Desa Wisata Penglipuran Bali (Foto: Indonesia Travel)
Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, menjadi salah satu desa wisata yang meraih penghargaan dari United National World Tourism Organization (UNWTO).
Penghargaan yang diberikan UNWTO ini, mengakui desa-desa terbaik di dunia yang terdepan dalam memelihara keasrian kawasan pedesaan dan melestarikan bentang alam, keanekaragaman budaya, nilai-nilai lokal, dan tradisi kuliner.
Mengutip dari situs Kemenparekraf Wonderful Indonesia, Desa Penglipuran adalah salah satu Desa Wisata Unggulan di Bali dan telah masuk dalam kategori desa wisata mandiri.
Kelian atau Pengelola Desa Wisata Penglipuran I Wayan Budiarta, didampingi Sekretaris Utama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Ni Wayan Giri Adnyani, menerima piagam secara langsung dari Sekjen UNWTO Zurab Pololikashvili, di Samarkand, Uzbekistan, pada Kamis (19/10).
“Penghargaan ini menjadi satu motivasi kami, masyarakat Penglipuran, untuk tetap menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya. Dengan demikian, kepariwisataan di Desa Wisata Penglipuran bisa berkelanjutan,” ujar I Wayan Budiarta dikutip dalam keterangannya, Jumat (3/11).

Menjadi Desa Terbaik
Desa Wisata Penglipuran berhasil menjadi desa yang terpilih dari 260 kandidat dan lebih dari 60 negara yang terdaftar.
Selain Desa Penglipuran, ada tiga desa wisata lain di Indonesia yang masuk dalam upgrade programme dari inisiatif ini, yaitu Desa Bilebante (NTB), Desa Pela (Kaltim), dan Desa Taro (Bali).
Tiga desa wisata Indonesia tersebut, menjadi bagian dari 20 desa bimbingan yang dipersiapkan untuk menjadi Best Tourism Villages UNWTO di periode selanjutnya.
Desa-desa tersebut, terdaftar di bawah UNWTO Best Tourism Villages Upgrade Programme yang merupakan desa-desa dengan potensi besar dari berbagai penjuru dunia.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyambut baik penghargaan yang diberikan UNWTO kepada desa-desa wisata di Indonesia.
Sebagaimana misi dari Kemenparekraf, yakni untuk kebangkitan berbasis ekonomi yang berkeadilan masyarakat, pihaknya terus mendorong pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, di mana salah satu turunannya adalah village tourism atau desa wisata.
“Saya sangat optimistis, ini akan menjadi inspirasi bagi desa wisata lainnya di Indonesia untuk mengoptimalkan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan warisan budaya yang kita miliki,” kata Sandiaga.

Keunggulan Desa Wisata Penglipuran
Beberapa tahun terakhir, Desa Wisata Penglipuran memang menjadi salah satu destinasi wisata populer di Bali. Ketika rangkaian KTT G20 digelar di Indonesia pada 2022, sejumlah delegasi G20 mengunjungi desa ini. Mereka ingin mengetahui tradisi menjaga keseimbangan alam dan tradisi budaya pada masyarakat desa tersebut.
Ketika pengunjung memasuki desa ini, pengunjung akan menemui deretan tanaman hijau. Semakin ke dalam, suasana desa terasa sejuk dan asri dengan pemandangan pagar tanaman yang menghiasi seluruh area desa.
Pengunjung hanya dapat berjalan kaki mengelilingi desa ini, dilarang menggunakan kendaraan bermotor, serta dilarang membuang sampah sembarangan. Hal ini dilakukan untuk menjaga lingkungan Desa Penglipuran agar bebas dari polusi.
Desa Penglipuran adalah warisan leluhur sejak abad ke-13. Masyarakat desa mempertahankan tradisi nenek moyang mereka yang sudah berusia ratusan tahun. Sejak 1993 pemerintah menjadikan desa adat ini sebagai desa wisata.

Tri Mandala Desa Wisata Penglipuran
Tata ruang desa terdiri atas tiga bagian yang berjejer dari utara ke selatan, disebut dengan Tri Mandala, yakni Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala.
Utama Mandala terletak pada posisi paling tinggi di utara. Terdapat dua pura, yaitu Pura Penataran dan Pura Puseh yang terletak berdampingan. Di sinilah tempat masyarakat desa beribadah. Di kawasan ini juga ada hutan bambu yang bersih dan asri.
Madya Mandala adalah tempat pemukiman penduduk yang terdiri dari 78 pintu (angkul). Setiap angkul dihuni oleh satu klan. Jumlah kepala keluarga di masing-masing angkul pun bervariasi. Secara keseluruhan, terdapat 245 KK dengan jumlah penduduk lebih dari 1.100 orang.
Terakhir adalah Nista Mandala, terletak paling selatan yang juga menjadi lokasi pemakaman penduduk.
Selain tata ruang, bangunan di desa itu juga memiliki keunikan tersendiri. Terdapat sejumlah bangunan dengan klasik, yakni angkul-angkul atau pintu gerbang. Angkul ini dibuat serupa antara satu pintu gerbang dan pintu gerbang lainnya.
Menurut I Wayan Budiarta, keindahan alam Penglipuran yang menjadikannya sebagai destinasi wisata hanyalah sebuah bonus. Baginya yang paling utama adalah tingginya kesadaran warga melestarikan budaya warisan leluhur. Atraksi budaya, kuliner, maupun festival Penglipuran yang digelar setiap tahun melibatkan seluruh warga desa.
Di dalam kesehariannya, mereka menerapkan konsep Tri Hita Karana yang menitikberatkan pada hubungan harmonis antarmanusia, lingkungan alam, serta Sang Pencipta.

