Penulis : Grace Kolin
Jika dilihat sekilas oleh mata awam, Bell’s Palsy mirip seperti stroke di wajah, sehingga banyak yang keliru menilainya sebagai stroke. Padahal Bell’s Palsy berbeda dengan stroke. Bell’s Palsy adalah kondisi kelumpuhan pada satu sisi otot wajah sehingga salah satu sisi wajah tampak melorot. Seseorang yang sudah pernah terkena kondisi ini memiliki kemungkinan kecil untuk mengalaminya kembali.
Ada yang menganggap penyebab Bell’s Palsy adalah udara dingin dari AC atau kipas angin yang sering mengenai bagian wajah. Namun menurut dr. Metta Yani, Sp.N, spesialis neurologi dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran dalam program Bincang Sehati DAAI TV, faktor ini bukanlah penyebab utama dari Bell’s Palsy.
“Penyebab utamanya, kemungkinan besar adalah virus. Nah, kenapa terus mengapa orang lain bisa kena kita enggak? Biasanya karena daya tahan tubuh kita lebih lemah, itu bisa karena stres, kecapekan dan sebagainya. Dikatakan kalau bahwa kita sudah terkena Bell’s Palsy, di saraf ketujuh kita itu mengalami inflamasi atau pembengkakan, nah disitu sebaiknya kita menghindari yang terlalu dingin mengenai wajah kita, AC atau kipas angin,” kata Metta.
Mengutip dari laman alodokter.com, gejala Bell’s Palsy ditandai dengan mata berair dan mengiler dan kelumpuhan pada salah satu sisi wajah. Keluhan tersebut dapat dilihat dari perubahan bentuk wajah sehingga penderita Bell’s Palsy sulit tersenyum dengan simetris. Kondisi ini dapat terjadi secara tiba-tiba, tetapi biasanya tidak bersifat permanen. Sebagian besar penderita Bell’s Palsy dapat pulih sepenuhnya dalam waktu 6 bulan.
Terdapat persamaan dan perbedaan penanganan untuk level Bell’s Palsy yang dialami, baik itu Bell’s Palsy ringan, sedang dan berat. “Semua sih sama. Awal-awalnya kita berikan medikamentosa, berikutnya paling kita berikan raborantia, vitamin-vitamin gitu kan, neurotropik. Nah tetapi untuk yang sedang dan berat, mungkin perjuangannya akan lebih panjang untuk fisioterapi, massage, pelatihannya itu akan lebih panjang. Itu bedanya. Tapi saya ingatkan pada pasien-pasien Bell’s Palsy ini kan kita duga virus kan, itu tidur, istirahat yang cukup gitu loh, hindari stres gitu kan. Kalau dengan menghindari stres otomatis kan kita lebih kuat menahan virusnya, yang kita duga ini sebabnya virus,” ujar Metta.

