Kaligrafi Tiongkok

Gudianto Huan, sopir taksi pegiat kebaikan di Surabaya. Dok. Pribadi

Lampu indikator argometer taksi sore itu terus bergerak seiring padatnya lalu lintas Kota Surabaya.

Di balik kemudi, Gudianto Huang (61) menyapa penumpangnya dengan ramah dan senyum hangat.

Namun, bukan sekadar ruang kabin bersih atau seragam rapinya yang mencuri perhatian, melainkan pemandangan unik di gantungan jok depan dan sudut-sudut kabin.

Di sana terlihat ada puluhan bungkus makanan ringan, air mineral, minuman manis, masker, obat-obatan, vitamin, hingga pembalut tersusun rapi. Semua itu disediakan gratis untuk siapa saja yang menumpangi taksinya.

Bagi pria asal Pontianak yang merantau ke Surabaya sejak 2004 ini, pekerjaannya bukan sekadar menginjak pedal gas dan mengantar penumpang.

Sejak tahun 2018, Gudianto memilih melangkah lebih jauh dari balik kemudinya.

“Ini inisiatif saya sendiri. Sekarang saingan ‘kan banyak, jadi kita harus beda dari yang lain dan melayani dengan baik. Pelanggan itu nomor satu, kayak raja. Kalau ada jajan-jajan dan taksinya bersih, orang senang dan nyaman di dalam taksi,” ujar Gudianto kepada DAAI TV, Jumat (30/10).

(Makanan di taksi Gudianto. Dok. Pribadi)

 

Sering Dituduh ‘Orang Kaya Gabut’

Di media sosial, aksi Gudianto sempat viral hingga mengundang beragam tanggapan.

Tak sedikit wrganet yang berspekulasi kalau Gudianto adalah nasabah prioritas perbankan atau ‘orang kaya’ yang mengemudi taksi hanya untuk mengisi waktu luang. Menanggapi hal tersebut, Gudianto hanya tersenyum tipis.

“Kalau saya orang kaya, untuk apa saya kerja di taksi capek-capek dari pagi sampai malam? Rumah saja sampai sekarang kami masih mengontrak,” tuturnya.

Sejak memulai inisiatif ini, setiap minggunya Gudianto menyisihkan pendapatan pribadinya sebesar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu untuk membelanjakan persediaan makanan ringan dan obat-obatan di agen grosir.

Gudianto mengaku, ia memangkas pendapatan bersihnya sendiri untuk membeli makanan tersebut, di tengah perjuangannya menafkahi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

Bagi Gudianto, berbagi tidak harus menunggu berlimpah harta.

“Nggak perlu kaya baru berbagi. Kasih itu penting untuk semua orang, tanpa melihat suku atau agama. Kita hidup bukan tentang bagaimana kita menikmati hidup, melainkan bagaimana kita dapat berbagi sekecil apa pun. Di situlah letak kebahagiaan saya,” katanya.

 

Kebaikan yang Menular di Jalanan

Pelayanan yang tak biasa ini kerap membuat para penumpang terkejut. Tak jarang penumpang mengira taksi Gudianto adalah minimarket berjalan atau tempat jualan keliling.

“Waktu saya bilang ‘Silakan Bu, ini semua gratis’, mereka kaget dan tanya, ‘Bapak nggak rugi?’. Saya jawab, kita jangan bilang rugi, kita ikhlas. Berbagi itu indah,” kenang Gudianto.

Keikhlasan itu pun berbuah manis. Kebaikan kecil yang disemaikan Gudianto justru menular kepada para penumpangnya.

Setelah menggunakan jasanya, banyak penumpang yang hatinya tergerak hingga menitipkan uang tambahan dengan nominal Rp100 ribu hingga Rp500 ribu, untuk membantu Gudianto membeli persediaan jajanan bagi penumpang berikutnya.

Bahkan pejabat publik hingga tokoh masyarakat yang pernah menumpangi taksinya dibuat kagum oleh standar keramahan yang ia hadirkan.

(Pak Gudianto di depan taksi Bluebird. Dok. Pribadi)

 

Kesetiaan dalam Keluarga Besar Bluebird

Ketulusan Gudianto dalam melayani penumpang, sejalan dengan rasa setianya kepada tempatnya bernaung.

Setelah delapan tahun bergabung dengan keluarga besar Bluebird, Gudianto menegaskan bahwa ia enggan berpaling ke penyedia jasa transportasi lain.

“Saya sudah enjoy di Bluebird. Perusahaannya jelas dan besar, sudah puluhan tahun melayani masyarakat. Dan yang terpenting, ada program Purnabakti buat pengemudi yang masa kerjanya panjang. Tempat lain belum tentu ada kepastian seperti ini. Perusahaan peduli sama kita, makanya kita juga harus jaga nama baik Bluebird dengan melayani penumpang sebaik-baiknya,” tegas Gudianto.

Kesetiaan Gudianto mencerminkan nilai inti dari perjalanan panjang 54 tahun Bluebird Group.

Dari 25 unit armada pada tahun 1972 hingga kini mengoperasikan lebih dari 26.000 armada di berbagai kota di Indonesia, Bluebird tidak hanya membangun ekosistem mobilitas multimoda yang terintegrasi, melainkan juga merawat rasa kekeluargaan bagi ribuan karyawannya.

Direktur Bluebird Adrianto Djokosoetono menjelaskan, “Selama 54 tahun, kami belajar bahwa kepercayaan dibangun melalui konsistensi dalam setiap perjalanan. Dari kepercayaan tersebut, kami terus tumbuh bersama karyawan, mitra pengemudi, dan pelanggan, sambil terus beradaptasi.”

Bentuk kepedulian dan ikatan kekeluargaan tersebut diwujudkan Bluebird melalui berbagai jaminan, serta penghargaan apresiasi seperti Satya Lencana dan program Purnabakti.

Perlindungan dan rasa aman yang diberikan perusahaan inilah yang membuat para mitra pengemudi seperti Pak Gudianto dapat bekerja dengan tenang, loyal, dan sepenuh hati.

 

Dedikasi Tanpa Batas

Melayani lebih dari sekadar mengantar juga dibuktikan Gudianto saat masa-masa sulit pandemi COVID-19.

Di saat banyak orang merasa cemas, ia tanpa ragu membopong penumpang lanjut usia dan pasien sakit yang membutuhkan bantuan menuju rumah sakit.

Prinsipnya pun jelas, yakni menjaga kejujuran, keselamatan penumpang, dan performa diri yang selalu rapi sesuai standar ketat perusahaan.

Bagi Gudianto, menjadi bagian dari armada Bluebird adalah bentuk dedikasi hidup yang akan terus ia jalani hingga masa purnabakti tiba.

“Selama kita masih diberi kesehatan, jangan pernah lelah berbuat kebaikan dan jangan patah semangat. Kerja halal itu penting, dan yang terpenting adalah bagaimana kehadiran kita bisa menjadi berkat untuk banyak orang,” tutup Gudianto.

Melalui ketulusannya di jalanan Surabaya, Gudianto tidak hanya menebar kasih kepada sesama, tetapi juga membuktikan arti sejati dari perjalanan 54 tahun Bluebird, yakni di balik standar pelayanan yang aman, nyaman, dan terpercaya, ada hati yang tulus melayani melampaui sekadar jarak mengantar.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: