus terus bekerja untuk jutaan masyarakat lainnya yang belum memiliki rumah, ataupun belum mampu merenovasi rumah mereka menjadi lebih layak huni,” ujar Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dikutip dalam keterangan tertulisnya, Rabu (25/2).

(Rumah KPR milik Erizka di Tangerang. Foto: Dok. Pribadi)
Perempuan dan Kemandirian Finansial
Seiring dengan perjalanan panjang tersebut, profil debitur BTN kini kian inklusif. Nixon mengungkapkan fakta menarik mengenai pergeseran tren pembeli rumah.
Diketahui antara tahun 2020 hingga 2024, sekitar 32,5% dari total unit KPR BTN (senilai Rp25 triliun) disalurkan kepada perempuan.
Meski secara total masih angka ini di bawah kreditur laki-laki (67,5%), tetapi tren ini menunjukkan peningkatan signifikan.
Bisa dikatakan, kini perempuan cenderung lebih percaya diri mengambil keputusan investasi sejak usia muda, serta tidak bergantung pada pasangan.
Salah satu perempuan berdikari yang memilih untuk membeli rumah di usia muda, adalah Gista Septriantri Putri (28).
Gista, yang sehari-harinya berprofesi sebagai guru les, memutuskan untuk mengambil langkah besar dengan membeli rumah pertamanya di Ciheulang Tonggoh, Karang Tengah, Sukabumi. Alasan di balik keputusan ini cukup personal, ia ingin belajar hidup lebih mandiri sekaligus membangun investasi masa depan.
Meski profesinya sebagai guru les menuntut fokus yang tinggi, urusan mencari rumah ternyata tidak serumit yang ia bayangkan. Berbekal informasi dari media sosial dan brosur Bank BTN, Gista akhirnya memantapkan pilihannya setelah berkonsultasi dengan keluarga.
Menariknya, proses dari awal pengajuan hingga akad pun terhitung singkat, yakni hanya sekitar dua bulan. Gista mengaku, proses yang singkat ini turut dipengaruhi oleh transparansi informasi dari pihak bank.
“Pelayanannya sangat baik dan prosesnya cepat. Pihak BTN terus mengabari setiap tahapan KPR yang saya ambil, bahkan menjelaskan secara detail apa yang harus dilakukan setelah rumah dapat dihuni,” tambahnya.
Kemudahan yang dirasakan tak cukup sampai situ, Gista mengaku urusan cicilan pun bisa diselesaikan dengan santai lewat fitur autodebet di Super App balé by BTN.
“Fiturnya sangat memudahkan untuk mengecek pembayaran, jadi tidak perlu repot bolak-balik ke kantor bank di sela kesibukan mengajar,” jelas Gista.
Hal ini juga diamini oleh Erizka Devi Emaida (28). Ia mengaku memutuskan membeli rumah sebagai instrumen investasi di masa depan
Perempuan yang berprofesi sebagai pegawai swasta di Jakarta ini, juga lebih memilih membeli rumah karena bisa menjadi aset pribadi dan bisa diwariskan kepada keluarganya kelak.
Erizka sendiri memilih untuk mengajukan KPR melalui BTN Syariah di kompleks Perumahan Graha Kayu Agung, Kab. Tangerang.
“KPR rumah memberikan kepastian karena aset yang dimiliki atas nama sendiri, berbeda dengan sewa rumah. Meskipun harga sewanya sama, tetapi asetnya bukan milik pribadi,” ungkap Erizka.
Melalui rumah pertamanya, Erizka mengaku bisa belajar untuk hidup lebih mandiri dan bertanggung jawab atas pengeluaran finansialnya setiap bulan.
Berbeda dengan Gista, Erizka memilih KPR syariah sebagai alternatif pembiayaan rumah karena sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Melalui KPR syariah, kreditur bisa terbebas dari riba karena transaksinya menggunakan akad-akad yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.
Misalnya seperti Murabahah (jual beli), Musyarakah Mutanaqisah (kerja sama kepemilikan), atau Istisna’ (pemesanan pembuatan barang). Akad-akad ini lebih transparan dan adil bagi kedua belah pihak, baik bank maupun nasabah.

(Rumah KPR milik Gista di Sukabumi. Foto: Dok. Pribadi)
Mendukung Program 3 Juta Rumah
Di tahun tahun 2026 ini, BTN telah menyiapkan strategi proaktif. Direktur Consumer Banking BTN Hirwandi Gafar menyatakan komitmennya untuk mendukung Program 3 Juta Rumah pemerintah. Saat ini, portofolio KPR Subsidi BTN bahkan mencapai 64% dari total portofolio KPR BTN.
“Pada 2026, BTN akan memperkuat fungsi intermediasi dengan mencari calon debitur potensial secara proaktif, termasuk bekerja sama dengan institusi dan korporasi yang memiliki ribuan karyawan,” jelas Hirwandi.
Optimisme ini diperkuat oleh Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho yang menyebutkan bahwa penyaluran KPR FLPP tahun 2026 telah dimulai lebih awal sejak Januari, untuk mempercepat pemenuhan target nasional.
Keberhasilan BTN tentunya tidak lepas dari peran para pengembang. Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Bambang Ekajaya menyebut, BTN sebagai mitra strategis yang tak tergantikan.
“Saking terkenalnya, kalau mau beli rumah subsidi orang menyebutnya ‘rumah BTN’. Branding ini sudah melekat sangat lama,” kata Bambang.
Ia berharap, BTN terus menyederhanakan proses KPR agar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) semakin mudah mendapatkan hunian.
Ketua Umum Apersi Junaidi Abdillah juga memberikan apresiasi serupa. Ia mencatat BTN kini kian ekspansif menyentuh sektor informal seperti ojek online dan pedagang.
Berdasarkan data BP Tapera, hingga 14 November 2025, sebanyak 130.514 unit rumah yang dibangun anggota Apersi memanfaatkan KPR FLPP dari BTN.
“Perbankan dan pengembang adalah dua sektor yang tidak bisa dipisahkan dalam mewujudkan target nasional,” pungkas Junaidi.
Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Adisatrya Suryo Sulisto mengapresiasi peran BTN dalam pembiayaan Program 3 Juta Rumah.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penyelesaian backlog perumahan memerlukan koordinasi lintas lembaga.
“Ini bukan sekadar membangun rumah. Jika program ini berjalan baik, efek dominonya terhadap ekonomi sangat besar, mulai dari industri bahan bangunan hingga UMKM lokal,” kata Adisatrya.
Adisatrya turut menekankan pentingnya solusi atas masalah pertanahan dan konektivitas. Lokasi hunian bagi MBR diharapkan tetap dekat dengan pusat aktivitas kerja agar tidak membebani biaya transportasi.
“BTN sudah on track, tapi sinergi dengan kementerian dan lembaga lain harus terus ditingkatkan agar program ini benar-benar tepat sasaran dan berkelanjutan,” tutupnya.
Melalui perpaduan antara keberpihakan pada masyarakat berpenghasilan rendah dan transformasi digital, Bank BTN terus membuktikan peran nyatanya bagi Indonesia.
Dengan inovasi produk dan kolaborasi erat bersama pengembang serta pemerintah, BTN memastikan bahwa hunian yang nyaman, modern, dan terjangkau bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang bisa diraih oleh setiap lapisan masyarakat.

